Sebuah Awal Yang Masih Rentan Akhir

Foto: Thomas Hugi.
Mereka adalah pemuda-pemudi Wamena, yang selama satu bulan, secara intensif mengikuti kegiatan Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena, yang terdiri dari: Alosius Dualekma Matuan, Aris Mulait, Dorthea Kossay, Felix Itlay, Franciskus Romena, Gloria Katarina Wetipo, Herman W. Buruphotte, Imannuel Mabel, Rikcy Jikwa, Thomas Hugi dan Weronika Wetipo.

Design: Gelar Soemantri
Design: Gelar Soemantri

16 Juni 2014, Aula Kantor Dekenat Jayawijaya menjadi saksi, bagaimana sebuah harapan baru masyarakat Wamena, lahir. Harapan ini lahir, bukan dari mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Namun, muncul dari orang biasa, yang memiliki keinginan atas adanya perbaikan pelayanan kesehatan di Wamena. Mereka adalah pemuda-pemudi Wamena, yang selama satu bulan, secara intensif mengikuti kegiatan Media Untuk Papua Sehat, Kota Wamena, yang terdiri dari: Alosius Dualekma Matuan,  Aris Mulait, Dorthea Kossay, Felix Itlay, Franciskus Romena, Gloria Katarina Wetipo, Herman W. Buruphotte, Imannuel Mabel, Rikcy Jikwa, Thomas Hugi dan Weronika Wetipo.

Tidak berlebihan sepertinya. Sebab meski sore itu hujan gerimis, tidak menghentikan langkah para tamu undangan untuk mengahadiri presentasi publik hasil lokakarya Media untuk Papua Sehat, yang terdiri dari 5 buah film yang mengangkat isu kesehatan di Wamena. Banyak tamu yang hadir,  terutama keluarga dari para peserta workshop. Memang, info adanya workshop Media Untuk Papua Sehat beredar luas di Wamena, terutama di kalangan para aktifis dan komunitas-komunitas yang ada di sana. Sehingga pada saat presentasi, banyak juga tamu undangan dari LSM dan komunitas lain yang hadir. Tentu, mereka yang hadir ingin melihat langsung, bagaimana hasil workshop yang berjalan selama sebulan itu.

Sebelum pemutaran, wajah peserta tampak sedikit tegang. Khawatir, kalau-kalau tidak ada tamu undangan yang datang, atau acara mereka gagal. Keyakinan dan kepercayaan diri kemudian muncul, manakala satu demi satu orang sudah mulai ramai berdatangan.

Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi
Foto: Muhammad Sibawaihi

Photo: Aris Mulait
Photo: Aris Mulait

Foto: Aris Mulait
Foto: Aris Mulait

Foto: Franciskus Romena
Foto: Franciskus Romena
Pater Theo Kossay saat membuka acara pemutaran.
Pater Theo Kosi saat membuka acara pemutaran. Foto: Aris Mulait
Pemutaran Film "Janji Sampah Pisugi"
Pemutaran Film “Janji Sampah Pisugi”. Foto: Franciskus Romena

Pukul 17.30 WIT, Pater Theo Kosi, membuka dengan doa yang diamini dengan khusuk oleh semua hadirin. Suasana hening segera hadir, ketika lampu ruangan sudah dimatikan, dan projecktor memproyeksikan visual dari film yang pertama, yang berjudul “Janji Sampah Pisugi”, yang direkam dan diedit  oleh Felix Itlay. Saat film itu diputar, sesekali penonton tertawa dengan hadirnya visual-visual unik di film itu. Penonton tertawa oleh tingkah lucu bocah-bocah Pisugi di tengah tumpukan sampah, wajah lucu babi-babi yang sedang mencari makan diatas tumupkan sampah, yang sesekali berebut makanan dengan anjing-anjing di sana. Namun juga miris melihat fakta sampah yang ada di TPAS Pisugi. Ketika film pertama selesai, terdengar riuh tepuk tangan penonton.

Pemutaran film "Suster Ana, " Pencuri! Ini Pencuri Yang Masuk"
Pemutaran film “Suster Ana, ” Pencuri! Ini Pencuri Yang Masuk”. Foto: Franciskus Romena.

Film kedua “Suster Ana: Pencuri! Ini Pencuri Yang Masuk!”, mendapat sambutan yang sama. Dari judulnya saja penonton sudah tertawa kecil. Namun, gambaran awal yang diberikan oleh tiga orang peserta yang merealisasikan video ini ( Imannuel Mabel, Aris Mulait dan Franciskus Romea), sedikit mengecoh penonton. Sebab, awalnya film ini hanya memberikan gambaran pelayanan saja. Namun di menit-menit selanjutnya, barulah para editor tersebut memberikan alasan, kenapa pelayanan yang ada di Pustu Wosi, dimana mereka shoting, menjadi sangat minim. Alasan tersebut kemudian diketahui karena sering terjadinya pencurian di tempat tersebut. Yah, kembali tepuk tangan terdengar lagi.

Pemutaran film "Tuah Untuk Timur".
Pemutaran film “Tuah Untuk Timur”. Foto: Franciskus Romena.

Nah, di film yang ketiga, justru terbalik. Satu ruangan, hening, sepi tidak ada suara. Para penonton dibuat diam, merenung dan berfikir. Sebuah nasehat yang disampaikan Pater Yohanes Djongga, yang akrab disapa Pater John. Seorang pastor yang kini bertugas di salah satu paroki di Distrik Assolokobal. Kiprah beliau dalam pergerakan HAM (Hak Asasi Manusia) di Papua, sudah tidak asing. Apa yang beliau lakukan untuk membela warga Papua, sudah sangat banyak. Dari hanya menjadi seorang guru agama, sampai sekarang menjadi imam di Wamena. Biasanya beliau berbicara sebagai seorang pembela HAM, maka dalam film ini beliau berbicara sebagai seorang imam, sebagai seorang pastor. Posisi seorang pastor, di Wamena, memang sangat dihargai. Pantas saja, apa yang beliau sampaikan lewat film tersebut mendapat perhatian khusus. Apalagi dalam film tersebut-meski tidak panjang- beliau membahas hubungan antara adat budaya, kehidupan Wamena saat ini dan bagaimana tersebarnya virus HIV-AIDS di Wamena. Sungguh sebuah film singkat yang menyentuh. Maka, layaknya mendengarkan khotbah, tidak ada tepuk tangan setelah film ketiga itu selesai.

Pemutaran film "Jheno'.
Pemutaran film “Jheno’. Foto: Franciskus Romena

Film keempat yang mengangkat persoalan pelayanan kesehatan di Wamena, juga menyedot banyak perhatian. Bagaimana tidak, film ini bercerita tentang seorang suster muda, orang asli Wamena, yang memiliki keinginan besar terhadap perbaikan pelayanan kesehatan di Wamena. Bukan hanya sekedar keinginan, namun apa yang ia cita-citakan itu, ia praktekkan dalam kehidupan. Hampir setiap hari, ia bekerja melampaui batas waktu kerja. Ia berangkat pagi dan pulang malam. Kadang juga ia tidak langsung pulang ke rumah, karena harus mengunjungi rumah pasiennya. Bagi Dorthea Kossay, kameramen sekaligus editor film ini, mengangkat tokoh lokal yang inspiratif , sangatlah penting. Sebab dalam kondisi pelayanan kesehatan yang sering bermasalah di Wamena, dibutuhkan orang-orang asli Wamena, yang benar-benar mau memberikan pelayanan dengan maksimal. Ia berharap film ini bisa menjadi inspirasi banyak orang. Terpenting adalah, lewat film ini, ia ingin pihak yang berwenang bisa melihat dengan jelas, apa sebenarnya yang terjadi dalam proses pelayanan kesehatan di Wamena.

Pemutaran film "Ebeaila".
Pemutaran film “Ebeaila”. Foto: Franciskus Romena.

Terkahir, sebuah lagu merdu mengalun lewat dua buah pengeras suara. Lagu tersebut membuka film yang berjudul ‘Ebeaila’. Terdengar bunyi hentakan kaki dari beberapa orang, mencoba mengiringi lagu tersebut. Sejak awal, film ini memang diprediksikan akan sangat menarik. Sebab ide yang tertuang dalam film ini, adalah sesuatu yang sangat-sangat dekat dengan warga Wamena. ‘Ebeaila’, rumah yang sebenarnya. Ebeaila itu sendiri adalah satu bangunan honai yang ada di dalam Honela (dapur). Dimana dalam kehidupan Orang Balim, dikenal ada 3 jenis bangunan. Honai (rumah laki-laki), Honela (dapur) dan Ebeaila (rumah perempuan). Film ini mencoba melihat bagaimana tatanan kehidupan Orang Balim yang tertuang dalam bangunan rumah mereka. Bahwa, setiap apa yang ada dalam bangunan rumah mereka, adalah cerminan tradisi, budaya dan ajaran hidup. Apalagi sebuah ‘Ebeaila’, dimana dalam rumah itulah seorang intelektual, pegawai, politikus, kepala suku dan semua Orang Balim dilahirkan. Dan, ketika meninggal dunia, mereka juga akan kembali ke ‘Ebeaila’.  Film ini, sudah barang pasti mendapatkan tempat spesial di hati para undangan, apalagi diiringi musik asli dengan lirik yang sangat menarik. Anak muda khususnya, sangat menyimak film ini. Sebab tidak bisa dipungkiri, banyak sekali ajaran dalam Honai dan Ebeaila yang sudah dilupakan. Maka, hadirnya film ini seperti menjadi pengingat ajaran nenek moyang Orang Balim, sekaligus sebagai upaya mendokumentasikan adat dan budaya Orang Balim, ketika markanya program ‘rumah sehat’ oleh pemerintah.

Foto: Thomas Hugi
Foto: Thomas Hugi

Foto: Thomas Hugi.
Foto: Thomas Hugi.

Photo: Thomas Hugi
Photo: Thomas Hugi

Photo: Thomas Hugi
Photo: Thomas Hugi

Pemutaran selesai. Lampu dinyalakan. Barulah saya sadar, ternyata ruangan tersebut sudah penuh. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk, berdiri di sudut-sudut ruangan, sambil bersandar di tembok kayu. Saya maju dan mempersilahkan peserta juga untuk maju. Gegap gempita tepuk tangan penonton semakin menjadi-jadi, manakala dengan wajah malu-malu para peserta maju dihadapan para penonton. Para peserta tidak pernah menyangka akan seperti ini.  Tidak pernah terbayang dalam fikiran mereka, jika suatu hari mereka akan berdiri di depan banyak orang dengan perasaan bangga.  Saya dan Gelar (fasilitator) dalam program ini pun tidak menyangka, apresiasi yang diberikan masyarakat. Bahkan Patris Wetipo, seorang narasumber yang sengaja kami undang dalam pemutaran tersebut, memberikan dukungan sepenuhnya kepada para peserta. Ia sendiri berencana mengajak para peserta untuk memutar hasil workshop ini di berbagai tempat. Patris Wetipo, seorang video maker dan seorang penggiat HAM ini, juga sangat mendukung aksi-aksi seperti ini. Baginya, pergerakan pemuda di Wamena bertambah satu kelompok lagi, yang terdiri dari para pemuda yang peduli terhadap isu kesehatan. Ia juga menyatakan bahwa HAM bukan hanya tentang, dipukul orang, diambil hak tanah, atau dihilangkan nyawa oleh orang lain. Namun masalah pelayanan kesehatan juga sangat penting diketahui sebagi salah satu unsur hak dasar. Bahwa masyarakat berhak untuk mendapat pelayanan yang baik. Ia menilai, meski apa yang dilakukan oleh peserta hanya membuat video, namun secara tidak langsung para peserta juga ikut menegakkan HAM di Wamena. Terutama untuk masyarakat asli Wamena.

Patris Wetipo saat memberikan tanggapan tentang film.
Patris Wetipo saat memberikan tanggapan tentang film. Foto: Aris Mulait

Pater Theo Kosi, yang mendapatkan kesempatan kedua sebagai pembicara, mencoba melihat film-film tersebut dari kacamata seorang pastor. Pelayanan umat, bukan hanya dengan memberikan sesuatu dalam bentuk materil. Apa yang dilakukan dalam proses workshop Media Untuk Papua Sehat ini, juga salah satu bentuk pelayanan kepada umat. Beliau kemudian mecoba membedah satu-persatu film-film yang sudah diputar. Namun ada dua hal yang bagi saya sangat menarik.

Pertama adalah pandangan beliau tentang film pertama. beliau melihat masalah sampah yang terjadi di Pisugi itu adalah masalah mental. Mental Orang Balim. Orang Balim, dari nenek moyang mereka, adalah pekerja keras. Diamana, kehadiran sampah di Pisugi , yang dimanfaatkan oleh peternak babi sebagai ladang, justru menimbukan sebuah penyakit baru bagi Orang Balim. Beliau tidak mau membahas berbagai macam penyakit yang ditimbulkan akibat sampah tersebut. Namun beliau lebih melihat bahwa hadirnya sampah tersebut, membuat orang balim menjadi malas. Sebab, mereka tidak lagi menggembalakan babi mereka dengan baik, dan membiarkan babi-babi tersebut mencari makan sendiri di tempat sampah. Yang terjadi kemudian adalah munculnya penyakit baru Orang Balim yang bernama ‘malas’. Malas, berarti jauh dari ajaran nenek moyang Orang Balim.

Pater Theo Kossay saat memberikan tanggapan.
Pater Theo Kosi saat memberikan tanggapan tentang film. Foto Aris Mulait

Selanjtunya yang kedua adalah, sebagai sesama pastor, ia memberikan tanggapan terhadap film yang ketiga. Beliau memberikan tanggapan terhadap apa yang diungkapkan oleh Pater Jhon. Pater Theo Kosi adalah orang Wamena pertama yang menjadi imam di Wamena. Sebagai orang asli Wamena. Beliau membenarkan 100% apa yang dikatakan oleh Pater Jhon. Seperti misalnya, kecenderungan Orang Wamena menyalahkan pendatang, terkait merabaknya wabah yang ditimbulkan oleh virus HIV-AIDS di Wamena. Diamana kemudian, terjadi tuduhan-tuduhan yang tidak baik, terutama kepada pemerintah Indonesia. Orang Wamena mencurigai penyebaran HIV-AIDS di Wamena adalah bentuk dari Genosida atau pemusnahan manusia. Dimana pemerintah Indonesia dicurigarai ingin memusnahka ras Melanesia di Papua. Pather Theo mengatakan, “ Ini tidak benar!” Beliau menegaskan apa yang terjadi di Wamena saat ini adalah murni karena kesalahan dan kealpaan orang Wamena. Dimana saat ini, terjadi perkawinan antar fam yang sama sekali sangat dilarang dalam tradisi orang Wamena. Kemudian munculnya tradisi mabuk yang meyebabkan hilangnya akal sehat dan kesadaran orang Wamena. Maka lewat kesempatan itu, beliau mengajak semua yang hadir saat itu untuk menelaah dan mengoreksi diri pribadi. Bahwa apa yang terjadi bukan karena orang lain, namun karena kesalahan dan kealpaan kita.

Setelah Patris Wetipo dan Pater Theo Kosi menyampaikan bahasan mereka. Saya memberikan kesempatan kepada para hadirin untuk memberikan saran, masukan atau pertanyaan kepada para narasumber atau peserta. Banyak sekali yang mengacungkan tangan untuk memberikan tanggapan, bertanya, mengkritik dan bahkan ada juga yang menyampaikan pernyataan sikap mereka. Seorang tamu undangan dari sudut ruangan, berdiri dan menyatakan dukungan sepenuhnya kepada para peserta. Pemuda yang mewakili kelompoknya tersebut menyatakan kesiapan untuk ikut bekerjasama membangun wacana bermedia di Wamena. Ia juga mengajak para peserta untuk memutara video tersebut di banyak tempat, dan ia menyatakan kesanggupan untuk ikut terjun dalam setiap pemutaran.

Seorang penonton yang bertanya tentang film.
Seorang penonton yang bertanya tentang film. Foto: Franciskus Romena
Dorthea Kossay saat menjawab pertanyaan penonton.
Dorthea Kossay saat menjawab pertanyaan penonton. Foto: Thomas Hugi

Pernyataan sikap ini, sebenarnya muncul, ketika seorang penonton yang hadir memberikan tanggapan tentang, apakah para peserta dan atau narasumber sudah siap jika di belakang hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Ia memberikan saran kepada para peserta untuk melengkapi data-data yang ada, supaya ketika terjadi sesuatu, mereka memiliki dasar hukum yang kuat. Saran ini sangat berasalan. Sebab seringkali di Wamena, kritik-kritik yang baik seperti apa yang tertuang dalam film, tidak ditanggapi oleh pemerintah, atau malah dianggap sebagai hal yang membahayakan posisi pemerintah.

Oleh karena saran tersebut, satu-persatu masyarakat berdiri dan menyatakan pernyataan sikap dan dukungan penuh kepada para peserta. Termasuk salah seorang narasumber film ‘Ebeaila’, Bapak Ferry Asso, yang kebetulan hadir pada malam itu. Bapak Ferry Asso sendiri adalah seorang kepala suku perang, Suku Assolokobal. Ia menyatakan diri dihadapan semua yang hadir untuk mendukung kegiatan ini. Selanjutnya dari berbagai macam unsur masyarakat pun, berdiri menyatakan sikap. Bahkan seorang peserta, Felix Itlay, dengan gagah menggenggam tangan menyatakan kesiapan untuk menghadapi langkah-langkah berikut.

Selain itu, Pater Theo Kosi juga menyampaikan “… Saya adalah orang pertama yang menyetujui program ini ada di Wamena. Maka jika ada sesuatu terjadi, maka mereka harus hadapi saya”. Pernyataan Pather Theo Kosi tersebut,  disambut tepuk tangan yang membahana, memenuhi ruangan pemutaran.

Para peserta berdiri di depan penonton.
Para peserta berdiri di depan penonton. Foto: Aris Mulait

Bagi saya pribadi, dari awal workshop sampai proses presentasi publik ini, Wamena merupakan lokasi yang paling memungkinkan untuk berkembang, jika dibandingkan dengan lokasi yang lain (belum termasuk Timika). Sebab semua peserta sangat aktif, mulai dari proses menulis, pemetaan masalah, shoting sampai editing. Apalagi dengan dukungan penuh dari tokoh agama, tokoh pemuda dan organisasi-organisasi yang lain. Sangat memungkinkan, mereka menjadi sebuah kelompok besar. Maka pada saat evaluasi, Bang Gelar menyampaikan kepada semua peserta, bahwa mereka memiliki tanggungjawab moral kepada masyarakat yang hadir saat presentasi, yag mengharapkan peserta membawa angin segar atas pelayanan kesehatan di Wamena.

Maka sangat ironis apabila dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya tidak mau membantu apa yang dilakukan oleh anak-anak muda Wamena ini. Apalagi pengalaman bermedia yang dialamai oleh peserta, adalah penglaman bermedia yang baik, yang langsung terjun ke masyarakat, merasakan apa yang dirasakan masyarakat, menelaah keluh-kesah dan masalah yang dihadapi masyarakat serta membingkai dan mencari solusi atas apa yang terjadi dalam masyarakat.

Di akhir tulisan ini, saya kembali mengutip apa yang disampaikan oleh Pater Theo Kosi, “Malam pemuataran ini bukanlah akhir, melainkan awal dari  jalan kalian (peserta_red)”.

Design: Gelar Soemantri
Design: Gelar Soemantri
Design: Gelar Soemantri
Design: Gelar Soemantri

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *