RANGKAIAN IMAJI: WAM-ENA

Foto: Muhammad Sibawaihi
Secara harfiah Wamena memang berarti ‘Babi Jinak’. Dan memang, babi memiliki posisi yang penting dalam kehidupan masyarakat Lembah Balim itu. Setiap acara adat akan digelar, harus ada babi.

“… Wam, artinya babi. Ena, artinya jinak. Kata orang tua, ketika orang luar bertemu dengan nenek moyang kami, yang pertama mereka temui itu… ada seorang mama. Mama ini sedang menggendong seekor anak babi. Jadi… Karena sama-sama tidak baku mengerti satu dengan yang lain,  waktu itu mungkin orang luar itu tanya, ini namanya daerah apa? Begitu… Mama itu menjawab Wam… Ena. Mama orang kira orang luar itu ada tanya yang dia gendong itu apa , jadi… Maka akhirnya nama tempat kami ini di kenal dengan nama Wamena…” Seperti itu kurang lebih cerita yang aku dapatkan dari Veronika Wetipo, seorang peserta lokakarya Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena.

Secara harfiah Wamena memang berarti ‘Babi Jinak’. Dan memang, babi memiliki posisi yang penting dalam kehidupan masyarakat Lembah Balim itu. Setiap acara adat akan digelar, harus ada babi. Babi menjadi maskawin yang selalu diminta  oleh pihak mempelai wanita . Dalam upacara kematian dan berbagai jenis pesta adat lainnya, sesulit apapun, babi haruslah tetap ada. Maka tidak salah, jika harga babi di Wamena sangat tinggi. Seekor babi besar bisa mencapai harga Rp. 50.000.000 sampai dengan Rp. 75.000.000.

Saya ingat suatu saat, ketika saya membawa sepeda motor milik salah seorang peserta. Dia meminta saya berhati-hati. Sebab, sewaktu-waktu babi bisa saja muncul di jalan raya. Jika kita sampai menabrak seekor babi, maka kita harus membayar denda. Penghitungan dendanya, juga tidak sembarangan. “…Kalau sampai tabrak, nanti Mas kena denda”, ucapnya kepadaku.

“…Nanti dihitung, susu babi itu ada berapa, dari satu susu bisa jadi berapa anak, satu anak dihargakan berapa…”, dia melanjutkan sambil menghitung-hitung, jika menabrak seekor babi, kemungkinan dendanya bisa mencapai 15-30 juta.

Karena posisi babi ini penting dalam kehidupan masyarakat Wamena, ketika bertemu di jalan atau ketika syuting, kami menyempatkan diri untuk memotret babi-babi tersebut. Berikut adalah beberapa rangkaian imaji babi-babi di Wamena.

Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi saat Upacara adat. Foto: Fr. Geish
Babi di Filem "Janji Sampah Pisugi". Foto: Felix Itlay
Babi di Filem “Janji Sampah Pisugi”. Foto: Felix Itlay.
Babi di Filem "Janji Sampah Pisugi". Foto: Felix Itlay
Babi di Filem “Janji Sampah Pisugi”. Foto: Felix Itlay.
Babi di Filem Jeno. Foto: Aris Mulait.
Babi di Filem Jeno. Foto: Aris Mulait.

 

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *