Dongeng Boris dan Santoso

Mereka berlarian, saling mengejar satu kelompok dengan kelompok yang lain.
Ya, pemandangan saling kejar mengejar di sore hari itu terjadi tepat di depan rumah Pak Boris dan Ibu Ratna. Bersama dengan dua orang putrinya, Febi dan Harin, pasangan suami istri itu mengintip aksi warga itu lewar sebuah celah sempit di tembok rumah mereka yang terbuat dari papan. Kerusuhan ini bukanlah kali pertama dialami oleh keluarga Pak Yohanes dan warga sekota. Kejadian saling lempar-melempar batu, ayun-mengayun parang, sampai panah-panahan, merupakan hal yang seakan kini sudah menjadi sebuah festival rutin selepas pertengahan tahun.

Keseriusan sekeluarga itu berhenti, tatkala terdengar suara seseorang sedang mengetuk pintu rumah mereka. “Ssst, jangan berisik, semua diam ya.” Bisik Pak Boris kepada semua anggota keluarganya.
“Pak, ini saya, Santoso, tetangga bapak. Tolong buka pintu, pak. Saya takut…” Suara dari balik pintu.
Pak Boris pun langsung mengenali suara cempreng dengan logat bugis yang kental, milik tetangganya itu.
“Astaga, Pak Santoso, kau ini membuat saya takut saja. Saya kira siapa.”
Sembari berbisik, Pak Boris membuka pintu belakang rumahnya dengan hati-hati. Dengan cekatan, Pak Santoso pun memasuki rumah. Pria itu masih menggunakan sarung dan kaos oblong berwarna putih. Agaknya pria itu terburu-buru bergegas ke rumah Pak Boris sampai- sampai ia tidak mempedulikan pakaian yang ia kenakan.

“Bapak kenapa?” Tanya Pak Boris pada Pak Santoso.
“Aduh saya takut di rumah sendirian. Istri saya belum pulang dari Umroh, dan anak-anak saya sedang di luar kota semuanya.”
“Aih… Pak Santoso kayak baru alami keadaan seperti ini saja. Saya kira hal ini sudah seperti makanan sehari-hari bapak.” Guyon Pak Boris yang berusaha menghibur tetangganya itu.
“Aduh Boris, biarpun sudah sering, tapi rasa takut ini tetap ada.” Jawab Pak Santoso yang sembari mengusap keringat di dahinya.
“Kios sudah kau tutup?”
“Sudah, memangnya siapa yang mau buka kios dalam keadaan begini?”
“Hahahaha Pak Santoso. Kau bisa saja.”

Diskusi kedua pria itu tiba-tiba berhenti ketika terdengar rentetan suara tembakan dari luar rumah. Rupanya di luar sana, pasukan polisi sedang melepaskan gas air mata serta tembakan peringatan ke arah warga, namun hal itu seakan tidak dihiraukan oleh warga yang sedang bertikai itu.
“Katanya tadi massa bakar pos pengamanan polisi sama sebuah Bendera Merah Putih, betul kah Boris?”
“Aduh, saya tidak tahu itu. Dari tadi saya sama keluarga diam dalam rumah saja.”
“Iya, saya juga dengar dari ini orang yang saya ketemu di belakang rumahmu.”
“Saya kurang paham itu, tapi yang saya tahu, kejadian ini buntut dari tertembaknya dua orang warga oleh aparat kepolisian.”
“Wah, benar kah? Masa ada aparat tembak warga?”
“Iya, ini juga saya dengar dari bisik tetangga sebelah. Kejadiannya itu sekitar jam tujuh malam. Ada pemuda namanya Jono, dia dengan Brian bersama kawan-kawan yang lain sedang duduk-duduk di bawah tiang tower. Tiba-tiba polisi menggunakan mobil patroli masuk di kompleks dan mengepung salah satu rumah warga. Mereka tanya warga setempat, katanya dimana anak-anak yang bikin kacau di sini, tetapi memang karena situasi di kompleks itu masih aman-aman, akhirnya mobil patroli yang tadi pergi dan parkir di salah satu rumah warga lainnya dan bertanya-tanya di situ. Lalu ada warga yang lapor ke polisi bahwa anak-anak itu selalu bikin kacau di sini dan orang tuanya adalah anggota salah satu gerakan masyarakat.”

Bah, apa hubungannya dengan orang tuanya anggota gerakan masyarakat?”
“Sabar dulu Santoso. Saya sedang cerita ini.”
“Oh iya, sorry.”
“Nah, sepuluh menit kemudian anggota kepolisian menggunakan tiga mobil dalmas, lima mobil biasa, dan sekitar lima belas motor masuk dan mengepung kompleks. Semua titik di kuasai oleh polisi. Saat itu, karena polisi sedang melakukan pengerebekan, akhirnya Jono takut dan lari ke arah hutan untuk bersembunyi. Ternyata di tengah jalan itu dia bertemu dengan para anggota polisi. Polisi itu langsung menggunakan pistol peredam dan menembak mati Kaleb. Sedangkan temannya Efrando tertembak di bagian dada dan kaki.”
“Aduh, kenapa bisa begitu ya? Masa tidak ada alasan logis dari polisi sampai harus menembak mati si korban?” Tanya Pak Santoso dengar wajah mengkerut.
“Nah itu dia Santoso. Makanya massa mengamuk sampai bakar pos, bendera, hingga membakar rumah.”
“Belum larut kasus penembakan yang dilakukan oknum tentara, sekarang sudah ada lagi penembakan oleh oknum polisi.” Sambung Pak Santoso meneruskan kata-kata Pak Boris.
“Yang lebih miris, korban kali ini anak ingusan. Masih tujuh belas tahun loh…” Bisik Pak Boris ke telinga Pak Santoso.
Keduanya diam, seakan kalimat terakhir Pak Boris itu menimbulkan kegelisahan di antara mereka berdua. Pandangan mereka lurus ke arah dinding papan bercelah itu.

Di luar rumah terlihat pihak kepolisian menurunkan satu satuan setingkat kompi pasukan khusus kepolisian untuk mengatasi aksi warga yang semakin panas itu. Situasi bahkan semakin memanas, saat warga yang menjadi korban pembakaran melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam terhadap massa yang menjadi korban penembakan aparat. Ketika suasana bertambah panas, sekumpulan pasukan berpakaian loreng tampak bergerak ke arah massa. Ya, sampai-sampai tentara harus diturunkan untuk mengatasi panas di sore menjelang malam ini.
“Saya heran setiap tahun pasti saja selalu ada kerusuhan. Pasti ada-ada saja isunya, mulai dari gerakan masyarakat-lah, gesekan antar warga kampung, polisi, tentara, aduh… Kurang SATPOL PP saja, maka kota ini akan seperti filem-filemnya Arnold Schwarzenegger” Kata Pak Santoso yang kembali mengajak Pak Boris untuk ngobrol.
“Hahaha… kau benar juga Santoso. Tapi mau bagaimana, semua itu kan kembali pada proyek toh…” Tandas Pak Boris.

Kedua pria itu tidak menyadari bahwa sedari tadi istri dan anak-anak Pak Boris asik memperhatikan obrolan mereka.
“Aduh Febi, kau sama adikmu itu belum mengerti arti perbincangan semacam ini, mending kau pergi baca-baca buku tata surya, tata boga, atau tata rias saja sana. Biar besok jangan jadi pedagang kayak bapakmu dan saya ini.” Tegur Pak Santoso yang diselingi humor kepada anak Pak Boris itu.

Ibu Ratna yang dari tadi hanya diam saja mendengarkan kemudian menawarkan mereka kopi, “Melihat keadaan di luar sudah mulai aman, mending bapak-bapak minum kopi saja.”
“Iya ma, buatkanlah kami seceret kopi, saya juga lihat kalau mobil pemadam sudah mulai buat becek di depan itu, mereka sudah mulai padamkan api di rumah yang tadi dibakar.” Kata Pak Boris kepada istrinya.
Malam itu pun Pak Santoso dan Pak Boris menghabiskan waktu bersama sambil menikmati kopi sembari bersenda gurau dan ditemani kebisingan mobil pemadam yang masih bertugas.

Written By

Yonri Soesanto Revolt, biasa dipanggil Yonri, lahir di Makassar, 25 Januari, 1992. Selain sebagai anggota PILA, Yonri juga merupakan pendiri Infiniti (Ikatan Film Indie Timika), yang juga berada di bawah naungan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika. Yonri memiliki hobi bermain musik, dan memiliki group band bernama Nolimits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *