Suster Ana: “Pencuri! Ini pencuri yang masuk”

Sebagai upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di kampung-kampung yang jauh dari kota, atau bisa kita sebut di pelosok-pelosok, dibuatlah Pustu (Puskesmas Pembantu).

vlcsnap-2014-06-14-20h26m43s95

Sebagai upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di kampung-kampung yang jauh dari kota, atau bisa kita sebut di pelosok-pelosok, dibuatlah Pustu (Puskesmas Pembantu). Karena memang hanya berfungsi sebagai pembantu, secara fisik, perlengkapan dan tenaga kesehatan, Pustu sangat kurang dan terbatas. Seperti halnya Pustu Wosi, yang dijadikan bingkaian oleh Imannuel Mabel, Aris Mulait, Franciskus Romena, dan Dorthea Kossay ini.

Dalam filem ini, para pemuat mencoba membuat sebuah diagram menarik,tentang sirkulasi pelayanan kesehatan. Dimana, ada bebera komponen yang dihadirkan, pertama pemerintah melalui Dikes (Dinas Kesehatan), kedua Pihak Rumah Sakit/Puskesmas/Pustu-dalam hal ini- yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, ketiga masyarakat (yang dilayani) dan yang terkahir adalah pihak keamanan.

Secara sadar atau tidak, mereka (para pembuat) sangat cerdas dalam meletakkan dan merangkai cerita dalam filem ini. Dimana pada menit-menit awal, para pembuat memberikan sajian berupa bagaimana para tenaga medis memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jika ditarik maka ini terkait pelayanan. Maka untuk mendapatkan pelayanan yang maksimal, setia komponen yang tersebut di atas. Memiliki kewajiban dan keharusan untuk melaksanakan dan mengerti posisi masing-masing. Jika kesemua element ini tidak mendukung satu dengan yang lain, maka jangan pernah mengharapkan proses pelayanan itu akan baik. Dalam banyak filem, selalu dilihat sisi buruk pelayanan dari pihak pemerintah, Sakit/Puskesmas/Pustu. Jarang seklai melihat, bagaimana peranserta masyarakat dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik.

Apa yang terjadi di Wosi dan Pustu Wosi, memberikan gambaran kepada kita, bagaimana sebuah pelayanan kesehatan akan terkendala, jika masyarakat tidak memiliki kesadaran akan hal tersebut. Kasus pencurian yang marak di Pustu Wosi ini, secara teknisakan memberikan dampak kepada pelayanan tersebut. Meski misalnya, petugas medis ingin dengan sepenuh hati melayani, Dinas Kesehatan sebagai perpanjangan dari pemerintah pun, banyak memberikan bantuan, namun masyarakat sendiri kemudian tidak mau menjaga kedua komponen tersebut, maka tidak aka nada pelayanan yang baik. Apalagi, dari cerita sang suster, pihak keamanan pun enggan melihat hal ini lebih serius.

Tipe kasus semacam ini biasa didengar. Misalnya, seorang perawat yang sering mendapat gangguan dari pemabuk, obat-obatan sering dicuri untuk mabuk, atau misalnya kasus dalam filem Aman Itu Sehat (hasil lokakakrya Kota Jayapura), dimana sang suster harus meninggalkan pelayanan karena masalah keamanan. Jika kesadaran ini tidak segera dibangun dalam masyarakat, maka pelayanan yang baik itupun hanya mimpi. Sebab, jika masyarakat merasa memiliki, mereka pasti akan menjaga dan merawat bangunan-bangunan kesehatan yang ada di tempat mereka.

Maka filem Suster Ana: “Pencuri! Ini pencuri yang masuk” ini, sangat menarik dijadikan sebagai bahan diskusi tentang pentingnya juga membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pelayanan kesehatan. Bahwa kesadaran masyarakat sangat menunjang hal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *