Laporan Tiga Mama Tiga Cinta & Presentasi Hasil Riset Halaman Papua

Sabtu, 4 April 2015, filem Tiga Mama Tiga Cinta sukses di putar perdana, di Rumata Art Space, Makassar. Selain mengadakan pemutaran filem, Halaman Papua juga membuka diskusi yang memaparkan temuan lapangan terkait penggunaan media untuk sosialisai kesehatan di Papua dan temuan tersebut nantinya akan diolah menjadi buku.

IMG_3716

Tiga Mama Tiga Cinta merupakan salah satu dari tiga filem panjang yang diproduksi Halaman Papua yang bekerjasama dengan komunitas lokal di tiga lokasi dampingan Halaman Papua (Sentani, Jayapura dan Timika), dalam rangkaian lanjutan program pelatihan media untuk Papua sehat yang digagas Forum Lenteng yang bekerjasama dengan Kinerja-USAID.

Acara tersebut dibagi ke dalam dua sesi khusus, yang pertama adalah diskusi terbuka dan pemaparan buku Halaman Papua, yang diisi oleh Manshur Zikri (Periset, Penulis sekaligus Pengamat Media), Afrian Purnama (Periset dan Penulis), dan Firman Setyaji (Periset dan Penulis) serta tiga partisipan lokal dari Papua, yaitu Bernad Koten (Sentani), Lina Ningsih (Timika) dan Josep Levi (Jayapura).

IMG_3719

Tim dari Halaman Papua memaparkan temuan-temuan lapangan terkait kondisi kesehatan di Papua yang belum maksimal termasuk penggunaan media sosialisasi yang dipakai instansi kesehatan yang ada di Papua. Selain itu, partisipan lokal yang datang dari Papua juga membagikan pengalamannya selama terlibat dalam kegiatan pelatihan media untuk papua sehat kepada undangan yang hadir.

Usai melakukan diskusi dan pemaparan buku Halaman Papua, acara dilanjutkan dengan pemutaran Filem Tiga Mama Tiga Cinta, yang diproduksi oleh Forum Lenteng dengan komunitas Yoikatra di Timika, yang berdurasi sekitar 65 menit. Filem ini menceritakan tentang perjalanan tiga dari semesta perempuan Timika yang “membaktikan” dirinya untuk masyarakat, berangkat dari profesi yang berbeda, Perawat, Kader dan Konselor ini berusaha memberikan pelayanan kesehatan ideal dengan caranya masing-masing.

IMG_3720

Usai filem Halaman Papua, kembali membuka diskusi terkait filem yang diputar, kali ini yang bertindak sebagai “terdakwa” adalah Gelar Agryano Soemantri (fasilitator) dan Lina Ningsih (Partisipan Halaman Papua, Timika) mereka saling berbagi pengalaman saaat memproduksi Tiga Mama Tiga Cinta. Diskusi tersebut direspons dengan baik oleh para hadirin, yang terdiri dari Kinerja-USAID, mahasiswa, dan komunitas-komunitas lokal di Makassar sehingga diskusi bisa berjalan dengan aktif.

IMG_3714

Salah satu hadirin yang datang berbicara di forum tentang cara berpakaian orang Papua yang ada di dalam Filem Tiga Mama Tiga Cinta tersebut. Penanya tersebut mengatakan, bahwa bukankah akan lebih baik apabila si pembuat filem mengimbau orang yang tidak memakai baju tersebut untuk memakai baju demi kesehatannya sendiri. Namun, Gelar Soemantri menjawab, bahwa pembuatan filem dokumenter berfungsi untuk merekam kehidupan riil tanpa modifikasi apapun, sedangkan “pengimbauan” untuk menggunakan baju akan membuat bahasa visual pada filem menjadi artifisial. Idealnya, karya dokumenter adalah suatu bahasa yang memicu refleksi dan pemikiran kritis dari penonton. Realitas yang ditangkap apa adanya, tanpa direksi dari pembuat filem, justru akan menghadirkan suatu sudut pandang penilaian dari penonton terhadap realitas itu sendiri. Dengan kata lain, penilaian suatu keadaan yang benar atau salah diserahkan sepenuhnya kepada penonton. Filem dokumenter dalam hal ini berposisi sebagai pemicu, bukan tontonan yang menggurui.

IMG_3713

Kemudian, penanya selanjutnya menanyakan tentang etika berbicara seorang perawat di dalam filem yang bertanya kepada pasiennya, “Anaknya yang hidup berapa?”. Penanya menyatakan, bahwa hal itu tidak etis untuk ditanyakan. Namun, Multi Stakeholder Forum Makassar yang juga hadir dalam Sosialisasi Riset Lapangan ini memberikan pendapatnya, bahwa menanyakan jumlah anak yang hidup merupakan SOP dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan.

Pemutaran filem dan aktifnya diskusi yang terjadi tersebut membawa harapan ke depannya agar sistem kesehatan di Papua, dan terlebih Indonesia, dapat berubah ke arah yang lebih baik dengan menggunakan strategi bermedia yang baik.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *