Perekam Menangkap HIV dan Obatnya

Pada hari Sabtu, 14 februari 2015, saya dan Bang Paul melakukan perekaman visual tentang aktivitas suster-suster Puskesmas Limau Asri yang berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan HIV Voluntary Counseling and Testing (VCT), atau istilah kerennya VCT door to door, yakni pemeriksaan darah dan konseling HIV secara sukarela.

Sebelumnya saya dan Bang Paul sempat kebingungan dengan maksud dari VCT itu. “Benarkah VCT-nya ke rumah-rumah warga? Bukankah ada klinik atau tempat khusus untuk menangani VCT?” begitulah benak kami saat itu.

Sebelum melakukan tes darah, suster-suster memberikan penyuluhan agar warga dapat memahami maksud dari diadakannya tes itu. Saya sedikit ragu ketika pertama kali hendak merekam visual warga yang akan memeriksakan dirinya. Alasannya, bahwa setahu saya selama ini VCT itu bersifat tertutup dan rahasia. Bahkan ada pula yang mengatakan kepada saya bahwa hasil dari pemeriksaan itu hanya diketahui oleh pasien dan konselornya saja. Sungguh berbeda dengan yang kami hadapi saat itu, semua terlihat transparan; baik pasien dan suster-susternya pun dengan blak-blakan memperbincangkan masalah HIV layaknya ibu-ibu arisan, karena kebetulan hari itu pasien mereka juga seorang ibu rumah tangga. Cara mendaftarkan pasien pun terlihat sangat santai dan nyaman seperti pendaftaran peserta arisan. Sambil sesekali dibarengi dengan candaan yang berlanjut dengan tawa dari masing-masing orang di sana, si suster menyiapkan perlengkapan tes tersebut.

 

Ilustrasi: Muhammad Sibawaihi
Ilustrasi: Muhammad Sibawaihi

 

Kami pun diizinkan untuk mendokumentasikan setiap kejadian di sana. Saya dan Bang Paul pun tidak menyia-nyiakan momen yang kami anggap langka ini. Dengan segera kami membagi wilayah shooting karena pemeriksaan terjadi di dua tempat pada rumah itu: untuk si ibu di ruang tamu dan untuk kedua anaknya yang sudah dewasa diadakan di dapur. Di ruang tamu terasa ramai dengan percakapan dan suara yang terdengar dari speaker TV membuat kami pun larut akrab dalam berkegiatan, tidak ada yang terlihat tegang di ruangan itu. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk saya agar kehadiran kamera saya tidak menjadi penghambat dalam VCT itu, tetapi secara bersamaan dapat merekam seluruh rangkaian kegiatan secara berurutan agar memudahkan kami kala hendak meng-edit nanti. Titik pengambilan gambar  ‘peristiwa pengeluaran darah’ itulah yang akan menjadi prioritas sehingga handheld kamera menjadi suatu keharusan kami untuk bisa menangkap proses ‘penangkapan’ virus, yang katanya belum ditemukan obatnya itu, pada angel yang tepat. Tidak sedikit perpindahan kamera saya lakukan ketika hendak mengikuti obyek yang saya lihat melalui LCD (Liquid Crystal Display) itu bergerak meninggalkan frame pada kamera. Di akhir sesi kunjungan itu, suster menyampaikan pesan kepada pasien agar menjaga perilaku hidup sehat dan tetap waspada terhadap HIV, karena memang pada saat itu hasil dari tesnya menunjukan hasil negatif HIV. Kemudian si suster pun berpamitan pergi dari rumah si ibu.

Sungguh, suster-suster itu membuat mata kami tercengang melihat aktivitas mereka itu. Layaknya salesman, begitulah sekiranya suster-suster ‘menawarkan barang bawaannya’, yakni Tes Darah HIV Gratis kepada para warga.

Pada Hari Senin, 16 Februari 2015, saya dan Bang Paul kembali mengunjungi Puskesmas Limau Asri dengan agenda kegiatan kami yang sama seperti pada hari Sabtu itu. Hanya bedanya kali ini Fabian dan Gelar pun turut serta bersama kami. Tetapi sampai di sana rencana kami berubah, karena kami pun harus merekam peristiwa posyandu di Kampung Iwaka. Saya dan Gelar pun bergegas ke Kampung Iwaka, sedangkan Bang Paul dan Fabian tetap di Kampung Limau Asri untuk merekam kegiatan VCT suster-suster Puskesmas Limau Asri. Sekembalinya dari Kampung Iwaka, pun saya dan Gelar tidak berkesempatan menyaksikan kembali VCT door to door itu. Tetapi kami tetap menantikan preview hasil perekaman yang dilakukan dua kawan kita itu.

Kami pun melanjutkan kegiatan dengan menuju ke Puskesmas Timika untuk merekam Kegiatan Bimbingan Teknis Mutu Layanan Konseling. Tujuan utama kami adalah untuk merekam Mami Martha Pusung dan Ibu Bertha Kamo yang akan kami jadikan tokoh dalam filem kami ini. Tapi sesampainya di sana, ternyata mereka berdua tidak berkesempatan hadir karena ada acara lain yang harus mereka hadiri. Sempat terpikir untuk segera bergegas pulang ke Rumah Yoikatra, tapi akhirnya niat kami itu kami batalkan ketika kami mendengar salah seorang konselor di sana menyampaikan pengalamannya kepada narasumber kegiatan itu.

 

Penanggung jawab KIA Puskesmas Limau Asri, Bertha Kamo (Foto: arsip Ruth Susanti).
Penanggung jawab KIA Puskesmas Limau Asri, Bertha Kamo (Foto: arsip Ruth Susanti).

 

“Rata-rata kasus yang saya lihat di Papua selalu dikait-kaitkan dengan budaya. Khusus menyangkut budaya, ini mengacu pada penemuan ramuan yang mereka sebut Obat Herbal yang dapat menyembuhkan HIV, karena setelah mengkonsumsi obat ini, beberapa bulan kemudian kondisi tubuh pasien  kembali sehat. Hal ini menyebabkan mereka percaya akan ke-mujarab-an obat dari tumbuhan itu. Satu kasus serupa pun pernah dialami paman saya, setelah dia mengonsumsi Obat Herbal itu dia bebas dari HIV dan dia mulai memberi kesaksian di mana-mana. Dia katakan bahwa kita tidak perlu lagi percaya pada Rumah Sakit, karena ramuan ini sudah mampu membunuh HIV di dalam tubuh kita. Obat yang dokter sebut ARV itu  hanya kebohongan dokter semata, dan Tuhan sudah curahkan berkat buat kita yang hidup di Tanah Papua melalui tumbuhan ini. Dan di tengah masyarakat, hal itu menjadi perbincangan heboh. Dan dua tahun yang lalu kasus ini meluas sampai ke Pegunungan Tengah Papua melalui seorang bapak dari merauke yang juga menyerukan bahwa ramuan itu dapat membunuh HIV dan dia juga membawa saksi yang sudah disembuhkan. Inilah yang membuat mereka menjadi tidak percaya dengan VCT. ‘Kan ada Obat Herbal yang sudah bisa menyembuhkan HIV?’ kata mereka. Saya sendiri menjadi bingung dan tak tahu harus menanggapi dengan apa pernyataan itu.” begitulah kira-kira kisah dari si konselor HIV yang lupa kutanyakan namanya.

Ibu Siti Nurjaya, Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) Wilayah Papua menanggapinya dengan mengatakan bahwa kita sebagai konselor ini harus peka dengan budaya, tetapi jangan sampai karena masalah budaya itu kita menjadi ‘patah arang’. Terkait dengan penemuan ramuan sejenis Obat Herbal itulah  salah satu dari kesekian banyaknya jumlah daftar tantangan kita.

“HIV ini virus dan dapat kita golongkan sebagai penyakit kronis, banyak pasien yang merasa dirinya telah sehat dan ARV pun dihentikan. Dan definisi sakit sendiri bagi kebanyakan masyarakat kita itu apabila dia sedang terkapar di tempat tidur. Selama dia masih bisa kerja dan beraktivitas, dia  katakan bahwa dia tidak sakit. dan ini pun membudaya. Dan apabila ini sampai menjadi kepercayaan maka akan susah untuk kita ubah. Banyak juga penemuan false positive HIV di lapangan. Contoh kasus, salah seorang pasien kami baru balik dari Paniai, dan mamanya mengunjungi kami sambil senyum-senyum dengan maksud hendak ‘menjatuhkan’ kami. Mamanya tahu anaknya saat dites di sana, ditemukan negatif HIV, padahal sebelumnya saat kita cek, anaknya itu positif HIV. Dahulu si mama rajin mengantar anaknya ke Klinik VCT kita dan pada saat itu hendak pendampingan HIV. Suatu waktu mamanya minta persediaan obat untuk sebulan dengan alasan hendak membawa anaknya ke  kampung. Ketika tiba di Paniai mereka mengunjungi puskesmas dan melakukan tes HIV. Awalnya hasil tes menyatakan indeterminate dalam arti ini masih belum bisa dinyatakan sebagai positif HIV atau negatif HIV dan akhirnya dia harus kembali dua minggu kemudian untuk tes. Setelah tes, hasilnya nonreaktif (tidak ada virus terdeteksi/Negatif HIV). Sehingga mama si pasien pun meminta agar dokter menuliskan surat tentang hasil tes itu yang pada akhirnya surat itu pun sampai ke kami di Jayapura. Ibunya mengatakan kepada kami bahwa anaknya merupakan salah satu dari ke 357 pasien yang sembuh dari HIV berkat ramuan herbal di kampung mereka. Saya tidak percaya dan dengan cepat menelepon dokternya untuk menggali info terkait kronologi pemeriksaan waktu itu. Akhirnya saya memberitahukan kepada mama si pasien, bahwa kami memberikan informasi tes ini berdasarkan hasil laboratorium. Kalau ibu bersedia, anak ibu akan kami tes kembali. Kita melakukan tes kembali di dua laboratorium berbeda dan hasilnya memang nonreaktif dan kasus ini saya naikkan di rapat Dinas Kesehatan Jayapura dan akhirnya berlanjut ke Musyawarah Nasional untuk mebahas masalah tes HIV. Mereka katakan bahwa kami minta maaf tidak ada pemberitahuan sebelumnya. ‘Cek per cek’ ternyata ini hasil dari penyebaran alat tes yang tidak sesuai standar prosedur. Mungkin juga ada ‘proyekan’ di dalamnya.”  Kisah Ibu Siti menanggapi kisah dari si konselor tadi.

Memang saat ini, masalah penyebaran dan pemeriksaan HIV sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab Tenaga Kesehatan saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama. Dampaknya sudah bukan lagi per individu tapi juga dapat menjadi masalah sosial yang kompleks, dan mungkin ada factor politis didalamnya. Masih kurangnya masyarakat yang mau memeriksakan dirinya ke Klinik VCT itulah salah satunya. Perumpaan gunung es memang masih cocok untuk melambangkan kekurangan itu. Kurangnya edukasi terkait HIV dan AIDS inilah faktor utamanya. Bukan hanya di Papua tapi juga di propinsi lain di Indonesia.

 

DCIM100MEDIA

Di akhir Kegiatan Bimbingan Teknis Mutu Layanan Konseling itu saya sempat berbincang dan melakuakn perekaman audio dengan Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) Cabang Timika, Kak Wildan, yang saat itu duduk disamping ibu Siti.

“Bukan hanya budaya tapi juga ilmu pengetahuan. Ada pasien yang punya pendidikan formal yang baik tapi pengetahuan HIV-nya kurang. Sebenarnya kita harus memberikan informasi HIV itu secara komperhenesif, sehingga orang benar-benar paham dan dapat menghindarinya. Kita juga tidak bisa menyimpulkan bahwa di Papua ini masalahnya lebih rumit, di daerah lain di Indonesia juga tidak beda jauh masalahnya.” Jawab Kak Wildan ketika saya menanyakan perihal masalah penyebaran informasi HIV di masyarakat.

Pola pikir dan cara kita menyampaikan informasi tentang HIV saat ini memang  harus diubah. Kita banyak mendengar seruan dari beberapa penggiat pemerhati HIV dan AIDS yang menyerukan bahwa HIV dan AIDS belum ada obatnya. Kita juga sering mendengar seruan tentang: ‘Hindari penyakitnya, bukan orangnya!’ serta ‘Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) jangan didiskriminasi dan distigma!’. Bukan hanya itu, saat ini pelaku media pun sudah mulai mengambil bagian itu; banyaknya iklan di TV dan media online dan bahkan ada filem yang mengisahkan tentang ‘kesadisan’ HIV. Maksud kita semua memang baik, namun kita tidak sadar bahwa selama ini, kita masih belum menyampaikan informasi dengan tepat dan benar. Artinya bahwa, mengatakan AIDS belum ada obatnya, itu suatu kesalahan besar! AIDS sendiri merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit akibat berkurangnya sistem daya tahan tubuh kita. Contoh, ketika penderita HIV memasuki tahap AIDS dan dia mengalami sakit malaria, bukankah malaria ada obatnya dan bisa disembuhkan? Begitupun dengan penyakit lainnya yang masuk ke tubuh pasien pada tahap AIDS.

“Bagaimana dengan HIV?”

“Apakah HIV ada obatnya?”

Sebenarnya HIV itu sama dengan darah tinggi, diabetes, dan penyakit kronis lainnya yang sudah ada obatnya, hanya saja tidak untuk menyembuhkan. Ada sebutan Terapi Antiretroviral atau ART, yakni mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat. Karena HIV adalah retrovirus, obat ini biasa disebut Obat Antiretroviral atau ARV. Memang tidak dapat mebunuh virus, tapi ART dapat memperlambat pertumbuhan virus. ART mengurangi kemampuan replikasi HIV di dalam tubuh sehingga tubuh menjadi lebih mampu melawan infeksi. Saya sendiri dapat menyimpulkan bahwa ART mengubah HIV dari virus mematikan menjadi ‘penyakit kronis’ atau penyakit menahun yang sulit disembuhkan tapi dapat dikendalikan. Sama halnya dengan Diabetes dan Darah tinggi yang sama-sama tidak mempunyai obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit ini.

Pandangan bahwa HIV merupakan ‘penyakit yang tidak ada obatnya’ inilah yang harus kita ubah di masyarakat. Sehingga masyarakat pun dapat membuat sejajar ‘derajat’ HIV dengan diabetes dan beberapa penyakit kronis lainnya sehingga tidak perlu ada stigma lagi tentang HIV. Kita sendiri dengan gencar-gencarnya menolak stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, tetapi kalau kita sendiri memberi informasi yang masih mengadung stigma – HIV tidak ada obatnya dan penyakit mematikan,  itu sama halnya kita menakut-nakuti masyarakat terkait penyebaran HIV ini dan hal inipun akan berpengaruh pada kurangnya jumlah masyarakat yang mau memeriksakan diri di Klinik VCT.

 

ILUSTRASI 2

 

Mengalami proses perekaman untuk filem dokumenter panjang kita kali ini sungguh membuat saya dan teman-teman mempunyai pengetahuan baru tentang HIV dan VCT. Setelah seharian melakukan pengambilan gambar, pada malam harinya kami melakukan preview besama tentang hasil perekaman audio dan visual yang kami lakukan dalam sehari itu. Ruang Nonton Yoikatra pada malam itu memang cukup ramai karena kebetulan pada saat itu semuanya sedang tidak sibuk. Sambil nonton, kami pun saling mengomentari hasil perekaman itu. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, yang menjadi perbincangan hangat malam itu bukan lagi tentang teknis ambilan gambar, tetapi kepada kebingungan kami tentang terobosan yang dibuat oleh Puskesmas Limau Asri itu. Berbeda dengan teori, Puskesmas Limau Asri justru membalikkan teori itu dan mengacu pada fakta dan kebutuhan di lapangan. Beberapa pekan lalu penulis sempat berbincang dengan Kepala KIA dan Konselor ODHA di Puskesmas Limau Asri, Ibu Bertha Kamo, “Kita tidak bisa tinggal diam sambil menunggu pasien datang memeriksakan diri ke Klinik VCT, sebaiknya kita sendirilah yang ‘menjemput bola’ di lapangan. Dengan demikian, harapan kita soal tingginya angka kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pemeriksaan HIV itu bisa meningkat. Masyarakat tidak lagi takut memeriksakan dirinya ke Klinik VCT sama seperti masyarakat Tes Darah Malaria. Memang ada pendampingan terhadap pasien yang positif HIV dan bila pasiennya belum mau membuka diri, kita dapat lakukan konseling itu secara tertutup dan pribadi. Tapi untuk tes HIV, itu tidak perlu secara tertutup.”

Di sela-sela preview footage, David Mustawan, salah seorang teman kami mengatakan, bahwa hal ini (VCT-red) sebaiknya jangan terlalu ditutup-tutupi, andai saja pengumuman tentang hasil tes itu seperti pengumuman di masjid kala hendak kerja bakti itu jauh lebih baik.

 

image (14) - Suasana diskusi dengan teman-teman di Timika

 

Pengumuman! berikut hasil tes HIV di triwulan ini. Ibu Susan!, hasil tes HIV anda negatif, mohon tetap dipertahankan, ya? Jaga perilaku dalam berhubungan seks dan tetap antisipasi kala hendak berkontak langsung dengan darah atau benda tajam kepunyaan orang lain. Ibu Diana! Hasil tes anda menunjukan bahwa anda positif HIV, mohon untuk ibu agar segera mengambil obat di puskesmas!” begitulah kira-kira kelakar teman saya pada malam itu. Kata-kata David ini memang terdengar meremehkan, tetapi saya mengerti maksud teman saya itu, bahwa masyarakat harus dibiasakan dengan persepsi baru, yakni HIV bukanlah sesuatu yang ‘benar-benar’ harus dihindari dan sungguh-sungguh dirahasiakan. Masyarakat memang harus bisa mengsejajarkan posisi penderita penyakit kronis lainnya dengan penderita HIV.

Written By

Yonri Soesanto Revolt, biasa dipanggil Yonri, lahir di Makassar, 25 Januari, 1992. Selain sebagai anggota PILA, Yonri juga merupakan pendiri Infiniti (Ikatan Film Indie Timika), yang juga berada di bawah naungan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika. Yonri memiliki hobi bermain musik, dan memiliki group band bernama Nolimits.

4 Comments

  • Penghapusan stigma di kalangan masyarakat memang harus dimulai dari penghapusan stigma di media juga. Nggak semua orang bisa ‘membaca’ itu, bahkan penggiat media sekali pun. Keren, Yonri! 😀

  • Apa yang ditulis, itulah yang dilihat n sesuai dengan kejadian dilapangan… (y)

    Tetapi persoalan tentang stigma (atau hal lain yang terkait) tidak bisa ‘disamaratakan’ pada semua pasien ODHA,,,
    Pengalaman yang pernah saya (petugas kesehatan) dapatkan ketika mengikuti suatu observasi lapangan, yang didalamnya secara langsung bertemu dengan pasien-pasien ODHA, tidak semua dari mereka ingin memberitahukan kondisi kesehatan mereka terutama mengenai HIV/AIDS yang diderita si pasien. Hal ini dikarenakan latar belakang (status sosial, pendidikan) dari si pasien itu sendiri yang berbeda-beda.

    Sehingga, kalau bisa dibilang: “penanganan kesehatan kepada pasien, tidak bisa melihat atas satu sisi saja tetapi melihat dari beberapa faktor (latar belakang, kebutuhan si pasien/penerima pelayanan kesehatan)”- (Prediksi cara penanganan kedepan) 😉

    Sukses buat Penulis !!! terus berkarya n GBY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *