Cerita Bercermin

Anak-anak SMA yang sedang merayakan hari kelulusan mereka.
Satu hikmah yang bisa kusampaikan dari ceritaku ini, janganlah kita menjadi orang yang mendiskriminasi mereka, para ODHA. Kita tidak perlu menjadi seperti pintu kamar Kak Chichi yang selalu tertutup. Kita juga jangan sampai membuat mereka ibarat kamar si Plasidus di siang bolong plong plong plong.
Kantor Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika.
Kantor Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) Timika.

Suasana di siang ini begitu damai, semua penghuni Yayasan Peduli AIDS Timika (YAPEDA), tempat di mana kami menginap, tepatnya di Jalan Busiri, entah pada kemana.

“Yah, mungkin karena lagi jam istirahat, jadi semua pada enggak nongkrong di kantor,” pikirku.

Cuaca di luar ruangan tempat aku menulis luar biasa panasnya. Ditemani musik yang diputar oleh Bang Zikri, teman sekamarku, aku menulis serangkaian tulisan pendek, sekedar mengisi kekosongan waktu akibat belum dapat pekerjaan yang tetap untuk kehidupanku. Kutengok keluar jendela, terlihat balkon di depan kamar, sepi. Kembali kuterbayang masa bersama salah seorang teman, ODHA (Orang Dengan HIV & AIDS), sebut saja Rio. Dia sebaya denganku dan biasa menemaniku ngopi di balkon tersebut. Kini Rio telah berpulang ke rumah yang damai di sana, sekitar tahun 2013, tetapi kenangan tentangnya, yang meskipun hanya sedikit kami lalui, tetap menjadi serangakaian esai dalam memoriku. Kamar yang kupakai untuk menulis ini juga adalah kamarnya, dengan cat dinding berwarna krem dengan bingkai jendela berwarna biru, sungguh membuat damai suasanaku dalam menggoreskan pena di lembaran kertas kusut ini. Sungguh kamar ini terasa sangat damai.

Pemandangan melalui jendela dari kamar tempatku menulis.
Pemandangan melalui jendela dari kamar tempatku menulis.

“Kamar ini nyaman Yon, kalau siang rasanya begitu tenang,” kata Rio ketika aku bertandang di kamarnya kala itu.

“Keluargamu biasa datang kemari tidak, Bro?” ketika kutanya begitu, Rio terdiam. Awalnya, aku sempat berpikir untuk mengulang pertanyaan itu kepadanya, tetapi saat kulihat raut wajahnya yang terdiam membisu sambil menatap ke lantai, aku menjadi enggan untuk kembali bertanya.

Ingatan selintas tentang pertanyaanku kepada Rio waktu itu, menyebabkanku kembali termenung sambil meremas pena di jariku. “Sedih…” pikirku. Sungguh perhatian dan kasih sayang itu sangat begitu berarti untuk teman-teman kita yang menjadi korban HIV dan AIDS. Kegiatanku sebagai pemerhati korban HIV dan AIDS sejak tahun 2007 ini memberiku banyak kenangan mengenai kehidupan kawan-kawan kita yang sudah menjadi korban virus yang sampai sekarang ini belum ada obatnya.

Suasana kamar Plasidus.
Suasana kamar Plasidus.

Suntuk di dalam kamar, aku keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah melewati tangga. Pandanganku teralihkan ke pemandangan kamar temanku, Plasidus, seorang pemerhati korban HIV sama sepertiku. “Oh, rupanya Sidus sedang ke sekolah,” bisikku dalam hati. Kutengok ke dalam kamarnya, terlihat sangat berantakan. Ditambah cuaca yang panas dan jendela yang tertutup. “Oh my God! Super duper pengap kamar temanku ini.”

Ketika selesai berurusan dengan air di kamar kecil, aku kembali manaiki tangga dan melihat kamar Kak Chichi yang terletak di sebelah kamar Plasidus. Ternyata, sudah ada orang. Sempat kutengok sekilas dari balik celah pintu yang terbuka sempit itu. “Tumben kamarnya terbuka, biasanya pintunya selalu tertutup, bahkan isinya pun tidak aku tahu…” kataku dalam hati sambil berjalan ke arah kamarku.

Pintu kamar Kak Chichi yang selalu tertutup.
Pintu kamar Kak Chichi yang selalu tertutup.

Kembali kuraih pena yang tergeletak di samping asbak. Kutuliskan beberapa kalimat, tetapi kembali kuhapus. Aku, rasa-rasanya, menjadi gusar sendiri melihat kedua kamar yang berada di dekat tangga tadi. Kucoba cerminkan keadaan kedua kamar itu dengan kehidupan beberapa tema-teman kita yang terjangkit HIV. Ya, persis seperti kamar Plasidus dan kamar Kak Chichi tadi. Kamar Plasidus yang berantakan, panas, dan pengap. Kira-kira, seperti itulah perasaan mereka, para ODHA, saat ini. Berantakan karena tidak diperhatikan, panas karena sering dipandang sebelah mata, dan pengap karena tidak bisa mencurahkan isi hati mereka karena takut diumpat. Kamar Kak Chichi, yang lebih sering tertutup. Kira-kira seperti itu pulalah yang terjadi pada ODHA: tertutup. Kalau bukan mereka yang menutup diri karena rasa malu, seringkali kita, masyarakat, juga tertutup pikirannya untuk menerima keadaan mereka.

DCIM100MEDIA

Kembali aku menerawang jauh bayang-ingatan pengalaman di pertengahan Bulan Mei, tahun 2011. Kala itu, kami yang berperan sebagai panitia Malam Renungan AIDS Nusantara mengadakan acara kecil-kecilan dengan ayam bakar sebagai menu utamanya. Sungguh, suasana hari itu benar-benar penuh suka-cita sekaligus mengharukan bagi kami yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Di tengah-tengah kami, ada seorang ibu yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri. Bersama suaminya, kami saling menertawakan tingkah laku kami yang ketika makan sangat tidak “tahu aturan”. Kejadian itu terjadi persis berada di bawah ruangan tempat aku menulis ini. Aku menitikkan air mata, kubayangkan seyuman si ibu yang begitu tulus melayani kami dalam menyajikan makanan. Perempuan paruh baya yang badannya kurus itu tidak pernah sekali pun kulihat bersedih, tetapi kutahu betapa dalam kesedihan yang dia pendam, bayi laki-laki satu-satunya pasangan suami-isteri itu harus pergi meninggalkan mereka karena mengidap virus yang sama. Kami, para pemerhati, selalu punya tekad untuk membuat senyumannya itu selalu utuh buat kami.

“Sering-sering main ke sini, ya, kalau tidak sibuk! Sepi kalau tidak ada kalian yang suka berisik di sini,” si ibu berkata, yang kala itu diiringi dengan tawa kecil di bibirnya.

Begitulah, kuingat pesan ibu ketika aku dan teman-teman hendak pulang ke rumah sehabis mangkal dari tempat si ibu.

“Mana janjinya, katanya mau ngerujak bareng…?” itulah kata-kata terakhir yang kukenang ketika terakhir kali bertemu dengan beliau. Sebelumnya, pernah kujanjikan rencana mengadakan acara “Rujak Bareng” di kediamannya. Akan tetapi, rencanaku bukanlah rencana-Nya, karena kami harus kehilangan sosok beliau pada pertengahan tahun 2013.

Abang Zikri sewaktu sibuk di depan komputer.
Abang Zikri sewaktu sibuk di depan komputer.

Angin dari luar jendela perlahan terasa adem. Bang Zikri keluar ruangan, sedangkan Bang Paul masuk menggantikan posisinya di depan komputer. Dia datang nongkrong dan duduk persis di sampingku. Sambil main catur di komputer, dia memutar musik yang agak funky.

“Lumayanlah, ada yang nemenin aku selesaikan tulisan ini…”

Suasana kantor YAPEDA di siang hari.
Suasana kantor YAPEDA di siang hari.
Tempat pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat (dari Forum Lenteng) dilaksanakan, yakni di ruangan garasi mobil kantor YAPEDA.
Tempat pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat (dari Forum Lenteng) dilaksanakan, yakni di ruangan garasi mobil kantor YAPEDA.

Tiba-tiba, di luar terdengar suara ramai berisik enggak jelas. Bergegas aku keluar kamar. Kutengok, ternyata sekelompok bocah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang merayakan hari kelulusan mereka. Betapa mereka hanyut dalam teriakan suka ria. Sesekali, mereka berfoto narsis. Kulihat, sebagian mereka ada yang bergaya metal sambil nunjukin gigi kuningnya yang bercahaya, ada juga yang senyum sambil menggantung rokok di bibirnya (“Awas dilihat ortu, loh!” seruku dalam hati). Ada juga yang memamerkan lidahnya sampai menyentuh hidungnya (“Lidahnya sampai nyentuh ingusnya juga, deh!” pikirku lagi). Ada juga yang berpeluk-pelukan ala teletubies dibarengi cipika cipiki (“Mau gabung dong…!!!” teriakku dalam hati). Baju SMA mereka, yang tadinya kuyakini putih bersih, kini telah berubah menjadi corak pelangi mejikuhibiniu dan beberapa ada yang cuma punya dua corak warna, merah dan putih. Pikirku, mereka menjadi “cinta tanah air” ketika mereka diumumkan lulus sekolah.

Anak-anak SMA yang sedang merayakan hari kelulusan mereka.
Anak-anak SMA yang sedang merayakan hari kelulusan mereka.

Hari kelulusan SMA memang sungguh hari yang paling bahagia dalam sejarah para anak sekolahan. Aku pun pernah mengalaminya. Di kota tempatku berada, di Timika ini, hampir semua rumah yang punya anak usia SMA, ketika hari kelulusan, pasti akan mengadakan acara meriah. Bahkan, ada orang tua yang menyediakan minuman keras (miras) dalam jumlah partai (berjumlah sangat banyak-red) untuk dikonsumsi bersama si anak yang telah lulus. Ada juga, bagi yang anak gadis, “celananya jatuh” (hilang keperawan-red) akibat perayaan kelulusan itu.

DCIM100MEDIA

Tak heran, bila di Kabupaten Mimika ini, angka HIV+ cukup tinggi, salah satunya, ya, dipicu oleh tindakan perayaan kelulusan tadi. Dari pesta, pindah ke miras, dan beranjak ke seks bebas. Yang lucu, dari perayaan-perayaan kelulusan semacam ini di Timika, ada beberapa orang yang setelah pengumuman lulus, akan berbondong-bondong mendaftar di Kantor Urusan Agama beberapa hari setelahnya. Ya, salah satunya, ada yang merupakan temanku juga. Hehehehe…! Ini sindiran kecil saja. Kebetulan, itu juga terlintas di otakku, jadi aku tulis saja.

Anak-anak sekolah lulus

Tengok-menengok, teropong-meneropong, oke kita kembali bercermin! Kita juga bisa melirik satu sisi lain yang layak untuk jadi renungan. Bingkai senyuman dari corat-coret kelulusan anak SMA tadi, terasakah untuk ODHA? Apakah kita juga mau memberi warna pada mereka sembari tersenyum dan bahagia bersama? Inginkah juga kita cipika-cipiki dan berpelukan dengan mereka?

Satu hikmah yang bisa kusampaikan dari ceritaku ini, janganlah kita menjadi orang yang mendiskriminasi mereka, para ODHA. Kita tidak perlu menjadi seperti pintu kamar Kak Chichi yang selalu tertutup. Kita juga jangan sampai membuat mereka ibarat kamar si Plasidus di siang bolong plong plong plong. Akan tetapi mari kita ikut saling berpelukan bersama mereka sembari merayakan hari kelulusan kita menjadi saudara sebangsa dan setanah air. Yah, nggak perlu sampai ke KUA. Berpelukan sebagai tanda persahabatan itu, saya rasa, sudah cukup, kok!

Written By

Yonri Soesanto Revolt, biasa dipanggil Yonri, lahir di Makassar, 25 Januari, 1992. Selain sebagai anggota PILA, Yonri juga merupakan pendiri Infiniti (Ikatan Film Indie Timika), yang juga berada di bawah naungan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika. Yonri memiliki hobi bermain musik, dan memiliki group band bernama Nolimits.

3 Comments

  • Cerita Bercermin keren sekali kk pesannya sampai…
    kata”nya m3ngenai kelulusan itu semua dapat kena sekali karba istilahnya yg selalu di pakai anak” mudah sekarang di papua Trimakasih GOD LuCK.

  • Nice Story,,,
    banyak hal di sekeliling kita yang bisa kita jadikan ilustrasi dalam jalan cerita hidup ini (berpuisi ceritanya,,, hehehe)

    untuk hal diatas memang benar,,,
    setidaknya tulisan ini menjadi inspirasi bagi pembaca agar tidak mendiskriminasi ODHA…

    Terima kasih buat tulisannya !!!
    semangat tuk buat tulisan yang banyak membuat orang-orang bercermin 🙂 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *