TNT AWAL 1000 GURU PAPUA

Cerita Awal

Cerita ini berawal dari pertemuan saya dengan seorang perempuan tangguh asal Pulau Jawa, tapi besar dan lahirnya di Wamena. Kenapa di Wamena? Karena orang tuanya adalah guru di sana. Pertama kali berjumpa dengannya di Stand Lingkungan Hidup, pada saat pembukaan pameran dalam acara Hari Lingkungan Sedunia, tepatnya di gedung Emeneme Yauware Timika, Papua, yang diadakan oleh Environmental PT. Free Port Indonesia.

4

Saya terkesan melihat perempuan itu jalan dengan seorang anak asli papua. Dia merangkul anak itu bagaikan anaknya sendiri. Perlahan saya mulai mendekatinya dan terjadilah perbincangan singkat kami di stand nan sederhana itu. Ternyata dia adalah seorang guru. Saya begitu ingin mengenalnya lebih jauh lagi tapi dia keburu pergi, sehingga saya memilih mencarinya di salah satu media social. Kami mulai berkenalan lebih dekat lagi sehingga kami akhirnya menjadi teman. Tapi ada cerita yang tidak mengenakan pada perkenalan kami, ternyata di balik raut wajahnya yang bahagia, ia menyembunyikan banyak beban yang harus dipikul sendiri.  Ternyata dia terkena penyakit autoimmune dan asma yang cukup parah. Nah, itu sebabnya saya menyebutnya perempuan tangguh asal Jawa,  dan dialah yang memperkenalkan saya dengan 1000 Guru Papua. Sudah dulu ya, cerita singkat perjumpaan saya dengan perempuan tanguh itu, dan sekarang mari kita bedah tentang 1000 Guru Papua.

1000 Guru adalah gerakan inspirasi peduli pendidik dan pendidikan anak-anak pedalaman negeri. Gerakan 1000 Guru didirikan pada 22 Agustus 2012. Saat ini gerakan 1000 Guru sudah tersebar di 23 daerah di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Medan, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Malang, Surabaya, Jogja, Sulawesi Barat, Makassar, Kupang, dan beberapa daerah lainnya.

Saat ini, Gerakan 1000 Guru Regional Papua pun mulai digalakkan di Kabupaten Mimika oleh kumpulan mahasiswa-mahasiswi, guru, dan aktivis sosial lain yang peduli terhadap kemajuan pendidikan di Mimika.Tujuan program ini adalah:  pertama Traveling, mengajak semua kalangan anak muda dari berbagai latar belakang profesi untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah dan unik tentang negeri ini, mengenal budaya dan adat istiadat leluhur daerah setempat. Kedua Teaching, mengajar di tempat-tempat yang di kunjungi, berbagi ilmu pengetahuan dengan anak-anak pedalaman dan perbatasan. Yang ketiga adalah Donasi, meningkatkan motivasi belajar anak melalui pembagian alat dan bahan belajar anak.

6

Travelling and Teaching Papua, pertama dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 8 dan 9 Agustus 2015, di Timika. Sekolah pertama yang menjadi sasaran kegiatan 1000 Guru Papua Travelling and Teaching ini adalah SD Amamapare, yang berlokasi di desa Amamapare, Distrik Mimika Barat Jauh.

Pada hari pertama kegiatan difokuskan di lingkungan sekolah. Para peserta akan mengajar sesuai jadwal yang sudah disepakati dengan pihak sekolah. Metode pembelajaran yang digunakan perserta sangat bervariasi sehingga anak dapat belajar secara aktif (active learning). Selain mengajar, para peserta dan siswa-siswi akan bekerja sama untuk membuat alat peraga, yang nantinya bisa digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah tersebut.

Pada hari ke dua, kegiatan difokuskan pada kunjungan ke lokasi-lokasi yang merupakan daya tarik dari desa tersebut sebagai pengenalan akan lingkungan dan budaya masyarakat Desa Amamapare, Distrik Mimika Barat Jauh.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah antara lain:

  1. Peserta yang mengikuti kegiatan 1000 Guru Papua Travelling and Teaching mendapatkan pengalaman baru dalam dunia pendidikan dan meningkatkan kepeduliaan mereka terhadap generasi dan lingkungan Papua.
  2. Peserta yang mengikuti kegiatan 1000 Guru Papua Travelling and Teaching dapat mengeksplorasi potensinya dan memperluas wawasan tentang pendidikan dan salah satu kebudayaan di Papua.
  3. Siswa-siswi SD Amamapare mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna dengan orang-orang baru.
  4. Siswa-siswi SD Amamapare menjadi lebih terbantu dan termotivasi dalam belajar dengan adanya alat peraga yang dibuat bersama serta donasi yang diberikan.
  5. Pihak sekolah memperoleh media pembelajaran yang bisa digunakan kembali.
  6. Siswa-siswi SD Amamapare menjadi lebih termotifasi untuk belajar.

Kepengurusan 1000 Guru Papua TnT Pertama,  terdiri dari beberapa nama dan jabatan. Antara lain: Maria Tifany Yonasta  yang menjabat Ketua Regional, Yohana Simanjuntak sebagai sekretaris, Fershy Limbong Allo sebagai bendahara, Yonri S Rebolt sebagai tim kreatif, Febian Kakisina bertindak selaku humas dan Ananias Ewakipiyauta dan Abdul Haris masing-masing sebagai bagian perlengkapana.

 

Hari Pertama dimulai

Pukul 4 subuh, panitia dan peserta yang sudah mendaftara  mulai menuju tempat kegitaan menggunakan bis karyawan PT. Freeport. Sekitar 27 orang relawan yang mengikuti TnT Pertama. Sesampainya di lokasi,  kami langsung memulai proses belajar-mengajar. Latar belakang peserta dalam kegiatan ini yang mayoritas anak muda yang belum mengenal dunia belajar-mengajar, membuat peserta sedikit mengalami kebingungan pada proses tersebut.  Ada juga yang sudah gugup sebelum mengajar.

 

Proses belajar-mengajar kami jalani dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Para siswa yang kami berikan proses belajar pada hari itu berjumlah 155 orang.  Terpancar dari setiap raut wajah para siswa kegembiraan disebabkan kedatangan kami. Sehingga tak jarang para Peserta TnT ingin berbondong-bondong untuk memacarkan kasih mereka pada anak didik di sana, meski  dalam kekurangan mereka, alias tetap semangat tanpa memikirkan kekurangan yang ada pada diri peserta didik tersebut.

Hasilnya begitu mengagetkan. Menurut teman-teman yang mengajar, masih banyak siswa-siswi yang belum mengenal huruf dan belum dapat menghitung meski sudah kelas 4 dan 5 SD.  “Bagaimana mau membaca kalimat, huruf saja mereka tidak paham betul.”

Menurut info yang kami dapat dari kepala kampung dan kepala sekolah, keadaan para siswa sekarang ini mencerminkan pimpinan atau kepala sekolah terdahulu yang tidak memperhatikan kecerdasan para siswa. Lebih parah lagi sudah hampir 4 tahun, hanya ada 2 guru yang mengajar para siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Sesuatu yang begitu memperihatinkan, Di zaman yang serba modern ini masih saja ada anak bangsa yang hampir tidak merasakan sentuhan pendidikan secara utuh.

Keadaan para siswa memang menjadi kendala besar bagi kami, dengan minimnya pengetahuan yang mereka dapat selama ini, sehingga membuat kami harus mengajar lebih giat lagi. waktu mengajar yang seharusnya hanya 3 jam,  molor sampai 4 jam mengajar. Para peserta TnT pun memberikan berbagai materi ajar.

5

Setelah serangkaian proses belajar kami lalui, para siswa pun pulang,  makan siang, ganti baju dan kembali lagi ke sekolah untuk mengikuti permainan yang kami siapkan. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan semangat mereka dalam menjalin tali persaudaaran di lingkungan sekolah.

Permainan ini dimulai dari jam 3 sampai jam 5 sore.  Setiap kelompok terdiri dari 10-13 siswa. Total ada 12 kelompok yang terbagi dalam kegitan ini. Di situlah saya mengambil ahli selaku Kordinator  untuk memimpin jalannya permainan ini sampai selesai,. Saya dibantu oleh para peserta TnT. Terdapat 2 kelompok yang bertanding untuk mengumpulkan bendera dari setiap pos. Kelompok yang paling banyak mendapatkan bendera dari setiap pos, layak mendapatkan hadiah.

Betapa senangnya melihat para siswa yang begitu antusias mengikuti proses demi proses dalam permainan, seakan-akan mereka sedang keluar dari keterpurukan yang selama ini membelenggu mereka. Sungguh membakar semangat kami, melihat senyum yang terpancar  dan tertawa mereka yang lepas sangatlah menjadi hiburan dan motifasi khusus bagi kami. Mereka memang butuh suatu kebahagiaan dan itu nyata bagi kami yang menjalani satu hari ini bersama anak-anak.

Kelompok yang berhasil menang dalam permainan adalah kelompok 3 dan 10. Mereka diberikan tas dari Hanssaplas sebagai donator kami. 100 anak yang dibagikan tas dan sisanya kami berikan cinderamata berupa buku, pensil dan penghapus. Sungguh penutupan hari yang luar biasa bagaikan lagu  Immortality  yang dipopulerkan Celine Dion. Sangat romantic, menutup perjumpaan kami dihari itu.

Kini malampun tiba, agenda di malam ini adalah nonton film Ice Age 4 bersama dengan anak-anak se-Pulau Karaka, Desa Aamamapare. Ruangan SD kelas 1 kami pakai sebagai bioskop mini kami dimalam itu. Kami kaget melihat begitu banyak anak yang menonton sampai ruangan begitu penuh. Bukan hanya anak- anak SD saja yang nonton tetapi ada juga anak usia remaja tingkat SMP bahkan SMA/SMK. Para penonton membeludak sampai di jendela luar ada anak remaja yang rela naik kursi untuk menonton, “maaf ya, De…!  Ruangannya tidak muat!” Saat suasana menonton sedang asyek, keadaan yang kami takutipun terjadi, Genset yang kami pakai rusak. Berhubung di pulau itu tidak ada listrik, maka kami memnag harus menggunakan genset untuk pemutaran filem.  Akhirnya filem yang kami putar tidak sampai selesai.Perjumpaan malam yang kurang harmonis. “He he he… Yaaa sudahlah. Kami tetap semangat kok!”

 

Carita di hari kedua

Ombak yang syadu dipagi itu membangun kami dari tidur. Awan di pagi itu terlihat akan menyucurkan airmatanya, seakan-akan daerah ini bercerita, “kami butuh sentuhan kasih!” Saya termenung sejenak dalam lamunan. Saya berdoa dan berharap agar anak-anak di sini akan selalu memiliki harapan yang kuat untuk hidup yang lebih baik.

Setelah itu, kami pun bergegas untuk bantu masyarakat mempersiapakan tempat ibadah di SD Amamapare. Iya, sekolah itu memang untuk sementara dijadikan tempat ibadah masyarakat yang mendiami Pulau Karaka, Desa Amamapare. Kami Tim 1000 Guru Papua juga ikut dalam ibadah di pagi itu.  Tak mau kalah dengan masyarakat, kami juga turut menyumbang lagu yang berjudul Terima kasih Tuhan dalam proses berlangsungnya ibadah.

Bapak Fakundus Sedang menceritakan budaya kamoro da nasal mula pulau karaka

Ibadah selesai, waktu menunjukan jam 11 siang. Saaatnya melanjutkan kegiatan. Pak Fakundus, selaku kepala kampung menceritakan sedikit bagi kami tentang keadaan orang Kamoro dan sekaligus memperkenalkan budaya Kamoro bagi kami yang berkunjung. Menurut saya, sangatlah TOP, mendapatkan pengetahuan baru tantang budaya itu, bagaikan harta yang terpendam. Waktu menunjukan jam 12.00. Kami mulai mengarungi Muara Amamapare yang dikelilingi oleh pohoh mengrove yang menghiasi perjalanan kami.

Cuaca dipagi itu mendung dan kelihatan romantis. “He he he…” Tujuan khusus perjalanan adalah menyatukan semangat kebersamaan para peserta TnT. Kami menuju pulau kecil yang oleh masyarakat setempat disebut Pulau Amamapere. Bapak kepala kampung dan guru-guru juga mengambil bagian dalam perjalanan ini. Rute pertama kami putar di Desa Amamapare dan setelah itu kami menuju Pulau Amamapare. Pulau ini semacam muara kecil yang dikelilingi dengan pasir putih. Sejauh mata memandang ada laut dan ombak yang tenang.  Di belakang kami ada rumah kecil yang dibuat masyarakat untuk bermukim sejenak, dan dibelakang rumah singah itu ada berjuta-juta pohon mengrove yang menyapa kami.

Setibanya di pulau itu kami melepeskan semua kepenatan dengan foto bersama, bermain dan sharing tentang kegitan yang sudah kami lalui selama 2 hari ini. Tak lupa kami juga makan bersama.

 

Penutup

Saya termenung kembali dan melihat ke belakang, apa yang sedang terjadi pada anak bangsa? Apakah semua ini terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah ataukah kurang perhatian dari masyarakat. Mari berkaca! Sampai kapan kita harus berjalan 1000 kilometer untuk mendapatkan 1 kalimat yang biasa orang sebut dengan sejahtera dalam pendidikan? Saya tetap semangat dengan melihat perempuan tangguh itu masih berdiri kokoh, di tengah kurangnya perhatian antar sesame, dan dari dialah kami semua bisa ada di SD Amamapare untuk mengajar di sana.

3

Sunguh suatu kesempatan luar biasa dapat menjadi guru sehari dalam kegitaan ini. “Mea terima kasih sudah membuat dunia kami lebih berwana dengan kegiatan seperti ini.” Nama lengkap guru yang tangguh dan berjasa itu adalah, Maria Tifany Yonasta. Dia adalah pelaut handal. Kenapa pelaut handal? karena dalam kekurangnya dia tetap bangkit dan bermimpi untuk membuat para siswa harus memiliki motivasi dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Written By

Fabian Kakisina, biasa dipanggil Fabian, lahir di Ambon, 30 Juli, 1991. Dia aktif di Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika sebagai Koordinator PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS). Pemuda yang bersatatus sebagai mahasiswa di Universitas Timika ini memiliki hobi berenang, bermain musik dan dance. Dalam kegiatan pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat ini, Fabian berperan sebagai salah seorang partisipan dan Koordinator Lokal di Timika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *