RANGKAIAN IMAJI: SUDUT-SUDUT RUMAH TAK BERSUDUT

Atap Ebeaila dilihat dari dalam.
Maka ketika rekan-rekan peserta lokakarya Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena, datang untuk belajar tentang Honai dan apa yang terkandung di dalamnya, dengan senang hati saya mengajak mereka ke Honai Perang, Suku Assolokobal, yang dikepalai oleh Bapak Ferry Asso.

Indonesia memiliki beragam suku dan bangsa. Setiap suku dan bangsa memiliki cirri khas dan keunikan masing-masing. Setiap ciri khas tersebut, tentu memiliki nilai-nilai adat-istiadat tersendiri juga. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok dari setiap suku dan bangsa yang ada di Indonesia, dapat kita lihat dari bentuk bangunan rumah mereka.

Di Wamena, rumah adat disebut juga dengan Honai. Honai memiliki bentuk yang sangat unik. Jika rumah-rumah adat lain di Indonesia berbentuk persegi, maka bentuk rumah di Wamena ini berbentuk bulat. Mengapa bulat? Menurut beberapa orang yang saya kenal di sini, bulat menandakan kesetaraan. Semua akan duduk melingkah di dalam honai dan tidak ada yang memiliki status lebih. Semua sama.

Honai sendiri terdiri atas tiga bangunan utama. Yang pertama adalah honai laki-laki. Kedua adalah Honela atau dapur, dimana di dalam Honela ini, ada juga kandang Wam (babi) di sebelahnya, dan ada juga bangunan yang ketiga yakni Ebeaila.

Dari sekian banyak kawan saya di Wamena, salah satu yang paling saya syukuri adalah berkenalan dengan Bapak Ferry Asso. Ia adalah seorang kepala suku. Tepatnya kepala Suku Perang, Suku Assolokobal. Yang lebih saya syukuri, ia tidak seperti orang lain. Ia memiliki kesadaran untuk berbagi pengetahuan dan sejarah. Banyak orang yang saya tanya, tentang apa itu honai. Namun jawaban hanya saya temukan di Bapak Ferry Asso. Ia memiliki kesadaran tentang pentingnya membagi sejarah dan kisah-kisah seputar honai  dan kehidupan orang Wamena.

Maka ketika rekan-rekan peserta lokakarya Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena, datang untuk belajar tentang Honai dan apa yang terkandung di dalamnya, dengan senang hati saya mengajak mereka ke honai perang suku Assolokobal, yang dikepalai oleh Bapak Ferry Asso. Dan saya sangat senang Bapak Ferry Asso mengizinkan kami masuk ke dalam honai, tentunya untuk belajar tentang kearifan yang terkandung dalam struktur bangunan honai. Berikut beberapa foto honai, suasana di luar honai dan keadaan di dalam honai.

Foto: Herman W. Buruphotte

Honai Perang Suku Assolokobal.
Honai Perang Suku Assolokobal.
Salah satu Honai di dekat  Honai Perang Suku Assolokobal.
Salah satu Honai di dekat Honai Perang Suku Assolokobal.
Bapak Fery Asso di depan Honai.
Bapak Fery Asso di depan Honai.
Suasana di depan Honai.
Suasana di depan Honai.
Atap Honai, yang terbuat dari Jerami.
Atap Honai, yang terbuat dari Jerami.
Pintu masuk ke dalam Honela atau dapur.
Pintu masuk ke dalam Honela atau dapur.
Keadaan di dalam Honela.
Keadaan di dalam Honela.
Wam (babi) di dalam Honela.
Wam (babi) di dalam Honela.
Pintu masuk Ebeaila.
Pintu masuk Ebeaila.
Atap Ebeaila dilihat dari dalam.
Atap Ebeaila dilihat dari dalam.
Salah satu kayu penyangga dinding di dalam Ebeaila.
Salah satu kayu penyangga dinding di dalam Ebeaila.
Keadaan di dalam Ebeaila.
Keadaan di dalam Ebeaila.
Wulik atau tungku tempat menyalakan api di dalam Ebeaila.
Wulik atau tungku tempat menyalakan api di dalam Ebeaila.
Keadaan di dalam Ebeaila.
Keadaan di dalam Ebeaila.

 

 

Written By

Herman W. Buruphotte, biasa disapa Heri. Ia adalah seorang video maker yang berasal dari NTT. Kini ia tinggal di Wamena dan bekerja di Yayasan Teratai Hati Papua, yang bermarkas di Rumah Bina. Pria yang hobi mengedit-edit video ini, aktif sebagai peserta dalam workshop Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *