ArtJog 2016 – PT Freeport Indonesia Cubit-Cubitan

Sudah dua minggu ini, Artjog 2016 telah menjadi perbincangan ‘panas’ melalui polemik antara penyelenggara dengan PT. Freeport Indonesia sebagai salah satu sponsor acara seni yang digelar tiap tahunnya itu. Bagaimana tidak, PT. Freeport Indonesia (PTFI) sendiri dianggap telah ‘memborbardir’ habis Papua, baik pada konteks alam, maupun sosial- politiknya. Bahkan, warga Papua sendiri merasa ‘teralienasi’ di rumahnya sendiri karena dibatasi ruang geraknya dalam mengembangkan potensi mereka.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang dengan teman kuliah saya asli Papua, tepatnya di Kaimana. Saya sempat bercerita bahwa kantor rekan saya di Timika dibakar karena perang antar suku. Ia bercerita juga bahwa memang di Timika hampir setiap hari selalu ada perselisihan, biasanya yang berselisih bukan warga Papua, melainkan antar oknum warga pendatang. Hampir sama dengan cerita teman saya, rekan saya di Forum Lenteng sekaligus Pimpinan Redaksi Halaman Papua juga menceritakan kurang lebih hampir sama. Ia menuturkan bahwa Timika sudah ‘diambil alih’ oleh PTFI secara ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Di sana memang selalu ada pergesekan antar suku yang justru tidak ada keterlibatan warga Papua dan memang daerah tersebut merupakan pemukiman para pekerja tambang yang berasal luar daerah Timika. Masyarakat yang cenderung individualistis, namun tetap guyub hanya karena kesamaan daerah asal memunculkan masyarakat yang primordialistik di Timika. Belum lagi masalah kecemburuan sosial antar suku, walau begitu tetap saja warga asli Timika tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk sampai masyarakat yang moderat seperti suku- suku yang tinggal di Timika.

Secara emosional, saya memang tak pernah terhubung dengan Papua maupun PTFI. Penuturan rekan- rekan saya orang Papua menguatkan asumsi saya bahwa PTFI sudah melakukan tindakan eksploitatif di Papua dan keberpihakan dengan cara menentang PTFI di Artjog 2016 merupakan langkah yang menurut saya tepat. PTFI di Art Jog 2016 bukan satu- satunya pelaku tunggal yang patut kita tentang, Bank Mandiri salah satu contohnya.[1] Bank Mandiri menjadi salah satu investor terbesar yang mendanai PT. Semen Indonesia.[2] Beberapa waktu yang lalu, ibu- ibu dari Kendeng, Jawa Tengah mengejutkan kita semua dengan memasung kaki mereka dengan semen di depan Istana Negara. Setahun lebih sudah, mereka berjuang dengan menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia dan itu membuat saya merinding.[3]

Namun dalam konteks ini, saya menyadari keterlibatan PTFI dalam pendanaan ArtJog 2016 terlampau berlebihan, khususnya dari pihak penyelenggara sendiri tidak memberi tahu keterlibatan PTFI. Tidak sedikit dari seniman yang terlibat di ArtJog tidak mengetahui hal tersebut. Misalnya Ucup dari komunitas seni Taring Padi yang vokal menyerukan perlawanan terhadap ekspolitasi perusahaan tambang lewat karya- karyanya. Ia menuturkan kepada tempo.co[4] untuk mempertimbangkan menarik karyanya di ArtJog. Andrew Lumban Gaol dari komunitas street art Anti- Tank menyayangkan keterlibatan PTFI dalam perhelatan ArtJog yang kesembilan ini. Hal ini tercermin dalam posting-an mereka di Facebook.

ooo

Untitled

Pada kesempatan yang sama, saya mencoba menghubungi Andrew Anti- Tank via Whatsapp guna melihat perspektifnya. Ia menuturkan postingan yang dimaksudkan tidak bertujuan untuk menyerang seniman yang berpameran di ArtJog. Ia juga tidak memiliki proporsi untuk menilai ini baik atau buruk karena pada dasarnya ArtJog sendiri tempat ‘jualan’. Namun, ia merasa memang harus ada kepekaan tersendiri pada isu kemanusiaan apalagi dalam konteks ini ada beberapa seniman yang berpameran di ArtJog2016 yang mengusung tema kemanusiaan dan karya- karya tersebut akan menjadi omong kosong.

Kali Pertama

Beberapa bulan yang lalu sebelum gelaran ArtJog2016, kita “dikejutkan” dengan beredarnya video seniman peran dan penulis Butet Kartaredjasa yang menyatakan pujian kepada PT Freeport Indonesia. Menyaksikan video yang berjudul “#Kenal Freeport – Butet Kartaredjasa” ini memang membuat banyak orang mengerutkan kening, Karena sangat disayangkan sekali seniman sekelas Butet, yang selama ini dianggap banyak orang sebagai seniman yang kritis justru mengeluarkan peryataan yang tidak masuk akal dengan menganggap Freeport sebagai tambang yang tak merusak lingkungan. Aksi kecaman terhadap video tersebut terus didengungkan oleh para aktivis, seniman, dan masyarakat pada umumnya.

Rekan saya, Yonri asal Papua berkesempatan menelepon Butet Kertaredjasa pada saat itu, tepatnya pada hari Selasa, 26 Januari 2016. Pada kesempatan tersebut, Butet menceritakan pengalamannya dari mulai pertunjukan “Indonesia Kita” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Maret 2015 hingga bertemu PTFI dan berbincang dengan Maroef Syarifudin, Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia. Akhirnya pada Desember 2015, Butet bertandang ke Kabupaten Mimika dan melihat pertambangan Grasberg, pertambangan underground, Tembagapura, Kuala Kencana, Timika dan Pusat Penelitian Reklamasi MP 21.

“Di Grasberg, saya menerima penjelasan dari geolog kita, bahwa yang digali itu bebatuan gunung purba yang tidak subur. Di ketinggian 4.000 meter tak ada pohon kecuali batu, rumput dan tanaman perdu. Saya melihat semua itu di Grasberg. Dan saya juga menerima penjelasan, dari 1 ton bebatuan pasir yang dikeruk, kira-kira hanya akan dihasilkan 1 gram emas dan beberapa mineral lain. Saya tanya, lalu dikemanakan pasir-pasir itu? Dijelaskan kalau pasir itu untuk pengerasan jalan di kawasan pertambangaan, di Tembagapura, Timika dan direvitalisasi di bawah yang ternyata di MP 21 yang kami lhat di hari berikutnya.” Ujarnya.

“Di situlah saya gumun (kagum), heran, dengan proses teknologi, bagaimana bisa mengubah limbah pasir atau tailing yang semula tanpa humus tanah, pada akhirnya menjadi tanah yang mengandung unsur hara sehingga bisa ditanami. Tanah menjadi produktif. Saat itulah saya diminta komentar. Direkam hanya dengan smartphone, konon untuk dokumentasi kunjungan. Ya, secara spontan saya menyampaikan kesan itu, dalam konteks rehabilitasi tanah itu.” Tandas Butet.

“Gerakan Sadar Invasi”

Beberapa seniman Jogja sebenernya sudah melakukan usaha agar PTFI tidak mencampuri Artjog 2016, salah satunya seniman asal Jogja, Agung ‘Leak’ Kurniawan. Dengan penggalangan dana bagi masyarakat, ia berupaya untuk mengganti dana PTFI di Artjog.

Bagaimanapun upaya Leak untuk menjauhkan ruang seni dari apa yang dimaksud sebagai bentuk pengamplifikasian terhadap segala bentuk tindakan pelanggaran HAM patut kita apresiasi. Namun, hal ini kembali lagi bagaimana respon dari pihak penyelenggara yang dalam hal ini menentukan keputusan yang menurut saya cukup krusial. Terlebih lagi, hal yang saya maksud krusial ini adalah bagaimana memposisikan seni sebagai bagian dari tindakan dalam melawan ekspolitatif yang kita lihat PTFI sebagai pelaku utamanya.

Pada percapakan saya dengan Andrew Anti- Tank via Whatsapp, ia juga cukup mengapresiasi langkah tersebut, namun menurutnya tidak tepat sasaran. Apalagi pada kesempatan berbeda, ia sempat menanyakan kepada Leak tentang kemungkinan jika pihak penyelanggara tetap memakai PTFI sebagai pihak sponsor dan Leak menjawabnya dengan memberikan uangnya kepada warga Rembang atau yang lainnya. Walau begitu, tindakan tersebut menjadi tidak relevan dalam memberikan perlawanan terhadap segala tindakan atau bentuk HAM yang dalam konteks ini, PTFI. Seni setidaknya harus dimaknai sebagai bentuk dalam melawan hal- hal yang ekspolitatif dan dalam hal yang kecil, perlawanan itu harusnya ada di ArtJog 2016, baik para seniman menarik diri dari gelaran ArtJog ataupun masyarakat yang secara langsung memboikot gelaran tersebut karena bagaimanapun dengan kita diam hanya karena pihak penyelanggara tidak ada dana, tindakan tersebut justru mengiyakan bentuk- bentuk ekspolitasi.

Halaman Papua – Forum Lenteng, melihat ini seperti sebuah sikap yang kurang bijak, karena menurut kami seni dan gelaran acara kesenian apa pun, sudah semestinya memiliki pernyataan politis kepada publik. Maka dengan terpampangnya logo Freeport dalam gelaran ArtJog 2016, tentu itu dapat ditafsir sebagai sebuah peryataan bahwa ArtJog 2016 mengakui tindak ekspoitatif dan diskriminasi dari PT Freeport Indonesia. Berangkat dari dasar keyakinan kami bagaimana seni seharusnya, tentu kami tidak merestui aksi “cubit-cubitan” PT Freeport Indonesia dengan ArtJog 2016.

Sumber:

[1] http://www.yabsarpote.com/memoar/artjog-ruang-seni-di-era-kapitalisme-industrial-dan-fragmen-ruang-seni-alternatif diakses pada 18 Juni 2016 pukul 21.40.

[2] http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesia-mendapatkan-fasilitas-kredit-rptriliun-dari-bank-mandiri-2967 diakses pada 19 Juni pukul 20.23.

[3] http://www.rappler.com/indonesia/129199-ibu-kendeng-tanam-kaki-semen diakses pada 19 Juni 2016 pukul 21.30.

[4] https://m.tempo.co/read/news/2016/06/10/114778782/freeport-jadi-sponsor-seniman-peserta-art-jog-terganggu diakses pada 20 Juni 2016 10.40

 

Penulisan estafet, oleh:

Rayhan Pratama (Mahasiswa Kriminologi FISIP UI) dan Yonri Revolt (Penggiat Aktivisme Media Timika)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *