Sampai Kapan?

Judul di atas adalah pertanyaan yang seringkali membuat saya sering termenung. “Sampai kapan” lagi-lagi muncul di kepala saya saat sedang memandang layar komputer di kamar bersama ini. Mengapa ya, hal-hal yang ditawarkan oleh sekolah menengah kejuruan sebagian besar mengacu pada industri?

11206136_406020616270606_5698657093978846609_n

Masih banyak anak usia sekolah yang mengambil sekolah jurusan karena tekanan orang tua, teman-teman, dan hal lain. Padahal, sebenarnya jurusan itu bukanlah jurusan yang mereka suka dan tidak sesuai dengan impian mereka. Dari hasil pengamatan saya selama lima tahun, hampir 70% siswa lulusan SMA atau SMK di Timika begitu lulus langsung bekerja di toko-toko atau langsung menikah. Tidah ada yang bergairah untuk memulai usaha sendiri, atau bekerja membangun masyarakat yang lebih baik. Anak-anak lulusan SMA atau SMK yang langsung menikah pun akan berhadapan lagi dengan masalah finansial, dan ini akan menjadi rantai yang susah terputus.

Pengetahuan anak didik juga sangat minim soal budaya. Mereka lupa akan budaya di mana mereka dibesarkan. Banyak juga yang tanpa saringan menginternalisasi budaya asing sehingga terjadi bentrokan nilai-nilai di masyarakat. Kalau anak muda Timika menjadi budak budaya asing dan budak para penguasa, Timika bukannya maju-jalan, tapi jalan di tempat saja.

Mungkin memang benar, bahwa hal yang harus dikritisi adalah kurikulum pendidikannya. Sekolah seharusnya tidak hanya mengajarkan untuk menjadi buruh kapitalis. Sekolah seharusnya juga menawarkan sesuatu yang lebih daripada itu, seperti kebudayaan, kedaerahan, kesenian, dan olahraga. Dengan begitu, tumbuhlah masyarakat Timika yang berbudaya. Anak-anak mudanya juga bisa berkarya sesuai dengan apa yang mereka mau sehingga bisa menyumbang untuk negeri ini. Dengan adanya desentralisasi dan otonomi daerah, seharusnya Timika bisa berkembang sendiri tanpa perlu terlalu mengikuti sistem Pemerintah Pusat karena banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan.

Written By

Fabian Kakisina, biasa dipanggil Fabian, lahir di Ambon, 30 Juli, 1991. Dia aktif di Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika sebagai Koordinator PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS). Pemuda yang bersatatus sebagai mahasiswa di Universitas Timika ini memiliki hobi berenang, bermain musik dan dance. Dalam kegiatan pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat ini, Fabian berperan sebagai salah seorang partisipan dan Koordinator Lokal di Timika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *