“Ibu Bidan Kenapa Anak Itu Rekam-Rekam Perutnya Kita?!”

Aktifitas timbang bayi di posyandu Pulau Karaka.

Pukul 7 pagi, cuaca terlihat begitu cerah. Saya bergegas untuk mengambil gambar ibu hamil yang sedang memeriksakan kandungannya di Puskesmas Timika. Jarak dari rumah ke puskesmas kurang lebih 2 km. Saya memakai jasa ojek untuk sampai ke sana dan biaya yang saya keluarkan untuk membayar jasanya hanya Rp5.000,00. Akan tetapi saya tak lupa dengan tanggung jawab saya sebagai anak sekolah, yaitu harus pergi ke sekolah. Saya mempertimbangkan hal itu dengan membagi jadwal perkiraan pengambilan gambar menjadi satu jam setelah selesai lanjut ke sekolah. Saat di tengah perjalanan, hujan deras datang menghambat perjalanan saya. Namun, karena saya harus mengambil gambar lagi dan ada pembekalan Ujian Nasional (UN) di sekolah, saya harus berhujan-hujanan. Kalau saya tidak berhujan-hujanan, bisa-bisa sudah tidak ada lagi ibu hamil yang periksa, kemudian, saya bisa tertahan dan terlambat ke sekolah sehingga tidak bisa lagi mengulang materi yang sudah diberikan oleh guru.

11206136_406020616270606_5698657093978846609_n

“Kak Nurman, ayo kita jalan sudah, nan sa terlambat!”

“Ah, ko sabar sedikit, hujan ini, sa tra mau kena hujan. Tunggu hujan reda sudah,” jawab Kak Nurman.

“Tapi ini masih deras, mau sampai kapan menunggu. Kalo kita mau nunggu pun pasti saja masih ada gerimis, nan di puskesmas su tra ada orang,” kata saya yang akhirnya di-iyakan oleh Kak Nurman.

Sesampainya kami di puskesmas, dengan basah kuyup saya langsung menuju ruang Kepala Puskesmas Timika untuk meminta izin agar bisa rekam aktivitas kelas ibu hamil yang ada di Puskesmas Timika, khusunya di ruang KIA. Saat di ruang Kepala Puskesmas, saya bertemu dengan salah satu petugas puskesmas yang kemudian memberitahu saya bahwa ibu Kepala Puskesmas sedang tidak di tempat. Ia pun meminta saya menunggu sebentar agar ia menghubungi ibu Kepala Puskesmas. Beberapa menit kemudian ia memberitahukan bahwa saya diberikan izin untuk mengambil gambar di ruang KIA.

Dengan pengaturan exposure secara otomatis dan tanpa tripod saya langsung masuk untuk merekam aktivitas kelas ibu hamil yang ada di ruang KIA. Akan tetapi, sebelum saya mulai merekam, saya harus bertemu dengan bidan yang bertugas di hari itu untuk menyampaikan lagi tujuan pengambilan gambar ini, dan bahwa kami telah diberi izin oleh ibu Kepala Puskesmas. Karena saya terlambat, ditambah lagi belum tahu alur layanan di KIA, saya melakukan pengambilan gambar secara acak. Saya memulai dengan mengambil gambar ibu-ibu hamil yang sedang antri menunggu namanya dipanggil. Setelah itu ada gambar ibu-ibu yang sedang mendaftarkan namanya karena baru pertama kali periksa. Pun saya melihat ada mahasiswa yang sedang praktik di sana, jadi saya pikir, tidak ada salahnya untuk ambil gambarnya.

Puskesmas Mimika Baru.
Puskesmas Mimika Baru.

Sebelumnya saya belum paham betul dengan kesehatan ibu dan anak, saya masih bertanya-tanya kesehatan ibu dan anak itu apa. Rasa keingintahuan saya mengenai kesehatan ibu dan anak memberikan jawaban ternyata kesehatan ibu dan anak tidak jauh dari kehidupan saya sehari-hari. Hanya saja, saya yang tidak menyadari bahwa kesehatan ibu dan anak itu ada di lingkungan sekitar saya. Kesehatan ibu menurut saya adalah keadaan dimana ibu secara sadar memeriksakan kandungannya dengan rutin dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan/bidan dari proses hingga melahirkan bayi dan merawatnya.

Pada hari Senin saya melanjutkan pengambilan gambar karena footage yang saya ambil tidak bisa dipakai. Memang, sebelumnya Bang Gelar dan Bang Paul (fasilitator dari Halaman papua) berpesan, bahwa footage yang harus diambil berfokus pada USG, namun di Puskesmas Timika belum dilengkapi fasilitas USG. Alat-alat yang ada hanyalah alat yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung pada janin (Doppler lotus LCD), tetapi Bang Gelar dan Bang Paul berkata, “Tidak apa-apa ambil saja,”.

Peserta kelas ibu hamil begitu banyak dan petugas yang bertugas berjumlah sekitar 8 orang sehingga ruangannya berkesan terlihat sempit sehingga menyulitkan saya untuk mengambil footage ibu hamil yang sedang diperiksa kandungannya. Apalagi ibu hamilnya terkadang ada yang protes, “Ibu bidan kenapa anak itu rekam-rekam perutnya kita?!” Mendengar peryataan itu saya merasa takut dan sempat menghentikan perekaman karena bisa saja mereka marah dengan saya karena merekam perut mereka.

pasien marah-marah_14

Kejadian tersebut membuat saya berpikir lagi, bagaimana jika saya sedang hamil dan memeriksakan kandungan, lalu tiba-tiba ada orang asing yang merekam perut besar saya? Apalagi, kita tahu bahwa akan ada orang lain lagi yang melihat hasil rekaman itu. Hal itu akan membuat saya malu. Perasaan itu lah yang membuat saya takut. Namun, untungnya salah seorang bidan menjelaskan, bahwa saya adalah anak Komunitas Yoikatra, komunitas bimbingan Pater Bert. Bidan itu menjelaskan bahwa saya ingin merekam aktivitas kelas ibu hamil yang ada di Puskesmas, khususnya di ruang KIA.

Memang mungkin seharusnya, sebelum memulai pengambilan gambar, kita harus mendapatkan izin, dan juga harus melakukan pendekatan dan menyampaikan maksud dan tujuan kepada seseorang yang akan kita jadikan objek sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan perselisihan.

Waktu berjalan begitu cepat , sudah waktunya untuk saya pergi ke sekolah. Akan tetapi, karena footage yang saya butuhkan belum terpenuhi maka saya melanjutkannya daripada saya harus mengulang pengambilan gambar, lebih baik sekalian saya cari tahu tentang alur layanan kelas ibu hamil.

Sambil menikmati panasnya bakso yang menjadi makan siang saya, saya melihat kembali footage-footage yang saya ambil. Dari footage tersebut, saya belajar meskipun tidak banyak tentang alur layanan kelas ibu hamil di ruang KIA. Pertama untuk seorang ibu yang melakukan kunjungan, pertama ia harus memiliki buku posyandu. Buku posyandu itu nantinya dibawa ketika melakukan kunjungan berikutnya agar mengetahui sejauh mana perkembangan janinnya. Untuk bumil yang sudah mempunyai buku posyandu langsung saja meletakkan bukunya di meja agar petugas KIA mengisi formulir, dan akan dipanggil satu persatu.

IMG_20140607_102209

Nah, kegiatan apa saja yang dilakukan di kelas Ibu Hamil? Pertama, ibu hamil malakukan tes darah (Malaria, TB, dan HIV). Kedua, tensi; supaya mengetahui tekanan darahnya, karena ibu yang sedang hamil tekanan darahnya sering tidak stabil. Ketiga, diukur lengannya karena biasanya seorang ibu hamil megalami pembekakan di seluruh tubuhnya. Keempat, ditimbang supaya mengetahui berat badannya. Selanjutnya, diperiksa perkembangan bayinya dengan cara mengukur lingkaran perut janin dan mendeteksi detak jantung pada janin. Kemudian si ibu menjelaskan keluhan apa saja yang di rasakan, agar petugas memberikan vitamin/obat.

Mengapa ibu hamil penting untuk melakukan pemeriksaan? Untuk seorang ibu hamil kesehatan sangat dibutuhkan karena menunjang kesehatan janinnya (calon bayi). Kesehatan adalah keadaan sejahtera baik fisik, emosional, maupun sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dengan begitu, kesehatan sangat menunjang kehidupan seseorang.

“Ibu bidan, kok saya sering merasa sakit gigi yah? Tapi sakitnya tidak seperti biasanya,” ujar seorang ibu.

“Ibu sudah hamil yang ke-berapa?” tanya perawat.

“Hamil yang ke-empat,”

“Memang seperti itu, ibu, karena gigi menyimpan banyak asupan kalsium yang dibutuhkan oleh janin. Jadi ibu banyak-banyak minum susu,” terang perawat.

Ibu hamil juga butuh nutrisi. Mengapa demikian? Seperti yang kita semua tahu, nutrisi pada ibu hamil berbeda dengan yang lainnya. Makanan pada ibu hamil disesuaikan dengan asupan gizi yang dibutuhkan oleh calon bayi yang ada di dalam kandungan. Hal itu lah yang membuat nutrisi ibu hamil akan selalu berubah seiring dengan usia kandungan. Saat trisemester kedua masa kehamilan, pertumbuhan janin berkembang dengan cepat, sehingga ibu hamil membutuhkan asupan gizi.

Wah, dengan proses pengambilan gambar yang waktu itu saya lakukan, saya bisa belajar banyak tentang kesehatan ibu dan anak

Written By

Lina Ningsih, lahir di Larowiu, tanggal 16 November, 1997. Saat ini, Lina duduk di kelas 2, SMK Rajawali, Timika. Ia aktif di PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS) sejak tahun 2010, dan ikut bergabung menjadi pengurus harian tahun 2013. Dalam pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat, Lina turut aktif mengikuti kegiatan dan turut berkontribusi dalam produksi tulisan dan video.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *