Catatan Presentasi Publik di Jakarta

10348190_10152552433653599_3517939255833308827_n

18 juli 2014, Goethe Institute Jakarta menjadi lokasi dalam rangkaian “puncak” presentasi publik yang sebelumnya dipersentasikan secara lokal di Sentani, Kota Jayapura, Wamena dan Timika yang merupakan wilayah dampingan dari program media untuk papua sehat yang dikembangkan Forum Lenteng yang didukung oleh Kinerja-USAID dalam pemberdayaan masyarakat melalui media tentang persoalan kesehatan di wilayah paling timur Nusantara yang didistribusikan melalui www.halamanpapua.org.

10559782_10152552422548599_8605339201373829273_n 10552557_10152552436908599_4265405884973716510_n

Sekitar pukul 19.30 WIB, pintu ruang pemutaran dibuka dan penonton dipersilahkan masuk. Acara dibuka oleh sahutan pembawa acara manis yang sangat berkhazanah. Ia adalah Bunga Pertiwi Siagian, yang juga salah seorang kurator dalam Festival Filem Dokumenter dan Ekesperimental Internasional ARKIPEL, salahsatu program bergengsi dan juara dari Forum Lenteng Jakarta.Dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Forum Lenteng, Hafiz Rancajale untuk memberikan kata sambutan. Ibu Marcia Sumokil dari RTI International-USAID pun juga menyampaikan kata sambutannya terkait program kerjasama ini. Selanjutnya, Manager Program Halaman Papua, Yuki Aditya, juga menyampaikan sedikit penjelasan tentang awal kerjasama ForumLenteng bersama KINERJA-USAID terkait tujuan pelatihan ini.

10516795_10152552429423599_1634635689617009354_n 10501827_10152552430673599_3835068922610878731_n

Sebelum memulai menonton, sedikit pengantar tentang video yang akan diputar dijelaskan oleh saya sendiri, Soemantri Gelar yang merupakan salah satu fasilitator Halaman Papua. Tujuh video yang akan disajikan merupakan seleksi dari 27 karya video dari ke empat wilayah pelatihan di Papua. Pemilihan ketujuh video iniberdasarkan hasil diskusi yang ‘ajaib’ dan ‘berkeringat’ dari redaksi Halaman Papua, diantaranya Gelar Soemantri (aktivis media dan seniman video), Manshur Zikri (penulis/kritikus media), Yuki Aditya (pengamat filem), Syaiful Anwar (seniman video dan sutradara dokumenter), Bagasworo Aryaningtyas (seniman video) dan Mahardikha Yudha (seniman video dan kurator).

Akhirnya, terpilihlah tujuh karya video yang menurut kami sangat mereprentasikan kondisi kesehatan dan social-budaya di Papua. Tujuh video itu, antara lain:

  1. Saya Yang Cepat Atau… (Timika), yakni tentang  aktivitas berobat seorang pasien pasien yang lebih dulu datang dibandingkan tenaga medisnya di puskesmas),
  2. Puskesmas Manual (Sentani), yang berbicara tentang sistem pelayanan kesehatan di sebuah puskesmas di Papua,
  3. Cerita dari Pulau Karaka (Timika), yakni tentang perbandingan metode melahirkan tradisional dan kedokteran yang di ceritakan dari mata para dukun beranak,
  4. Rumah Kasih (Jayapura), profil dari sebuah tempat yang dibuat khusus untuk merawat pasien pasien ODHA, yang berdiri dari impian gila Bruder Agus melihat keadaan penderita HIV-AIDS di Papua,
  5. Suster Ana (Wamena), tentang kondisi sebuah puskesmas yang terkendala kurangnya fasilitas kesehatan hingga pencurian obat-obat,
  6. Ebeaila (Wamena), tentang kehidupan orang Balim yang tercermin dalam struktur tempat tinggal mereka dan kegelisahan mereka terhadap perkembangan zaman yang dilagukan,
  7. Si Pendamping (Sentani), yakni sebuah karya dokumenter yang sangat biografis tentang Stevanus yang bekerja sebagai pendamping ODHA.

Pukul 19.55 WIB, lampu ruang pertunjukan pun dipadamkan dan filem mulai ditayangkan. Lampu ruang dinyalakan kembali pada pukul 21.10, diiringi tepuk tangan dari para penonton, dan MC memanggil para mentor dari Forum Lenteng beserta Pak Firman sebagai Media Specialist, mewakili Kinerja-USAID.

10492279_10152552441398599_3412185094507044468_n 10479344_10152552431733599_2557338876627651420_n

MC membuka diskusi antara mentor, wakil dari Kinerja-USAID dan penonton. Dalam diskusi tersebut, penonton bertanya seputar pemilihan lokasi pelatihan, pemilihan calon partisipan, hambatan selama pelatihan berlangsung, distribusi filem, serta keberlangsungan komunitas (sustainability) setelah program pelatihan Media Untuk Papua Sehat berakhir. Mentor dan manajer program menjelaskan proses seluruh kegiatan program, mulai dari saat observasi lapangan di empat wilayah kabupaten/kota tempat pelatihan berlangsung, karena empat tempat tersebut adalah wilayah kerja yang sudah ada dan dibangun oleh Kinerja-USAID sehingga kami dapat memanfaatkan jaringan tersebut, hingga ke tahap pelaksanaan pelatihan dan produksi konten media di Web site Halaman Papua.

10384204_10152552438953599_1750969519756026164_n

Calon partisipan dipilih berdasar hasil observasi lapangan dan kerjasama kami dengan jaringan SKPKC (Sekretariat Keadilan Persatuan Keutuhan Ciptaan) Fransiskan Papua yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat non-profit di bawah ordo Fransiskan di Papua, sehingga calon partisipan kebanyakan berasal dari pemuda-pemuda gereja yang sudah lama aktif berkegiatan bersama SKPKC Fransiskan Papua. Selain itu, juga dari jaringan Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika dan dari Yayasan Teratai Hati Papua.

Program pelatihan Media Untuk Papua Sehat juga berbentuk hibah, dimana alat-alat perekaman gambar dan perangkat penyuntingan filem diberikan kepada komunitas setempat agar bisa dimanfaatkan setelah pelatihan berakhir. Hambatan-hambatan yang muncul selama pelatihan dilontarkan oleh salah satu mentor, Mahardika Yudha, yang mengungkapkan bahwa pemudi-pemuda Papua yang menjadi partisipan pelatihan mempunyai bakat, namun mereka tidak kurang memiliki kepercayaan diri sehingga selama pelatihan berlangsung, usaha untuk menumbuhkan kepercayaan diri kepada diri partisipan juga dibangun, selain pelatihan teknis menulis dan perekaman gambar.

10455843_10152552459723599_1342212589790680888_n

Forum Lenteng selalu melakukan pendekatan kekeluargaan dengan komunitas dampingan tempat pelatihan berlangsung sehingga hubungan antara mentor dan partisipan sejajar layaknya teman yang bisa berbagi dengan terbuka dan santai. Filem-filem hasil pelatihan Media Untuk Papua Sehat telah diputar di empat wilayah kabupaten/kota tempat pelatihan berlangsung dan DVD kompilasinya terus dibagikan ke komunitas atau LSM lokal yang ada di Papua, karena selain untuk menumbuhkan kesadaran yang lebih tinggi bagi semua stakeholder yang berperan dalam hal pelayanan publik di bidang kesehatan, juga untuk menaikkan posisi tawar komunitas di Papua tersebut.

Penonton yang datang di presentasi publik Jakarta ini berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari seniman, kurator filem, mahasiswa, maupun dari pihak Kinerja-USAID. Satu hal yang tampak absen dalam presentasi publik ini adalah tidak hadirnya komunitas masyarakat Papua yang telah diundang.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *