Senyum Itu TOP

Puskesmas Mimika Baru.
Saya berharap pelayanan seperti itu dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan. Sebab, saya percaya bahwa petugas yang baik adalah petugas yang benar-benar mengabdi untuk masyarakat dan bukan mengabdi untuk uang atau kepentingan semata.

20140522_110754

Kira-kira sudah empat bulan yang lalu (Januari), terakhir kali saya mengunjungi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Mimika Baru. Kebetulan pada waktu itu, saya sakit gigi, pipi kanan saya bengkak. Dalam perjalanan menuju puskesmas, saya menutup mulut menggunakan masker (karena malu). Untuk nama puskesmas ini, sedikit membingungkan. Di papan nama yang ada di depan gedung puskesmas, tertera nama “Puskesmas Mimika Baru”, sedangkan di dalam spanduk-spanduk atau papan pengumuman yang ada di dalam gedung, tertera nama “Puskesmas Timika”. Untuk sementara, kita tak perlu bahas namanya, karena saya akan bercerita pengalaman memeriksakan gigi ke puskesmas itu.

Puskesmas Mimika Baru.
Puskesmas Mimika Baru.

Setibanya di sana, saya menuju loket antrian, kira-kira pukul 09.00 WIT pagi dan langsung menaruh kartu berobat saya di keranjang yang sudah disediakan oleh pihak puskesmas. Tidak lama menunggu, akhirnya nama saya dipanggil.

“Woooow…! Cepat?!” saya terkejut merasakan pelayanan yang cepat, tidak seperti biasanya.

Loket pendaftaran.
Loket pendaftaran.

Saya pun bergegas ke loket. Sebelum mengambil formulir, saya ditanyakan oleh petugas, “Pak, mau berobat apa?”

“Biasa, gigi!” jawab saya sambil tersenyum. Petugas pun ikut tersenyum mendengar jawaban itu, lalu masih dengan senyum, si petugas berkata, “Silahkan menunggu 5 menit, Pak! Saya cari dulu formulirnya.”

Yang saya rasakan dan pikirkan pada saat itu adalah, “Coba dari dulu begini, supaya masyarakat segan dan puas dengan pelayanan di puskesmas dan tidak langsung ke RSUD?!”

20140522_110428

Saat saya menunggu petugas mencari formulir untuk saya, seorang petugas yang lain, perempuan, bertanya pada saya, “Sudah dari kapan pipinya bengkak?? Kok ganteng ganteng pipi bengkak?!”

Saya malu dengan pertanyaan seperti itu, tetapi saya tahu niat dari si petugas adalah baik sehingga saya menjawab, “Yaaa, terlalu banyak dapat coklat dari sang kekasih, jadi begini akibatnya.” Kami pun tertawa bersama.

Poliklinik Gigi, Puskesmas Mimika.
Poliklinik Gigi, Puskesmas Mimika.

Percakapan pun berlangusng semakin dekat dengan si petugas. Kurang dari 5 menit, formulir sudah ditemukan sehingga saya dapat langsung mengunjungi poli gigi. Nasib baik berpihak pada saya karena pada saat itu jumlah pasien poli gigi sedang sedikit.

“Wiiii…! Hati senang tidak menunggu lagi,” ucap saya dalam hati. Saya berikan formulir pada petugas poli dan langsung mendapatkan pelayanan.

Alur pelayanan Puskesmas Mimika.
Alur pelayanan Puskesmas Mimika.

Petugas yang melayani saya memberikan resep obat untuk menurunkan bengkak di pipi dan berpesan untuk kembali memeriksakan gigi satu minggu sesudah obat habis sehingga gigi yang sakit dapat dicabut. Saya pun membawa resep ke apotek puskesmas dan mengikuti anjuran dokter itu.

Satu minggu kemudian, saya datang kembli ke puskesmas tersebut untuk mencabut gigi, sesuai anjuran dokter. Mulai saat itu, saya bertekat untuk tidak sakit gigi lagi karena malu kalau harus bolak-balik puskesmas dan diledek lagi oleh si petugas cantik itu. Puji syukur, sudah empat bulan berlalu, gigi saya baik-baik saja.

Denah Puskesmas Mimika.
Denah Puskesmas Mimika.

Dengan adanya program-program yang terfokus pada pelayanan kesehatan di puskesmas-puskesmas, misalnya Program Global Fun 2013-2014 dan Program USAID-Kinerja, saya rasa semuanya mulai menjadi baik. Program-program ini secara perlahan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sehingga masyarakat secara nyata dapat merasakannya. Contohnya, pengadaan peta alur pelayanan yang dipajang di depan puskesmas sehingga membantu masyarakat supaya tidak kebingungan harus ke mana dan harus bagaimana, kotak pengaduan masyarakat, petugas-petugas yang ramah, pelayanan yang tidak lama dan WC yang bersih.

Akhir kata, saya berharap pelayanan seperti itu dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan. Sebab, saya percaya bahwa petugas yang baik adalah petugas yang benar-benar mengabdi untuk masyarakat dan bukan mengabdi untuk uang atau kepentingan semata.

Maju terus!!! Kalau mundur, mari tong sama baku bantu untuk melengkapi!

Emeneme Yauware.

Written By

Fabian Kakisina, biasa dipanggil Fabian, lahir di Ambon, 30 Juli, 1991. Dia aktif di Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika sebagai Koordinator PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS). Pemuda yang bersatatus sebagai mahasiswa di Universitas Timika ini memiliki hobi berenang, bermain musik dan dance. Dalam kegiatan pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat ini, Fabian berperan sebagai salah seorang partisipan dan Koordinator Lokal di Timika.

3 Comments

  • #L I K E
    Pelayanan yg baik itu perlu. Bukan hanya pelayanan, namun fasilitasnya juga harus terjamin sehingga masyarakatpun merasa puas & tdk merasa membuang2 waktu yg lama, ataupun merasa sia-sia saat berkunjung 😉

  • Itulah pelayanan kesehatan yang patut diberi empat jempol dan harus diteladani (y) hehehe
    kalau tidak seperti demikian, penyakit akan semakin bertambah (karena stress n tekanan darah tinggi) hahahaha…
    Tapi pasien juga harus senyum yaa,,, biar ada kesetaraan n keadilan… (y)

    Mantap Kakak Febi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *