1 Desember, Peringatan kebebasan berekspresi rakyat Papua

Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish

Tanggal 1 Desember biasa diperingati sebagai hari kemerdekaan Papua oleh OPM. Gubernur Papua, Lukas Enembe, menyatakan kepada Antara News (30/11)[1], bahwa peringatan-peringatan hari kemerdekaan itu dianggap sudah menjadi budaya oleh beberapa warga masyarakat di Papua.

Di Jakarta, ratusan orang Papua berkumpul untuk melakukan aksi di Bunderan HI, Jakarta pada Selasa, 1 Desember 2015. Aksi tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari kebebasan berekspresi, merayakan ekspresi identitas Papua. Aksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB di Bunderan HI, lalu long march sampai ke Istana Merdeka.

Belum sampai ke Istana Merdeka, polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa aksi yang kemudian menepi ke depan Menara BCA[2]. Berdasarkan data dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, massa aksi sebagian besar adalah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) se-Jawa dan Bali, sebanyak 306 orang. Dalam aksi ini, memang LBH Jakarta diminta untuk mengawal aksi dengan maksud menghindari tindakan represif petugas kepolisian terhadap massa aksi.

Pihak kepolisian sendiri menyatakan, bahwa tidak ada izin untuk melakukan aksi, ditambah massa aksi menghadang arus jalan. Alasan yang demikian, menurut pihak kepolisian, merupakan alasan yang sah untuk menembakkan gas air mata[3].

Aksi memperingati kebebasan berekspresi rakyat Papua bukan tanpa sebab. Irian Barat diserahkan kepada Indonesia oleh United Nations Temporary Executive Administration (UNTEA) pada 1 Mei 1963, dengan catatant tahun 1969 harus diadakan pungutan suara pendapat rakyat.

 

[1] http://www.antaranews.com/berita/532395/gubernur-tegaskan-papua-aman-jelang-1-desember

[2] http://www.rappler.com/indonesia/114543-demo-kebebasan-berekspresi-masyarakat-papua-ricuh

[3] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151201_indonesia_papua_protes_jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *