MASIH ADA HARI ESOK

Bahwa ODHA juga adalah manusia. Setiap orang memiliki masa lalu yang suram. Tapi mari berjalan kedepan. Mengubur masa lalu dan melihat masa depan dengan lebih bijak sana. Setiap orang selalu diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Stigma terhadap penderta HIV-AIDS di Papua memang masih banyak. Beberapa pendedirta yang saya temui, menyatakan bahwa mereka belum sanggup untuk berterus terang, baik kepada keluarga dan masyarakat. Mereka takut dikucilkan, diguncing dan dianggap orang yang terkena kutukan.

Cuplikan video dokumenter Masih Ada Hari Esok_03

Namun beda halnya dengan seorang John Matius. Ketika penderita lain menyembunyikan status mereka, ia justru membuka diri dan menunjukan kepada khalayak bahwa seorang ODHA pun mampu berbuat sesuatu. Tentunya tidak mudah. Banyak juga yang menyindir dan meremehkan apa yang ia lakukan.

Sejak pertama kali ia mengetahui bahwa iamenderita HIV-AIDS, sama halnya dengan orang lain. Ia tidak kuasa menerima statusnya sebagai penderita. Di pikirannya, yang ada hanya hal-hal negative yang melemahkan semangatnya untuk terus bertahan hidup. Hingga akhirnya ia menemukan seorang suster yang memberikan motivasi dalam hidupnya. Suster itu yang mengangkat semangat Pak John. Dari awalanya hanya memiliki tubuh berbalut tulang, hingga saat ini ia tampak seperti orang sehat.

Cuplikan video dokumenter Masih Ada Hari Esok_01

Ia memulai bisnisnya dengan beternak babi. Babi yang ia dapatkan dari berhutang. Awalnya ia meletakkan babi-babi terebut di kandang yang sangat sederhana. Seadanya. Tetapi karena ketekunannya, ia berhasil memelihara babi dengan baik, dan sekarang kandangnya pun cukup baik. Suatu ketika, dating bantuan dari pemerintah kepadanya, berua nutrisi untuk penderita HIV-AIDS. Namun, bantuan itu tidak ia terima dan lebih memilih untuk diganti dengan bahan bangunan berpa papan dan seng. Dalam hemat Pak John, jika suatu ketika kandang babinya sudah rusak, maka ia bisa menggunakan papan dan seng tersebut untuk memperbaikinya.

Pak John mengeluarkan uang 50.000 sampai 70.000 rupiah untuk makan babinya. Biasanya ia membeli sisa-sisa makan di warung-warung, baik berupa nasi atau sayur yang sudah tidak dikonsumsi lagi. Pak John memang pekerja yang rajin. Kandang babinya terlihat cukup bersih. Hal ini juga diakui oleh istri Pak John. Ia sangat senang memiliki suami yang rajin bekerja, meski ia adalah seorang penderita HIV-AIDS.

Istri Pak John sudah kebal dengan omongan. Beberapa warga sempat juga mencibirnya karena menikah dengan Pak John. Namun hal ini tidak ia ambil pusing. Biasa nya  ucapan seperti itu masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ia adalah istri yang baik. Dan sepertinya bisa dicontoh oleh orang lain. Bahwa mereka yang terkena HIV-AIDS bukanka z untuk dihindari, tetapi untuk ditemani dan diberikan motivasi untuk bisa hidup normal. Pak John juga sangat memahami kondisi istrinya. Ia selalu menjaga diri dan istrinya ketika berhubungn. Ia tidak mau menularkan virus yang ada dalam tubuhnya ke orang lain. Sampai saat ini, istri Pak John dinyatakan negatif HIV.

Selain beternak, Pak John juga membuka usaha cuci motor. Usaha cuci motor tidak dibuka di rumahnya, namun di rumah salah seorang warga yang dekat dengan jalan. Dalam sehari, Pak John bisa mendapat Rp. 100.000- Rp. 250.000. Yang paling ia syukuri adalah,  bahwa masyarakat sekitar sangat perduli, bahkan mau memberikan Pak John tempat untuk membuka usaha. Usaha cuci motor ini sendiri baru  ia lakoni satu bulan belakangan. Pak John, tidak mau berdiam dan terbawa ke dalam hayalan yang negatif. Ketika bekerja, maka fikiran negatif akan hilang.

Cuplikan video dokumenter Masih Ada Hari Esok_02

Satu halyang Pak John inginkan adalah, agar semua ODHA yang ada di Papua berani membuka diri dan menunjukan kepada masyarakat bahwa ODHA tidak hanya menunggu kematian, namun juga bisa bekerja dan bersosial. Selain itu, masyarakat juga harus sudah sadar dan belajar menerima ODHA dengan lapang dada. Bahwa ODHA juga adalah manusia. Setiap orang memiliki masa lalu yang suram. Tapi mari berjalan kedepan. Mengubur masa lalu dan melihat masa depan dengan lebih bijak sana. Setiap orang selalu diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

 

_________________
Profil Karya
Judul: Masih Ada Hari Esok
Negara: Indonesia
Tahun Produksi: 2014
Tanggal Rilis: 9 Maret 2014
Durasi: 12 menit
Bahasa: Indonesia
Subtitle: Indonesia
Produksi: Forum Lenteng, kolaborasi dengan SKPKC Fransiskan Papua & Riyana Waena, dalam Program Media Untuk Papua Sehat

Credits
Realisasi: Aloyesius Rahawadan, Yosep Levi
Fasilitator: Muhammad Sibawaihi, Syaiful Anwar, Nico Tunjanan

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *