PESAN CINTA DARI SUSTER

Cuplikan video dokumenter Pesan Cinta Dari Suster_03

Kecenderungan masyarakat Papua untuk berobat dengan menggunakan obat-obat tradisional bukan berarti tidak setuju dengan pengobatan modern. Ini semacam tradisi yang berjalan turun temurun. Masyarakat Papua dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kearifan lokal. Mereka tahu kapan harus menanam, kapan akan makan dan dimana akan membuang sisa makanan.

Di satu, juga dibutuhkan keterbukaan masyarakat Papua terhadap perkembangan dunia kesehatan modern. Bahwa ada, jenis penyakit tertentu yang membutuhkan tenaga medis modern. Seperti misalnya penanganan HIV-AIDS dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Cuplikan video dokumenter Pesan Cinta Dari Suster_02

Permasalahan ini kami temukan di Puskesmas Arso Kota, dari keterangan seorang suster yang kami wawancara. Banyak ibu-ibu yang datang, kemudian tidak bisa menerima keadaan mereka dengan status HIV-AIDS. Mereka adalah ibu-ibu yang hanya berkebun dan berladang. Bagaimana mungkin mereka mendapatkan penyakit seperti HIV-AIDS? Alasan-alasan itu kemudian menyulitkan pihak medis untuk melakukan cek darah atau sering dikenal PITC. Namun menurut suster, jika mereka sudah capek merasakan sakit dan mereka datang  berulang-ulang ke Puskesmas dengan keluhan yang sama, baru mereka mau di PITC.

Hal ini menunjukan kepada kita bahwa, masayarkat masih sangat awam terhadap HIV-AIDS. Mungkin saja karena sosialisasi yang kurang, baik tentang bagaimana virus HIV-AIDS menyebar dan bagaimana tanda-tanda penyakit ini dalam diri seseorang.

Cuplikan video dokumenter Pesan Cinta Dari Suster_01

Selain itu, kendala lain adanya pasien HIV-AIDS yang mengerti kondisi mereka, tapi malas. Mereka mengkonsumsi obat ketika sakit, dan berhenti ketika sudah merasa sehat. Padahal dari medis sudah menganjurkan bahwa obat yang mereka punya harus dikonsumsi setipa hari. Jika obat tersebut habis, maka warga disarankan untuk mengambil obat di Puskesmas. Namun ini tidak terjadi. Banyak warga yang tidak kembali mengambil obat karena alasan tidak ada uang. Bahkan suatu ketika, ada seorang pasien yang datang dan meminta kebutuhan rumah tangga seperti beras, sabun cuci dan sabun mandi kepada para suster di Puskesmas Arso Kota ini.

Selain masalah HIV-AIDS, masalah ibu melahirkan juga masih terkendala. Beberapa tahun lalu, masyarakat masih memilih untuk melahirkan di dukun dan di rumah. Sekarang, masayarakt sudah banyak yang melahirkan di Puskesmas.meskipun begitu, melahirkan dengan tenaga medis masih sangat tabu. Keterangan seorang suster yang menangani masalah kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Arso Kota ini mengaku bahwa masyarakat belum terbuka. Seperti canggung melahirkan dengan gaya medis. Harapannya, jika masyarakt sudah menyadari pentingnya melahirkan dengan bantuan medis, ini bisa mengurangi angka kematian ibu dan anak di Papua. Apalagi jika sedari dini, ibu hamil memeriksa darah untuk HIV-AIDS.

 

_________________
Profil Karya
Judul: Pesan Cinta dari Suster
Negara: Indonesia
Tahun Produksi: 2014
Tanggal Rilis: 9 Maret 2014
Durasi: 8 menit
Bahasa: Indonesia
Subtitle: Indonesia
Produksi: Forum Lenteng, kolaborasi dengan SKPKC Fransiskan Papua & Riyana Waena, dalam Program Media Untuk Papua Sehat

Credits
Realisasi: Aloyesius Rahawadan, Yosep Levi
Fasilitator: Muhammad Sibawaihi, Syaiful Anwar, Nico Tunjanan

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *