SEKOLAH DI BELAKANG MALL

“Nama saya Nison Uropdana asal Pegunungan Bintang, cita-cita ingin jadi menteri keuangan.” Sepenggal kalimat dari seorang siswa kelas VII SMP Santo Antonius Padua Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Nison berasal dari Pegunungan Bintang (Oksibil) dan sekarang tinggal di asrama putra Hawai, Sentani. Selain Nison, teman-temannya yang lain di SMP Padua pun ikut bercerita tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi astronot, kepala distrik, pastor, perawat, dokter, dan juga guru.

Tidak ada perasaan malu dan kaku mereka bercerita di depan kamera. Mereka ingin orang lain pun tahu akan cita-cita mereka. Hal yang selama ini mungkin terpendam ketika mereka masih berada di daerah asal, yakni pedalaman Papua. Rumitnya pendidikan di pedalaman Papua, seperti tidak hadirnya guru di tempat tugas dan juga minimnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan membuat cita-cita anak-anak pedalaman terpendam begitu saja.

 

 

Siswa-siswi SMP Santo Antonius Padua berasal dari daerah pedalaman Papua, seperti Pania, Asmat, Wamena, Oksibil dan Timika. Mereka tinggal di asrama putra Hawai dan asrama putri Polomo. SMP Padua baru dibuka tiga tahun silam, yakni tahun 2012. Tanggal 13 Juni 2015 mereka merayakan ulang tahun yang ketiga.

SMP yang terletak di belakang Mall Borobudur Sentani ini memiliki enam ruang kelas, masing-masing dua kelas untuk kelas VII, VIII dan IX. Kelas VII masih menggunakan ruang darurat, sementara kelas VIII dan IX sudah menempati gedung sekolah baru. Di samping itu, ada pula satu ruang guru dan dua ruang masing-masing untuk kepala sekolah dan sekretaris/bendahara yang digabung dengan koperasi. SMP Padua dibangun menghadap pegunungan Siklop agar terjadi ruang interaksi antara siswa-siswi dengan alam sekitarnya. Di halaman sekolah dibuat sebuah lingkaran yang diberi nama ‘Lingkaran Perdamaian’.

 

 

Pastor Jhon Kore, OFM, penggagas berdirinya SMP Padua mengatakan, “Lingkaran Perdamaian yang sementara ini masih dalam proses pengerjaan memiliki empat pintu mewakili empat penjuru mata angin. Sebagai simbol bahwa sekolah ini merangkul siapa saja yang berasal dari pedalaman Papua untuk belajar. Lingkaran Perdamaian akan menjadi tempat siswa-siswi memperoleh pangarahan dan bimbingan dari guru-guru. Pengalaman konflik di daerah asal seperti perang antarsuku bisa berpengaruh pada perasaan dendam antarsiswa. Di dalam lingkaran perdamaian mereka akan dipersatukan sehingga dapat melupakan konflik di daerah asal dan bersatu untuk belajar demi membangun Papua secara bersama.”

Pastor Jhon juga menyatakan tentang alasan mengapa ia menggagas berdirinya SMP Santo Antonius Padua.

“Pendidikan di Papua merupakan sebuah masalah yang paling pokok untuk diperhatikan, baik oleh pemerintah, gereja, maupun masyarakat. Karena dengan pendidikan, bidang kehidupan lain, seperti kesehatan dan ekonomi bisa berjalan dengan baik. Misalnya, soal ekonomi, jika seseorang berpendidikan baik maka ekonominya juga ikut baik. Ia akan berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu pula dengan kesehatan, jika orang dengan pendidikan yang bagus, ia akan mengatur kesehatannya dengan baik.”

 

 

 

Cerita Pastor Jhon mengingatkan saya akan dua bulan lalu, saat melakukan riset memproduksi filem tentang kesehatan di kota Jayapura. Pernah saya tulis dalam cerita berjudul “Seribu Hari Pertama Kehidupan” di halaman Papua. Tidak sedikit masyarakat yang belum paham akan pentingnya kesehatan. Banyak ibu-ibu hamil yang tidak memeriksakan usia kandungan secara dini dan enggan mengantarkan anaknya ke Posyandu. Selain itu, masih banyak lagi permasalahan lain terkait kesehatan. Bagi saya, masalah-masalah ini pun erat kaitannya dengan pendidikan.

 

vlcsnap-2015-05-15-12h48m04s184

 

Menurut Pastor Jhon, selama ia menjadi pengawas Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) di Keuskupan Jayapura, ia menemukan banyak masalah terkait pendidikan di pedalaman Papua. Masalah-masalah tersebut antara lain (1) Guru seringkali tidak ada di tempat tugas. Bahkan satu sekolah dasar hanya diajar oleh seorang guru. Bagaimana ia bisa mengatur waktu untuk mengajar enam kelas dalam sehari? (2) Tidak jarang guru baru mulai mengajar dua minggu sebelum ujian dimulai. Siswa-siswi yang mengikuti ujian diberi nilai bagus, naik kelas dan juga lulus. Ketika siswa atau siswi tersebut dites sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan seelanjutnya, mereka mengalami kesulitan karena tidak dapat membaca dan menulis dengan baik. (3) Sekolah berpola asrama di pedalaman tidak berjalan karena biaya operasinya tidak ada. (4) Guru mencari kerja sampingan, bahkan beralih profesi karena gaji tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Kebutuhan hidup dipenuhi dengan mengambil kredit konsumtif, gaji habis untuk membayar utang. (5) Murid tidak hadir atau tidak mengikuti pelajaran di sekolah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu karena siswa sering ikut orang tua mencari makanan. (6) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman  Kanak-Kanak (TKK) diabaikan, atau dengan kata lain, belum menjadi kebutuhan. Padahal, sebuah pendidikan yang baik harus dimulai sejak usia dini. Kurikulum Nasional tidak membumi di tanah Papua. Untuk melaksanakan kurikulum itu dibutuhkan kreativitas guru yang tinggi. Guru diberi pelatihan tetapi kadang yang dicari adalah nominal uang yang dapat diperoleh, bukan keahlian atau keterampilan mengajar. (7) Guru putra daerah yang seharusnya menjadi ujung tombak perubahan di masyarakat (di daerahnya) kerapkali tidak mampu memberi contoh dan kontribusi yang baik. Bahkan jarang mereka berada di tempat tugas untuk mengajar dan mendidik.

 

 

Masalah ini juga cukup lama dilihat oleh pastor Prof. Dr. Nico Syukur Diester, OFM. Oleh karena itu, ketika mendengar gagasan pastor Jhon Kore, OFM, untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak pedalaman Papua, beliau menyambut dengan sangat gembira. Pastor Nico mengatakan bahwa; “Sebenarnya saya sudah lama ingin meninggalkan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi – Fajar Timur (STFT-FT) untuk pergi mengajar di pedalaman Papua.” Pastor Nico juga menjadi salah satu tim pengajar di SMP Santo Antonius Padua.

Semoga dengan berdirinya SMP Santo Antonius Padua di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, anak-anak pedalaman Papua dapat memperoleh hak pendidikanya dengan baik. Selamat berjuang, semoga cita-cita kalian tercapai.

Written By

Yosep Levi lahir 23 Juni 1984 di Wodon, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Ia aktif di berbagai kegiatan sosial dan sering membantu rekan-rekannya di berbagai LSM. Kini ia aktif di program Media Untuk Papua Sehat, Kota Jayapura.

1 Comment

  • sebuah sekolah yg diawali dengan perjuangan air mata oleh mereka2 yg berkekurangan, namun peduli dengan pendidikan di Tanah Papua. Semoga Tuhan Memberikan anugrah yang berlimpah kepada semua pihak yg membantu sekolah ini. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *