Gara – Gara Freeport

Saya sendiri bukan orang Papua, saya juga tidak pernah singgah ke Papua. Saya hanya dapat melihat dan mendengarnya, mulai dari semesta keindahan alam dan peristiwanya dari berbagai buku, media sosial dan internet. Bukan hanya itu saja, saya bahkan terpesona ketika Persipura bermain sepak bola, karena mentalitas juaranya yang lebih dari Tim Nasional Sepak Bola Indonesia, skill para pemainnya,dan gaya permainannya Persipura yang hampir serupa dengan gaya sepak bola tim-tim besar Eropa. Saya juga menikmati mop Papua, yang menurut saya, mop (humor ala Timur) bukan hanya sebagai candaan/humor saja, humor ini bersifat ‘historik-aktual’  dari budaya bertutur masyarakatnya, untuk merekam dan membahasakan kembali fenomena  sosial-budaya masyarakat Papua.

Papua itu menakjubkan. Singkat cerita, tanpa basa-basi, Papua itu indah, Papua itu kaya, dan Papua itu hebat. Tidak perlu lagi cerita yang bertele-tele untuk mengungkapkan indah, kaya, dan hebatnya Papua. Akan tetapi, jika kita ingin melihat lebih ke dalam lagi mengenai Papua, tentu kita harus berani mengusap dada, menahan emosi, karena kondisi Papua saat ini. Kondisi yang malah Papua sendiri yang menjadi korbannya. Kondisi yang malah orang-orang luar yang merusak Papua.

Adalah Papua, dengan hasil bumi berupa sumber daya alam yang sangat kaya. Hingga pada saat pemerintahan Orde Baru, karena kekosongan kas negara saat itu, pemerintah “menjual” Papua ke Amerika Serikat, dengan harga yang tak seberapa. Hingga saat ini, maka hadirlah PT. Freeport Indonesia di Bumi Papua, dibawah perusahaan PT. Freeport-Mc Moran Copper & Gold Inc. Katanya, itu adalah perusahaan tembaga, emas, dan perak terbesar di dunia. Perusahaan tambang yang besar itu hanya membagi sahamnya menjadi tiga. Tentu saja, PT. Freeport-Mc Moran Copper & Gold Inc mendapat bagian lebih besarnya. Imbasnya, pemerintah Indonesia hanya memiliki saham paling kecil. Katanya pula, hasil tambangnya tidak diolah di Indonesia.

Jadi ketika hasil tambang yang masih mentah itu berhasil didapatkan dari tanah Papua, semuanya langsung dikirim menggunakan kapal. Mungkin untuk diolah di Amerika Serikat, sehigga keuntungan terbesar, lagi-lagi didapatkan oleh Amerika Serikat. Presiden PT. Freeport Indonesia memang orang Indonesia, tapi dia bukan orang Papua. PT. Freeport Indonesia juga masih dimiliki oleh perusahaan Freeport-McMoran & Gold Inc. Nah, Freeport-McMoran & Gold Inc pemiliknya malahan bukan orang Indonesia, apalagi orang Papua. Pemiliknya merupakan orang Amerika Serikat. Singkat kata, dengan sedikit berlogika, Freeport bukan milik Indonesia, bukan milik Papua.

Freeport “Menembak Jantung Cendrawasih”

Tentu Freeport adalah buah Orde Baru. Sebab, Freeport lahir ketika Orde Baru berhasil menancapkan kukunya. Sudah dari tahun 1967 ketika Ertsberg pertama kali ditemukan. Ketika itu pula, seiring berjalannya waktu, Suku Amungme “dipaksa pindah tempat” demi kegiatan eksplorasi berlebihan di Papua itu.

Dimana-mana, apa yang disebut dengan tambang sangat tidak baik untuk lingkungan. Termasuk penambangan yang terjadi di Freeport. Dan bukan barang baru isu penambangan Freeport merusak alam Papua. Lihat saja lubang besar yang ada di Timika. Hasil eksplorasi kegiatan tambang. Mereka menyebutnya Ertsberg, tempat Freeport menambang. Jika dilihat dari atas, pulau kepala burung itu seperti terkena tembakan, tepat di jantungnya.

Belum juga tembakan pertama sembuh, tembakan kedua sudah terjadi, juga tidak juah dari Ertsberg. Lagi-lagi, pulau kepala burung, tertembak di jantungnya. Kali ini, diamternya jauh lebih besar dari Ertsberg. Mereka menyebutnya Garsberg, tambang kedua Freeport di Indonesia yang bisa dilihat secara kasat mata melalui peta digital di internet.

Matinya sungai Aijkwa, Aghawagon, dan Otomona seakan menjadi bukti kegiatan merusak Freeport.[i] Padahal kita semua tahu, sungai-sungai di Papua merupakan unsur penting dalam kehidupan mereka. Sebab, sungai-sungai di Papua masih sering digunakan dalam kehidupan berbagai macam suku-suku asli di Papua. Bukan hanya manusia, segala macam tumbuhan dan binatang, bahkan binatang dan tumbuhan yang langka, juga menggunakan sungai menjadi salah satu unsur kehidupan bagi mereka. Ancaman terbesar mungkin dirasakan oleh mereka yang tinggal di Taman Nasional Lorentz. Sebab, lokasi taman nasional itu berdekatan dengan aktivitas “merusak alam” PT. Freeport Indonesia.

Ancaman itu berbentuk tailing (limbah) yang dibuang oleh PT. Freeport Indonesia di bagian barat Taman Nasional Lorentz.[ii] Jelas pembuangan limbah tersebut memberikan dampak pada perubahan keadaan ekologis pada hamparan hutan yang ada di taman nasional. Oleh karenanya, ketika ekologis hutan yang berada di taman tersebut berubah, tentu saja hal ini akan turut merubah seluruh aspek kehidupan makhluk hidup yang menempati hutan tersebut.

Freeport Merusak Moral

Sebelum menulis ini, saya mencari referensi di wikipedia mengenai Freeport. Dalam kontennya, hampir semuanya berisi hal positif mengenai Freeport. Mungkin saja, konten di wikipedia itu merupakan buah karya dari pihak Freeport. Mungkin, Freeport harus melakukan itu. Lihat saja, hampir semua berita mengenai Freeport, pasti memberitakan hal-hal yang negatif mengenai Freeport. Dari mulai merusak alam di sekitar lokasi tambang, para pekerjanya yang tidak terjamin, dan masih banyak lagi. Mau-mau tidak mau, Freeport menggunakan peran media, wikipedia salah satunya, untuk membuat nama Freeport yang negatif menjadi positif, mungkin begitu pemikiran mereka. Jika begitu, secara tidak sadar, media yang digunakan, mau dirusak moral dan etikanya oleh Freeport, demi menjaga nama baik PT. Freeport Indonesia.

Freeport itu perusahaan tambang yang militeristik. Bisa dibilang hubungan Freeport dengan polisi atau dengan militer begitu dekat. Sebab, Freeport “menggunakan” aparat Indonesia untuk mengamankan daerah tambangnya. Katanya demi keamanan, Freeport sampai harus menyiapkan anggaran tersendiri untuk “merekrut” personil keamanan dari aparat Indonesia, baik polisi atau bahkan militer. Dananya mencapai 126 milyar perbulannya.[iii] Oleh karena itu, aparat Indonesia, bahkan militer juga turut serta, harus menembaki warga negaranya sendiri demi menjaga perusahaan tambang Amerika Serikat. Dari semua hal itu, masih ada satu hal yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, mengapa Maroef Sjamsoeddin yang bekas militer dan mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara ditunjuk oleh James Moffett untuk menjadi presiden direktur di Freeport?[iv]

Freeport itu merusak moral Indonesia, parahnya mereka juga merusak moral anggota dewan di Jakarta. Setya Novanto, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, diduga ingin sedikit hasil Freeport masuk kantongnya. Bahkan demi keberhasilan rencananya, ia harus menggunakan nama Presiden Indonesia.[v] Ini merupakan dampak kerusakan paling parah dari PT. Freeport Indonesia. Jika kasus catut-mencatut ini benar adanya, tentu hal ini sangat tidak etis. Harusnya kepala Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menyampaikan aspirasi masyarakat Papua di tingkat pusat, bukan malah ikut ambil bagian dari perusahaan tambang yang merusak Papua. Jadinya, kerusakan di Papua juga turut dilakukan oleh oknum-oknum dari pusat Indonesia.

Drama Kelompok Elit di Media Massa dalam Lihatan Kriminologi

Freeport akrab dengan media massa. Semua hal mengenai Freeport merupakan isu seksi untuk media massa. Mulai dari tindak kekerasan, penembakan, dan pelanggaran hak asasi manusia, jika semuanya mengenai Freeport, pasti menjadi sasaran empuk media massa. Bukan hanya tindak kekerasan, jika ada orang dengan status yang tinggi masuk dalam isu negatif Freeport, tentu hal itu menjadi sasaran pemberitaan media massa. Apalagi isu rekaman Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indoneisa mencatut nama presiden dan wakil presiden untuk minta bagian saham. Hal itu termasuk nilai berita, mulai kekerasan yang terjadi di Freeport sampai catut-mencatut nama pejabat publik. Nilai berita berhubungan dengan keuntungan, sebab media massa pasti mengejar keuntungan dengan melihat daya tarik masyarakat akan isu mengenai Freeport yang sedang berkembang. Sehingga, semua yang dikatakan oleh semua oknum mengenai Freeport, pasti menjadi hal yang penting bagi media massa. Yang menjadi masalah adalah semua perkataan oknum itu malah menjadi drama di media cetak atau media elektronik.

Berita catut-mencatut nama seperti memberikan tontonan pada kita mengenai pejabat yang bermain drama. Tentu saja dengan media massa menjadi panggungnya. Ada yang menuduh, ada yang berkilah, ada pula yang saling mendukung atau bahkan berkelahi karena beda dukungan. Lihat saja akting Setya Novanto, ketika dia berkelit dalam mencatut nama presiden dan wakil presiden. Sampai pada akhirnya Novanto,harus bertemu dengan wakil presiden, yang namanya dicatut. Persis kisah anak kecil mengadu kepada orang tuanya ketika tertimpa masalah, memohon bantuan untuk menyelesaikan masalah. Mau tidak mau, Jusuf Kala menjadi orang tua. Sebab, Jusuf Kalla – mantan Ketua Umum Golkar – langsung memberikan nasihat soal kejujuran.

Walaupun demikian, Setya Novanto tidak sendiri. Sebab banyak dukungan dari kalangan petinggi ada di belakangnya. Di persidangan Novanto juga tidak sendiri, sebab ada anggota MKD yang juga membantunya. Mungkin saja, teman-teman yang mendukung Setya Novanto ingin mendapatkan “jatah” dari yang adil dari kasus “papa minta duit.” Oleh karenanya sidang MKD, yang tadinya terbuka malah menjadi tertutup untuknya. Toh, masyarakat hanya ingin transparansi, bukan saham dari Freeport yang sepertinya sangat sulit untuk dimiliki.

Media massa juga mau berbesar hati menjadikan dirinya sebagai panggung bagi pejabat. Lihat saja ketika Fadli Zon dan Ruhut Sitompul berdebat dalam Mata Najwa di Metro TV mengenai pro dan kontra pejabat publik bertemu dengan pengusaha. Tentu saja, Metro TV yang bahagia dan malah masyarakat Indonesia yang menderita, terlebih Papua. Kita seperti melihat drama antara pejabat publik saling tuding di media massa, tanpa jelas bagaimana kelanjutannya. Di sisi lain, Sudirman Said tidak langsung aman begitu saja, walaupun dia mengadukan Setya Novanto kepada Mahkamah Kehormatan Dewan. Malahan saat ini, Setya Novanto melaporkan dirinya karena pencemaran nama baik melaui rekaman itu.

Yah, intinya kita terus disajikan tontonan drama dari pejabat pusat mengenai kasus Freeport. Akan tetapi masyarakat harus sadar, semua kegaduhan pejabat di pusat malah membuat PT. Freeport Indonesia memiliki perpanjangan waktu untuk menjalankan kewajiban mereka, juga mengulur waktu demi persiapan pembahasan kontrak karya. Jangan status Setya Novanto, permainan drama antar pejabat, dan kisruhnya sidang MKD malah membuat perhatian kita teralihkan dengan isu yang menurut saya lebih utama, yaitu pembahasan kontrak karya. Tidak bisa kita pungkiri lagi, kontrak karya PT. Freeport Indonesia dengan pemerintah Indonesia berhubungan dengan masa depan Indonesia, terlebih masa depan Papua.

Freeport merupakan hasil dari sistem ekonomi kapitalistik yang hanya dapat dikuasai oleh orang-orang tertentu. Tidak dapat kita pungkiri, Freeport (beserta para petingginya) sudah menjadi rulling class di Papua, atau bahkan di Indonesia. Bagi mereka yang tidak produktif atau malah merugikan Freeport dianggap sebagai bentuk kejahatan. Perilaku yang tidak produktif dan merugikan, memberikan alasan pada sistem ekonomi kapitalistik untuk berbuat merugikan kepada masyarakat.

Kehadiran Freeport di Indonesia memang membuat banyak perubahan, khususnya di Papua. Ada yang positif memang, tapi banyak yang negatif, seperti lihatan yang coba saya sampaikan di paragraf sebelum ini, mulai kerusakan lingkungan sampai dengan pelanggaran hak asasi manusia. Dampak yang paling merusak adalah kerusakan moral yang malah dialami oleh para pejabat publik pada pemerintahan pusat di Jakarta. Sebagai masyarakat, kita hanya dibuat menonton saja oleh pejabat, media, dan oleh PT. Freeport Indonseia itu sendiri. Kita layaknya masyarakat yang diberikan panggung hiburan secara gratis, padahal kita juga menerima dampak paling besarnya, atau malah menjadi korban karenanya.

Ditulis oleh:

Andreas Meiki Sulistiyanto ( Mahasiswa Kriminologi UI)

 

[i] http://www.kompasiana.com/tikadianpratiwi/pengelolaan-limbah-tailing-sebagai-perwujudan-freeport-membina-hubungan-baik-dengan-pemerintah_54f8916aa33311b1158b4584

[ii] http://www.kompasiana.com/bobobladi/kebobrokan-freeport-pencemaran-lingkungan-pelanggaran-ham-perusaan-emas-terbesar-di-indonesia_5519c8bca33311a61bb6595c

[iii] http://fokus.news.viva.co.id/news/read/259426-berapa-harga-sewa-aparat-oleh-freeport-

[v] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151117_indonesia_freeport_setyanovanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *