Aksi damai Dibubarkan Paksa, Polisi Masih Fobia

Ruang demokrasi masih tertutup, Aksi damai yang dilakukan Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) Papua, Kamis (8/10/2015), berujung penangkapan 18 massa aksi oleh aparat Kepolisian Resort Kota (Polresta) Jayapura yang dipimpin langsung oleh Wakapolresta Jayapura, Kompol Albertus Adreana.

Aksi damai dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat dalam penyelesaian terkait beberapa kasus kekerasan di Papua, salah satunya kasus penembakan empat siswa di Enarotali, Kabupaten Paniai 8 Desember 2014 silam. Selain pemuda dan Mahasiswa, aksi ini juga melibatkan sejumlah frater yang sedang mengenyam studi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura, Papua, dengan menggenakan jubah beberapa calon imam juga ikut ditangkap aparat kepolisian.

12075091_872724879462682_8986756739821886890_n 12109033_10205197246350724_1835912807383020292_n 12119155_872722526129584_6618392888641342697_n 12119185_10205197245950714_7779611743499816904_n

Nama-nama aktivis mahasiswa dan pemuda yang ditangkap:
1. Penehas Lokbere (Koordinator aksi)
2. Ndoringga Yarinap (Mahasiswa)
3. Kokay Mujijau (Mahasiswa)
4. Kamar Pekey (Mahasiswa)
5. Roimundus Nauw (Aktivis PMKRI)
6. Boni Bame (Aktivis PMKRI)
7. Simon Bofra (Mahasiswa)
8. Agustinus Kamat (Mahasiswa)
9. Adrian Kasela (Mahasiswa)
10. Marinus Bame (PMKRI)
11. Karel Karolus Wagab (Pemuda)
12. Daniel Kosamah (Mahasiswa)

Frater yang ikut ditangkap adalah:

1.Frater Soferius Pangguom, OSA
2. Frater Fredy Pawika, OFM
3. Frater Dorman Skukubun, OFM
4. Frater Benyamin Tanang, OFM
5. Frater Gaspar Bhala, OFM
6. Frater Didimus Kosy, OFM

sumber: suarapapua

“Kami heran, mengapa aparat seolah sangat ketakutan kemarin, padahal untuk melakukan aksi tersebut, kami sudah mendapatkan izin, ” hal ini disampaikan ketua SKP-KC Fransiskan Papua, melalui telepon kepada Halaman Papua. Dan saat ini SKP-KC Fransiskan Papua sedang mengusahakan negosiasi terkait kejadian Kamis (8/10/2015) kemarin. “meski saat ini sudah ada beberapa frater yang dibebaskan kemarin sore, saya sangat menyayangkan sikap polisi yang membubarkan paksa aksi damai tersebut”, tambahnya.

Selain menangkap peserta aksi, polisi juga mengintimidasi jurnalis yang sedang meliput kegiatan tersebut dengan merampas kamera dan menghapus seluruh foto terkait aksi, ini jelas sangat bertentangan dengan UU Pokok Pers Tahun 1999 pasal 4 ayat tiga jelas menyebutkan “Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi”.

12105848_1265124000180559_2412149492950813875_n
negosiasi dengan aparat, sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1265124000180559&set=a.198518656841104.59508.100000489126444&type=3&theater

Seperti diingatkan pada rezin kepemimpinan represif khas Orba, dimana pemerintah senantiasa membiaskan penyelasaian beberapa kasus kemanusian menggunakan pendekatan kekerasan melalui aparatur militer. Selain aksi arogan tersebut menunjukan masih tidak mampunya polisi dan negara dalam mengungkap aktor dan pelaku penembakan di Paniai. Apakah benar setelah berganti pemimpin, perlakuan pemerintah terhadap Papua masih sama? ini merupakan salah satu pertanyaan besar yang harus segera di jawab pemerintah Indonesia.

****

dari berbagai sumber

 

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *