Mama Tagih Janji Jokowi, Audryne Karma Ingat Pesan Bapak

Suasana Halaman Kantor Lembaga Bantuan Hukum, di Jalan Diponegoro no 74, Menteng Jakarta Pusat, Jumat 4 Desember 2015, nampak sangat berbeda, di depan pintu masuk terbentang tulisan ‘Pasar Noken’. saat memasuki gerbang sudah tampak, instalasi pasar tradisional Papua lengkap dengan tiang-tiang bambu yang beratapkan tumpukan daun kering, belum lagi riuh suara Mama Mama yang berjualan, mulai dari berbagai kerajinan tangan hingga hasil bumi seperti sayur dan buah buahan. Kegiatan ini adalah salah satu upaya Mama Mama dalam menagih janji Presiden Joko Widodo, untuk segera mendirikan pasar permanen bagi Mama Mama pedagang asli Papua.

Suasana menjadi semakin syahdu saat musisi Papua memainkan alat musiknya, di mulai dengan tabuhan  gendang, disambut  petikan alat musik semacam gitar dan alat musik lainnya yang menghanyutkan suasana.Secara perlahan, kerumunan penonton berubah, mereka mulai berbaris sambil menggoyangkan tangan, badan, dan pinggul mereka secara serentak. Saya pun langsung merinding melihatnya. Ini pertama kalinya saya melihat tarian Papua secara langsung.Lagu pun berlanjut, hingga di satu sesi panitia memperkenalkan Audryne Karma. Ia merupakan putri dari Filep Karma yang merupakan mantan tahanan politik terkenal di Papua.

IMG_7345

Filep Karma sendiri divonis 15 tahun penjara atas pengibaran bendera Bintang Kejora pada tanggal 1 Desember 2004 sebagai tanda ulang tahun kemerdekaan Papua dari Belanda. Namun setelah 11 tahun ia menjalani pidana, ia dibebaskan pada 19 November 2015 silam oleh pemerintah Indonesia. Ia pun mengacu pada pidato yang disampaikan ayahnya, Filep Karma tahun 2004 di Biak. Pada pidato Filep Karma[1] yang berdurasi kurang lebih 10 menit itu, ia mengatakan pada seluruh pendukungnya bahwa masyarakat Papua harus sejahtera dan merdeka. Kemerdekaan ini dimaknai sebagai kebebasan dalam mengelola hasil sumber daya alam mereka sendiri serta kebijakan yang mengatur pengelolaan tersebut. Selama ini, adanya otonomi daerah pada tingkat kabupaten/ kota sampai gubernur tidak ditunjang dengan fasilitas dan pemilu yang demokratis.

IMG_7346
noken

Pada kesempatan yang sama, saya memang berkeinginan untuk membuat artikel tentang kebebasan Filep Karma. Maka dari itu setelah acara selesai, saya pun langsung berbincang dengan Audryne Karma. Dengan paras cantiknya, ia pun menyambut saya begitu ramah dan mempersilahkan saya duduk di antara dagangan mama- mama ini. Ia sadar bahwa perjuangan mereka (di Papua) tidak sendiri, maka dari itu ia sangat berterima kasih dengan diselenggarakan Pasar Noken ini.

“Karena saya sudah merantau lama ya. Saya merasakan kerinduan ya. Sudah lama saya jauh dari Papua. Lalu lihat ada tari- tarian dan seperti bertemu dengan keluarga begitu.” katanya.

Ketika ditanya apa yang ia lihat dari sosok Filep Karma yang juga seorang ayahnya, Audryne Karma melihat sosok ayahnya sebagai salah satu pejuang Papua yang diplomatis dan tidak menitikberatkan pada kekerasan atau pemaksaan. Filep Karma ingin merangkul berbagai kalangan, kelas, status, suku, dan lainnya untuk berjuang bagi kesejahteraan di Papua. Ia mempersilahkan siapapun yang ingin berjuang dan menyuarakan isu tentang Papua dan menganggap mereka sebagai saudara.

IMG_7344
Audryne Karma (Tengah)

Bagi Audryne Karma, hal tersebut menjadi pedoman dirinya dalam memperjuangkan dan memperpanjang suara dari masyarakat Papua di konferensi- konferensi Internasional. “Keinginan seorang Filep Karma dalam memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Papua hanya bisa ditempuh dengan berpisah dari Republik Indonesia”. Ia memahami bahwa perjuangan seorang Filep Karma tidak akan usai hingga Papua ‘merdeka’ dari Republik Indonesia dan masyarakat Papua bebas menentukan nasib mereka sendiri. Ia meyakini bahwa ayahnya tidak sepakat dengan apa yang telah dijanjikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2014 silam yang menjanjikan pasar yang layak untuk mama- mama karena pada akhirnya hal tersebut hanya janji tanpa adanya realisasi. Menurutnya apa yang dibuat pada pasar Noken ini menjadi semacam ultimatum bagi pemerintah untuk segera merealisasikan janji mengenai infrastruktur yang telah dijanjikan sebelumnya.

Pasar dan Mama- Mama

Mungkin bagi masyarakat yang hidup di perkotaan, khususnya di Jakarta, jarang sekali melihat tas Noken yang digunakan untuk kegiatan sehari- hari. Noken sendiri merupakan tas tradisional masyarakat Papua yang dianyam dengan serat kulit kayu dan dipakai di kepala. Biasanya, Noken dipakai oleh masyarakat Papua untuk membawa hasil- hasil pertanian seperti sayuran, umbi- umbian dan dagangan ke pasar. Secara kultural, tas Noken ini menjadi simbol kedewasaan bagi perempuan karena jika perempuan sudah biasa membuat Noken artinya ia sudah menjadi perempuan dewasa. Noken ini menjadi unik karena pada pembuatannya mama- mama di Papua inilah yang membuat tas tersebut sebagai simbol kehidupan, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat Papua, khususnya di daerah Pegunungan.

Sebagai tradisi dan juga budaya Papua, Noken tidak hanya dipandang sebagai kerajinan tangan, namun juga sebagai simbol perekonomian masyarakat Papua. Noken menjadi alat yang penting bagi perekenomian masyarakat Papua karena alat tersebut dapat mempermudah untuk membawa hasil pertanian mereka. Namun dengan adanya transportasi, hal tersebut akan mempermudah barang yang akan dibawa baik secara muatan maupun mempersingkat waktu. Apalagi dengan adanya para pendatang, menurutnya, justru semakin ‘menyingkirkan’ mama- mama di Papua karena pendidikan yang timpang, khususnya dari segi perekonomian. Pertumbuhan perekonomian masyarakat pendatang dengan masyarakat asli Papua pun berada dalam ketimpangan. Hal ini ditandai dengan pasar- pasar tradisional Papua tidak terfasilitasi dengan baik seperti tidak adanya lahan dan pendidikan yang layak. Padahal dari mama- mama dan pasar itulah roda perekonomian dimulai di Papua.

Kebebasan Filep Karma dan Berpendapat

Bukan hal yang sulit untuk dibedakan antara apa yang dilakukan oleh Filep Karma dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada tahun 2004 silam dan apa yang biasa dilakukan para buruh dengan mengibarkan bendera mereka di depan Istana Presiden. Hal ini semacam sebuah refleksi diri bagi pemerintah untuk segera berbenah diri dengan segera menyelesaikan masalah- masalah sosial politik yang ada di Papua. Mungkin seorang Filep Karma pun berada pada titik jenuh di mana dirinya memang harus memperjuangkan kesejahteraan bagi Papua.

Hal tersebut persis apa yang disampaikan juga oleh Audryne Karma yang menganggap bahwa penahanan Filep Karma tidak sah secara hukum dan diskrimintatif. Penahanan tersebut pun diakui sebagai penahanan yang ‘salah’ oleh UN Working Group on Arbitrary Detention. Tidak hanya itu, Human Rights Watch dan Amnesty international pun mendukung penolakan penahanan Filep Karma tersebut. Menurutnya, ayahnya tidak main- main dengan apa yang sedang ia perjuangkan. Otonomi daerah bukan lagi menjadi jalan keluar bagi masyarakat Papua. Hal tersebut justru dirasakan tidak merata dan praktek korupsi di pemerintah daerah sudah semakin membuat ketimpangan antara yang kaya dan miskin di Papua.

Pada Undang- Undang No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, merupakan hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang- Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak- Hak Asasi Manusia. Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku di Papua. Audryne mengatakan bahwa kebebasan berekspresi dan berpendapat di Papua sangat dibatasi. Mereka sangat dikekang dan tidak bebas dalam menyuarakan aspirasi mereka. Ia menginginkan kebebasan berekspresi di Papua semestinya dihargai dan diberikan ruang seluas- luasnya.

“….Seperti apa yang saya rasa pada orang- orang di Jawa. Kita Bebas ngomong apa aja, mengeluarkan pendapat, tapi itu yang tidak didapat oleh orang- orang Papua.” Ujar Audryne Karma.

ditulis oleh: Rayhan Pratama / Mahasiswa Kriminologi UI Jakarta.

[1] Youtube https://www.youtube.com/watch?v=ul-wT09p9Bc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *