KALIAN KEMANA

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Keerom terlihat lengang. Hanya ada beberapa buah kendaraan bermotor di tempat parkir. Di lorong menuju ruang pasien,kami hanya menjumpai tukang bangunan yang sedang mereparasi beberapa bagian rumah sakit. Kondisi di luar,sama dengan kondisi di dalam ruangan perawatan.

Cuplikan video dokumenter Kalian Kemana_02

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Keerom terlihat lengang. Hanya ada beberapa buah kendaraan bermotor di tempat parkir. Di lorong menuju ruang pasien,kami hanya menjumpai tukang bangunan yang sedang mereparasi beberapa bagian rumah sakit. Kondisi di luar,sama dengan kondisi di dalam ruangan perawatan. Di ruangan persalinan, hanya ada dua perawat yang sedang asyik menonton acara televisi.  Memang tidak ada pasien hari ini, tutur perawat tersebut.

Ruang kosong juga tampak di ruang perawatan anak. Ada dua pasien anak ditemani  ibunya. Selebihnya hanya Ranjang-ranjang putih kosong. Nama pasien tertulis di papan pengumuman, namun tidak ada nama dokter yang merawat mereka. Dari papan pengumuman tersebut, diketahui pasien sedang mengidap malaria.

Kami jadi ingin lebih tahu bagaimana perawatan terhadap pasien malaria. Namun tidak ada dokter. Yang ada hanya perawat. Dia menjelaskan pelayana kepada pasien malaria seadanya. Sekemampuan mereka. Sebab, mereka hanya tenaga honorer yang tidak begitu berpengalaman menangi pasien.

Menurut keterangan kepala rumah sakit, sebagian besar tenaga kesehatan di RSUD ini adalah tenaga honorer. Dari sekian banyak tenaga honorer, hanya beberapa saja orang lokal. Selebihnya adalah pendatang. “… yang Papua tidak ada yang mau daftar…”, kata kepala rumah sakit. Dari pengakuan kepala rumah sakit, pihaknya sudah mencoba membuka pendaftaran bagi mereka yang mau melamar menjadi tenaga kesehatan. Namun dari sekian banyak yang mendaftar, hanya beberapa gelintir saja orang Papua. Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa warga asli lebih senang kerja di bidang pemerintahan daripada kesehatan.

Saya  melanjutkan perjalanan ke ruangan yang lain. Ruang Pasien Dewasa Wanita. Kondisinya sama. Dari sekian kamar yang ada, hanya du kamar yang terisi dan masing-masing satu orang pasien. Saya memasuki ruangan yang lebih besar. Saya mendapati seorang anak yang sedang menunggu ibunya. Tidak tampak keluarga yang lain. Hanya anak itu saja. Merenung melihat ibunya yang terbaring sakit. Tidak tampak adanya pelayanan. Sedari tadi saya belum melihat suster atau perawat yang lain.

Saat hendak keluar, dari sebuh ruangan saya mendengar suara tawa. Ternyata ada tiga orang perawat yang sedang bercanda di sebuah ruangan yang dekat dengan pintu keluar. Dari ketiga perawat tersebut, seorang adalah orang Papua. Tanpa membuang waktu, saya kemudian bertanya terkait pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak saya tadi. Seorang suster yang berasal dari Toraja menjelaskan kepada saya bagaimana kondisi masyarakat di daerah tersebut. Umumnya masyarakat sudah sadar akan pentingnya kesehatan. Namun, biasanya masyarakat lebih memilih untuk membeli obat di apotek dari pada berobat ke rumah sakit. Padahal, masyarakat Papua diberikan jaminan kesehatan yang dikenal dengan Jamkespa (Jaminan Kesehatan Papua). Terkait pelayanan rumah sakit, mereka memberikan keterangan bahwa pelayanan di rumah sakit masih dengan alat dan obat seadanya. Biasanya jika pasien tidak bisa ditanggulangi, mereka akan merujuk ke Rumah Sakit Abe atau Rumah Sakit Doc 2.

Sepertinya ada sesuatu yang aneh. Di rumah sakit sebesar ini, kami hanya menemukan beberapa pasien, ruangan-ruangan kosong, perawat yang lebih banyak tenaga honorer pendatang serta pelayanan dan kebutuhan obat yang seadanya. Lalu kemana masyarakat Papua?

 

___________________

Profil Karya
Judul: Aman Itu Sehat
Negara: Indonesia
Tahun Produksi: 2014
Tanggal Rilis: 9 Maret 2014
Durasi: 7 menit
Bahasa: Indonesia
Subtitle: Indonesia
Produksi: Forum Lenteng, kolaborasi dengan SKPKC Fransiskan Papua & Riyana Waena, dalam Program Media Untuk Papua Sehat

Credits
Realisasi: Aloyesius Rahawadan, Yosep Levi
Fasilitator: Muhammad Sibawaihi, Syaiful Anwar, Nico Tunjanan

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *