Komunitas Yoikatra Tayangkan Filem Tiga Mama Tiga Cinta di Timika

Penayangan Filem Dokumenter Tiga Mama Tiga Cinta berlangsung di Ballroom Cenderawasih Hotel 66, Jl. Cendrawasih, Timika pada hari Jumat, 5 Juni 2015, pukul 10.30 WIT. Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Yoikatra dengan dukungan Kinerja-USAID. Filem yang ditayangkan merupakan hasil karya kolaborasi Forum Lenteng dan Komunitas Yoikatra melalui Program Media Untuk Papua Sehat: Halaman
Papua. Acara diawali dengan pembukaan dari pembawa acara, Liza Mitriani Salu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Local Health Governance Specialist (LHGS) Kinerja Timika, Ibu Lince Yembise. Di akhir sambutannya, Ibu Lince mempersilahkan panitia untuk memutar video Tangisan Pertama Obed yang berdurasi 4 menit sebagai pengantar tujuan diadakannya kegiatan ini. Setelah sambutan dan pengantar dari LHGS Kinerja Timika, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Bapak Yohanis Basang, SE, M.Si.

4

“Untuk membuat bayi menangis itu tidak mudah, butuh kerja keras dari banyak pihak termasuk pemerintah. Karena kalau daerah kita ini berhasil, bupatinya pun bisa dikatakan berhasil dalam menjalankan pemerintahan. karena yang menjadi sorotan utama di waktu mendatang itu pasti bupatinya,” tegas Pak Wabup dalam sambutannya.

“Tapi, masyarakat pun harus turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan tersebut. Baik dari segi kontrol maupun dari segi turut membantu si penyelanggara. karena membuat seorang bayi lahir ke dunia
ini tidaklah mudah. Tangisan pertama bayi saat mereka lahir, itu adalah hal terindah yang akan dirasakan oleh setiap orang tua. Apalagi bagi kaum bapak, jangan hanya ‘tahu bikin’ saja,”

Kalimat Pak Wakil Bupati di akhir sambutannya itu membuat para hadirin tertawa. Memang kelakar yang disampaikan Pak Wakil Bupati terdengar biasa saja, tapi itu merupakan kritikan bagi banyak pihak yang saat ini
mengabaikan fungsi peran serta dalam mendorong kemajuan pelayanan publik, yang dalam hal ini dikhususkan pada bidang kesehatan. Setelah kurang lebih 10 menit memberi sambutannya, Pak Wakil Bupati pun membuka acara dengan memukul tifa.

3

Selanjutnya, Liza menyampaikan sedikit cerita dari filem yang akan ditayang. Filem Tiga Mama Tiga Cinta  tayang dengan durasi 60 menit berkisah tentang tiga perempuan Timika yang mengabdikan hidupnya dalam pelayanan kesehatan di Kabupaten Mimika. Di dalam filem terpapar bagaimana perjuangan tiga perempuan Timika dan perempuan-perempuan lain yang berjuang memajukan pelayanan kesehatan di daerah mereka. Mulai dari membantu tanpa mengharapkan imbalan sampai harus berjalan kaki untuk melayani masyarakat di Kampung Limau Asri. Juga terlihat adegan bagaimana sempitnya Puskesmas Pembantu (pustu) Iwaka kala posyandu diadakan. Dalam menyaksikan filem ini, terlihat beberapa kali penonton tertawa melihat adegan jenaka yang ada di dalam filem.

Pukul 12.30 WIT, Ibu Lince memandu peserta dalam forum diskusi. Pembicara dalam diskusi terdiri dari Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Bapak Saiful Taqin; Narasumber Filem, Ibu Martha
Pusung dan Ketua Komunitas Yoikatra, Yonri Soesanto Revolt. Beberapa tanggapan dan kritik pun mulai dilontarkan penonton terhadap narasumber. “Alur cerita filem ini tidak beraturan. Banyak cerita yang
seharusnya disusun dengan baik untuk membuat penonton paham akan isi ceritanya.” ujar Mas Ud dari SKH Radar Timika.

2

“Pemerintah jangan terlalu menggampangkan pelayanan kesehatan di Papua. Harus lebih pro-aktif dalam menjalankan pelayanannya dan memperhatikan kekurangan yang ada.” kata Mozes seorang pemuda Mimika.

Namun ada juga apresiasi seperti dari Kak Sabina, “Saya suka cara kalian mengemas filem.” Staf Bidang Komunikasi dan Informatika di Yayasan Peduli AIDS Timika (YAPEDA) ini mengatakan bahwa filem dokumenter yang diputar beda dengan penyajian filem dokumenter pada umumnya. “Kalian tidak takut bereksperimen dalam menampilkan audio-visual dan hasilnya sangat menarik.”

Bapak Saiful Taqin mengatakan bahwa layanan kesehatan di Mimika bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan. “Tadi terlihat bagaimana pelayanan posyandu dijalankan di tempat yang begitu sempit. Hal yang disayangkan adalah masyarakat seakan tidak turut mendorong memajukan pelayanan ini. Padahal posyandu itu dari, untuk, dan oleh masyarakat, posyandu itu milik masyarakat. Saya memberikan apresiasi kepada para pembuat filem dimana sudah berinisiatif membuat suatu usaha sosialisi yang juga merupakan tindakan preventif dan promotif terhadap layanan kesehatan.” Kata Pak Saiful.

PicsArt_1433547869878

Acara berakhir pada pukul 14.30 WIT dan ada pertanyaan dari Yonri terkait pembangunan fisik Puskesmas Limau Asri yang kemudian dijawab oleh Pak Saiful: “Tahun ini pembangunan gedung baru untuk Puskesmas Limau Asri akan direalisasi, kemungkinan bulan depan sudah mulai jalan.” Pak Saiful juga berpesan pada pembuat filem untuk lebih memperhatikan tata bahasa penyajian filem agar filem lebih menyentuh masyarakat sebagai penerima layanan. Ada juga apresiasi sekaligus pesan dari Bidan Mala, Staf KIA Puskesmas Timika. “Saya suka filemnya, itu menggambarkan realitas kami, petugas kesehatan di lapangan. Mungkin di waktu mendatang, kami dari Puskesmas Timika juga boleh dibuatkan satu filem seperti ini sebagai bahan sosialisasi ke masyarakat.” Yang disayangkan dalam pemutaran ini adalah Pak Wakil Bupati tidak menonton filem tersebut sampai pada akhir dikarenakan ada tugas di lapangan yang harus beliau kerjakan.

Written By

Yonri Soesanto Revolt, biasa dipanggil Yonri, lahir di Makassar, 25 Januari, 1992. Selain sebagai anggota PILA, Yonri juga merupakan pendiri Infiniti (Ikatan Film Indie Timika), yang juga berada di bawah naungan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika. Yonri memiliki hobi bermain musik, dan memiliki group band bernama Nolimits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *