Jangan Sampai Standar Pelayanan Minimal Jadi Standar Pelayanan Macet

Semua tergantung pada kita, mau bertindak atau tunggu sakit dulu baru bertindak. Jika hanya diam menunggu, Standar Pelayanan Minimal hanya akan berubah menjadi Standar Pelayanan Macet.

Bicara soal kesehatan yang tidak pernah putus, ibarat makan tiap hari dengan lauk yang sama dari Pasar Central Timika, Papua. Ketika kita bicara kesehatan, ia selalu disangkutpautkan dengan kesehatan yang begitu-begitu saja (tanpa ada perkembangan) dari dulu. Entah masalah bangunan kesehatan, pengobatan atau pelayanan. Topik hangat inilah yang selalu menjadi buah bibir di dunia kesehatan.

Pertanyaan yang pasti akan timbul di benak masyarakat, yaitu apa peranan Pemerintah (baik pusat maupun daerah) sejauh ini dalam melihat masalah kesehatan di bumi Mimika? Bagaimana cara Pemerintah menyelesaikan ini? Kalau sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), mengapa tidak ada dampak berarti yang terjadi atau terlihat? Saya terkadang heran dengan masyarakat yang selalu memojokan pihak pelayan kesehatan dengan pertanyaan di atas, tapi apakah masyarakat sendiri sudah mengawal pelayanan itu? Apa peranan masyarakat sejauh ini dalam melihat itu? Bagaimana masyarakat melihat secara pro pelayanan itu? Dan apa saja yang sudah masyarakat lakukan untuk membantu pihak kesehatan?

Manusia, siapa pun, pasti tidak menginginkan dirinya atau keluarganya sakit, kecuali manusia yang tidak waras. Setiap dari kita tentunya ingin sehat. Nah, cara yang paling baik supaya kita tidak sakit terus, yaitu jaga kesehatan lingkungan dan diri sendiri. Percuma kita sering protes, tetapi tidak ada jalan keluar untuk hidup yang sehat. Protes itu baik, namun bagaimana dengan orang yang sering protes, tetapi malas tahu dengan kesehatan dan sering juga buang sampah sembarangan? Dampak dari sampah, kita semua sudah tahu: Timika terkenal dengan penyakit malaria yang tiap tahun menurun dan meningkat, kenapa kita masih selalu terjebak dalam belenggu itu?

Ya, pastinya karena kesadaran kita sendiri yang belum terbangun dengan baik. Biasanya, tunggu sakit parah barulah mulai memerhatikan lingkungan dan kesehatan. Kalau sudah dalam keadaan sakit, sesampainya di Puskesmas atau Rumah Sakit, memrotes lagi karena pelayanan yang tidak sesuai dengan SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan pelayanan yang bertele-tele. Menurut saya, pada dasarnya manusia itu sama, memiliki emosi yang tidak stabil dan terkadang sulit ditebak. Toh, sikap itu masih dalam taraf normal, manusia itu mahkluk sosial yang tidak sempurna.

Kata “sosial “juga memiliki dua makna dalam kebiasaan kita berucap yaitu sosial yang orintasinya uang dan ada pula yang karena terpanggil untuk menolong atau ikhlas. Mari berkaca! Kita ini manusia yang berorientasi apa? Petugas kesehatan pun tidak semuanya baik, entah karena faktor uang, keluarga, kolega atau pun istri/suami muda.  Intinya adalah kita saling membutuhkan antara petugas dan masyarakat. Sebab, tanpa masyarakat, petugas-petugas mau melayani siapa, dan tanpa petugas kesehatan, masyarakat mau bagimana?

“Di atas peraturan ada kebijakan!”

Kalimat itu, kalau muncul, pasti menimbulkan pelbagai opini publik, misalnya apakah sejauh ini kebijakan yang berpihak kepada rakyat itu masih ada? Dengan kondisi yang dari dulu sama? Istilah “kebijakan untuk rakyat” yang dipakai secara membabi buta atas dasar kerakyatan yang sering disalahpahami dan disimpangkan itu, sulit dijangkau oleh rakyatnya sendiri. Seolah-olah, rakyat jauh dari kata itu. Kalau sudah melihat keadaaan seperti ini, bagaimana nasib rakyat kedepannya? Semua tergantung pada kita, mau bertindak atau tunggu sakit dulu baru bertindak. Jika hanya diam menunggu, Standar Pelayanan Minimal hanya akan berubah menjadi Standar Pelayanan Macet.

Written By

Fabian Kakisina, biasa dipanggil Fabian, lahir di Ambon, 30 Juli, 1991. Dia aktif di Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika sebagai Koordinator PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS). Pemuda yang bersatatus sebagai mahasiswa di Universitas Timika ini memiliki hobi berenang, bermain musik dan dance. Dalam kegiatan pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat ini, Fabian berperan sebagai salah seorang partisipan dan Koordinator Lokal di Timika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *