Pengalamanku di Penayangan Filem Media Untuk Papua Sehat Timika

Syukur dan bahagia, itulah perasaanku saat ini. Perjuangan kami sebulan di kelas maupun di lapangan, serta peranan fasilitator, tidak sia-sia. Saat ini, Media Center yang kami beri nama Yoikatra, juga sudah mulai ditantang untuk terus berkarya baik dalam video, foto, maupun karya tulis.
Diskusi dalam acara penayangan video dokumenter hasil lokakarya Media Untuk Papua Sehat di Timika.
Diskusi dalam acara penayangan video dokumenter hasil lokakarya Media Untuk Papua Sehat di Timika.

Suasana garasi mobil di kantor YAPEDA, siang itu, terdengar sedikit berisik dari siang-siang lainnya. Fabian, Nurman, dan Riki terlihat sibuk mendekorasi tempat itu untuk dipakai sebagai tempat pemutaran filem dan peresmian Media Center kami pada malam harinya. Sedangkan saya, Bang Paul, dan Bang Zikri masih sibuk mengurus delapan karya filem kami yang separuhnya belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang lebih parahnya lagi, kami harus menunggu hasil render  video dari komputer yang memakan waktu begitu lama. Sebenarnya, dua hari sebelum acara, kami  sudah berusaha untuk merampungkan semuanya agar tidak kerepotan di hari H, tetapi karena seringnya pemadaman lampu di tempat kami itulah yang membuat pekerjaan kami terhambat.

“Sudah aman, kok!” begitulah jawabku ketika Fabian bertanya perihal rampungnya filem. Tapi akhirnya, kerja keras dan perjuangan kami terjawab dengan bunyi beep dari komputer yang menandakan hasil render kami telah selesai.

Saya dan Bang Zikri ketika membuka acara penayangan filem.
Saya dan Bang Zikri ketika membuka acara penayangan filem.

Cahaya surya di langit perlahan meredup terangnya digantikan gelap dan mendung yang menjadi teman rembulan. Suasana di garasi kantor YAPEDA  pun sudah dipenuhi oleh penonton yang sudah tak sabar menunggu filem kami untuk ditayangkan. Saya pun memberanikan diri untuk membuka acara dan mempersilahkan Bapak Fakundus Natipia (narasumber dari Pulau Karaka-red) untuk membawa kami dalam doa pembuka. Acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan, seperti dari Pastor Bert selaku Direktur Executive YAPEDA, Bang Mansur Zikri selaku fasilitator pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat, dan Fabian Kakisina selaku Koordinator lokal di tempat kami. Sekali lagi saya harus berdiri di hadapan penonton yang mau menyaksikan filem kami, tetapi kali ini saya harus berurusan dengan degupan jantung yang seakan-akan berkoar-koar di dada.

Para undangan mengisi buku tamu.
Para undangan mengisi buku tamu.

“Aduh! Kenapa jadi deg-degan kayak begini, ya?” seruku dalam hati. Jujur saja, saat itu saya benar-benar kurang percaya diri karena takut kalau-kalau muncul penilaian yang buruk dari penonton terhadap filem kami. Beruntung, sebelumnya saya menyempatkan diri untuk mandi dan sedikit berdandan plus pakai deodorant untuk menambah rasa PD yang mulai berkurang akhir-akhir ini, sehingga grogi yang kuderita tidak terlalu parah.

Para partisipan maju ke depan, sebelum filem ditayangkan.
Para partisipan maju ke depan, sebelum filem ditayangkan.
Pater Bert memberikan kata sambutan.
Pater Bert memberikan kata sambutan.
Bapak Fakundus memimpin doa.
Bapak Fakundus memimpin doa.

Sebelum menayangkan filem, saya membuat suatu peraturan bagi penonton dan kemudian sedikit menjelaskan tentang maksud dan tujuan pembuatan filem kami. Peraturan yang saya sampaikan tidak beda jauh dengan peraturan bioskop lain pada umumnya. Setelah semua peraturan disetujui oleh penonton, saya pun memberi instruksi untuk memadamkan lampu dan segera menayangkan filem.

Saya pun duduk di tengah-tengah penonton untuk menyaksikan hasil lokakarya kami selama  sebulan itu. Alangkah tertegunnya saya, saat menyaksikan layar yang menayangkan kumpulan filem kami yang notabene setiap malam saya tonton ketika masih di-edit.

“Gila…! Seperti ini kah filem yang tiap malam ku-edit?” teriakku dalam hati.

DSCN1590

Ruangan kecil tempat Pater (Pastor Bert-red) memarkirkan mobilnya itu benar-benar disulap menjadi sebuah bioskop sederhana. Di balik remangnya tempat kami itu, saya melihat beberapa reaksi  penonton. Mulai dari yang tertawa, marah, bahkan menangis, semua terekam jelas di ingatanku. Suasana ruangan menjadi bertambah ‘panas’ ketika filem terakhir kami ditayangkan. Betapa luapan emosi penonton meledak-meledak tatkala mereka menyaksikan realita yang tergambar jelas di dalam bingkaian filem ‘Cerita Dari Karaka’. Kalau di Timika, biasa kami istilahkan ‘mata menyala’ alias terkaget-kaget.

Screen Shot 2014-06-20 at 1.21.33 AM

Screen Shot 2014-06-20 at 1.11.43 AM

DSCN1574

Ibarat membangunkan singa tidur, begitulah luapan emosi penonton yang bisa  kurasa pada malam itu, terutama ketika kami membuka ruang diskusi. Beberapa dari penonton ada juga yang memberikan apresiasi terhadap karya-karya kami. Tetapi ada beberapa yang mengkritik karya kami dengan penuh amarah dan tanggapan yang merendahkan. Tak lepas dari itu ada beberapa juga yang mengatakan bahwa karya kami merupakan rekayasa informasi dari subjek yang menyampaikannya. Tak heran bila pada saat itu pun volume darahku naik hingga ke otak.  Aku tak sabar untuk kembali menanggapi tamparan dari kalimat-kalimat yang mereka lontarkan kehadapan kami yang kala itu duduk berbaris di hadapan mereka.

Perwakilan dari Dinas Pendidikan memberikan tanggapan.
Perwakilan dari Dinas Pendidikan memberikan tanggapan.

DSCN1621 DSCN1600

Mengumpat dalam hati, itulah yang bisa saya perbuat pada saat itu. Sebelum sempat saya memotong jumlah pertanyaan yang ada, Kak Chichi sudah terlebih dahulu meraih microphone dari pemberi pertanyaan terakhir. Beruntung kedahagaanku untuk menjawab setiap detil pertanyaan dari mereka sudah dijawab oleh Bang Zikri, sehingga saya, yang sejak tadinya naik pitam, bisa sedikit mereda. Saya lebih terpuaskan ketika Pak Fakundus diberi kesempatan untuk berkomentar mengenai tanggapan penonton yang mengatakan narasumber kami mengada-ada.

“Terus terang, kami di Pulau Karaka iu tidak punya Kepala Desa. Jadi saya, selaku aparat kampung yang ada, harus mengatur keadaan kampung sekaligus menanggapi keluhan warga di sana tanpa kehadiran Kepala Desa yang saat ini bertempat tinggal Kuala Kencana (Salah satu kawasan perumahan di Timika-red). Dan semua informasi yang terkait di dalam filem ini, kami tidak mengada-ada. Semuanya nyata! Kami sama sekali tidak merekayasa!” begitulah perkataan Pak Fakundus yang secara polos tetapi tegas diungkapan di hadapan penonton.

DSCN1626
Pak Syaipul, sebagai penanggap dari pihak Dinas Kesehatan (bersama Pak Benny, pelaku kesehatan, yang juga datang sebagai penanggap), memberikan tanggapannya.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Fakundus tadi, saya mulai memperhatikan beberapa dari penonton yang hadir mulai sadar akan sistem pelayanan kesehatan yang selama ini tidak berjalan dengan baik di Kabupaten Mimika.

Kami pun sampai pada penghujung acara, kemudian ditutup dengan foto bersama para partisipan, fasilitator, Direktur YAPEDA dan beberapa perwakilan dari Instansi yang diundang.

DSCN1601

Syukur dan bahagia, itulah perasaanku saat ini. Perjuangan kami sebulan di kelas maupun di lapangan, serta peranan fasilitator, tidak sia-sia. Saat ini, Media Center yang kami beri nama Yoikatra, juga sudah mulai ditantang untuk terus berkarya baik dalam video, foto, maupun karya tulis. Harapan kami ke depan, semoga Media Center Yoikatra menjadi pusat media yang dapat membangun Kabupaten Mimika dalam bidang informasi dan komunikasi terkait dengan isu sosial-budaya yang belum tercapai dan berpihak kepada rakyat serta selalu menjunjung tinggi nilai estetika yang ada.

Written By

Yonri Soesanto Revolt, biasa dipanggil Yonri, lahir di Makassar, 25 Januari, 1992. Selain sebagai anggota PILA, Yonri juga merupakan pendiri Infiniti (Ikatan Film Indie Timika), yang juga berada di bawah naungan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika. Yonri memiliki hobi bermain musik, dan memiliki group band bernama Nolimits.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *