RUMAH KASIH

Cuplikan video dokumenter Rumah Kasih_04

Seperti namanya, Rumah Kasih adalah tempat di mana setiap orang bekerja dengan kasih kepada orang-orang yang membutuhkan kasih. Sekilas, tempat ini sama saja dengan rumah perawatan yang lain. Tapi dari segi pelayanan, sama sekali berbeda.

“Di sini hubungan kami bukan antara dokter dan pasien, namun yang kami terapkan adalah pelayanan seperti keluarga,” seperti itu kurang lebih yang disampaikan Br. Agus, salah seorang inisiator berdirinya Rumah Kasih, ketika kami temui di Rumah Sakit Dian Harapan.

Br. Agus menceritakan bagaimana sejarah berdirinya Rumah Kasih. Awalnya, beliau menangani seorang pasien HIV-AIDS yang tidak diterima oleh keluarga. Karena iba, ia kemudian memiliki sebuah ide gila. Idenya adalah membangun sebuah tempat yang bisa menampung pasin HIV-AIDS, khususnya dari Papua. Dia menganggap ini ide gila, karena secara finansial, dia sendiri tidak memiliki apa-apa. Idenya ini ia diskusikan dengan rekan sesama dokter di Rumah Sakit Dian Harapan. Ide yang dianggapnya tidak mungkin terealisasi ini, pada tahun 2007, dengan bantuan dari Keuskupan Franciskan, bisa terwujud.

Cuplikan video dokumenter Rumah Kasih_03

Setelah bangunan Rumah Kasih berdiri, masalah selanjutnya yang dihadapi adalah, darimana dana didapat untuk menggaji pegawai dan melayani pasien? Br. Agus percaya bahwa, apa yang ia cita-citakan, yang akhirnya terwujud, adalah adanya peranan Tuhan. Jika tidak dengan bantuan-Nya, tidak mungkin cita-cita ini terealisasi.

Kini, sudah tujuh tahun Rumah Kasih memberikan pelayanan kepada masyarakat. Banyak pasien HIV-AIDS yang sehat dan kembali ke keluarga. Namun, banyak juga yang berkahir di tempat ini. Suster Yuli, seorang perawat yang sudah tujuh tahun melayani pasien di tempat ini, menceritakan kepada kami beberapa pengalaman yang bisa diambil hikmahnya. Suatu ketika, seorang bapak yang ia rawat sudah dalam masa kritis. Hampir tiga hari kondisinya drop. Menjelang ajalnya, ia mengajak Suster Yuli menyanyi.

“Saya tidak tahu persis apa yang kami nyanyikan,” kata Suster Yuli, bercerita. “Tapi kalau tidak salah, lagu Tuhanku Gembalaku. Saat itu, saya menyadari bahwa ketika ajal datang, manusia sangat membutuhkan teman…”

Kondisi para penderita HIV-AIDS, atau yang lebih dikenal dengan ODHA, sangat memperihatinkan. Beruntung sekali ada sebuah tempat, di mana pasien dilayani dengan penuh kasih, layaknya keluarga. Sebuah ruang alternatif untuk memunculkan kembali semangat hidup. Meski HIV-AIDS adalah penyakit mematikan, bukan berarti tidak bisa ‘disembuhkan’. Meski virus ini tidak bisa hilang total dalam tubuh penderitanya, bukan berari virus itu tidak bisa ditekan.

Cuplikan video dokumenter Rumah Kasih_02

Pemahaman warga terhadap HIV-AIDS masih tidak sama. Br. Agus sendiri menegasakan adanya Rumah Kasih karena masih ada stigma di masyarakat. Bahkan menurutnya, Rumah Kasih tidak perlu ada, jika stigma di masyarakat sudah tidak ada. Selanjutnya, hal penting yang perlu diketahui bagi para penderita HIV-AIDS, adalah untuk tidak menstigma diri sendiri. HIV-AIDS bukanlah akhir dari segalanya. Jika penderita memiliki semangat dan motivasi untuk bangkit lagi, maka proses penyembuhan akan lebih mudah. Namun, berbeda halnya jika penderita putus asa dan menganggap HIV-AIDS akhir dari segalanya. Maka, bagaimanapun proses penyembuhan yang dilakukan, akan lebih sulit.  Banyak contoh dari mereka yang tegar dan memiliki semangat hidup yang tinggi. Meski tim medis telah memvonis mereka, meski kondisi fisik hanya tinggal tulang, mereka bisa bertahan, sehat dan kembali menjadi bagian penting dari masyarakatnya, seperti pengalaman beberapa pasien Rumah Kasih yang sudah kembali ke keluarga.

Kemudian, bagi para ODHA, dituntut juga untuk sadar terhadap pentingnya mengkonsumsi obat ketika kondisi fisik membaik. Yang terjadi, sering kali ketika fisik sudah baik, karena tidak ada kontrol dari dokter atau perawat, pasien menjadi lalai. Ketika obat tidak diminum, maka penyebaran virus akan lebih gampang. Ada banyak pasien yang lalai terhadap hal ini. Bagi Br. Agus, orang-orang semacam ini ia sebut dengan orang yang tidak bisa berterimakasih. Ketika seorang pasien sudah dinyatakan sehat, maka ia diharapkan tetap kembali ke Rumah Kasih, untuk bisa membantu pasien yang lain, memberikan semangat yang sama seperti yang ia miliki ke penderita yang lain. Namun, yang terjadi tidak seperti itu. Ketika sehat, pasien malas minum obat. Akhirnya, ketika kondisinya kembali memburuk, tidak jarang Br. Agus dengan tegas tidak menerima mereka di Rumah Kasih.

Memang susah bersyukur atas nikmat kesehatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Seringkali nikmat kesehatan ini diabaikan.

Cuplikan video dokumenter Rumah Kasih_01

Mungkin, kisah dari Rumah Kasih memberikan kita sebuah pencerhan, tentang betapa berharganya kesehatan. Berterimakasih bukan hanya dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan, tetapi juga dengan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Hal ini yang ditunjukkan di Rumah Kasih, bahwa manusia hidup haruslah dengan kasih dan sayang. Sangat tidak mudah merawat penderita HIV-AIDS, kecuali memang ada rasa kasih dan sayang dalam diri kita. Tidak ada satu pun orang yang menginginkan HIV-AIDS dalam dirinya. Mungkin saja, ini sebuah cobaan dari Tuhan untuk melihat sejauh mana kita bisa kembali ke jalan-Nya.

 

_____________________

Profil Karya
Judul: Rumah Kasih
Negara: Indonesia
Tahun Produksi: 2014
Tanggal Rilis: 9 Maret 2014
Durasi: 11 menit
Bahasa: Indonesia
Subtitle: Indonesia
Produksi: Forum Lenteng, kolaborasi dengan SKPKC Fransiskan Papua & Riyana Waena, dalam Program Media Untuk Papua Sehat

Credits
Realisasi: Aloyesius Rahawadan, Yosep Levi
Fasilitator: Muhammad Sibawaihi, Syaiful Anwar, Nico Tunjanan

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *