Suster Iriani: Pasien Harus Diperhatikan dan Dilayani

“Sa (saya-red) jadi perawat itu sejak SMP, waktu itu sa ikut kakak sa yang perawat bidang. Sa sendiri sebenarnya tidak punya cita-cita atau niat menjadi seorang perawat. Tetapi ketika mengikuti kakak, saya merasa tertarik dengan kerja pelayanan seperti ini. Bisa menyembuhkan orang dan menyelamatkan nyawa orang”

Begitulah Suster Iriani Laelaim mulai mengisahkan pelayanannya terhadap warga di Kabupaten Jayapura. Suster Iriani adalah orang yang senang bercerita dan akrab dengan siapa saja. Hal ini saya alami ketika berkenalan dan bercerita dengan suster. Semakin memperkuat perkataan saya ketika mendengar cerita dari Stefanus Abraw yang sudah lama mengenal Suster Iriani. Selain itu, ketika melihat hasil footage dari Stefanus Abraw dan Aloisius Rahawan yang mengikuti pelayanan Suster Iriani, dengan jelas tergambarkan bagaimana suster membangun relasi dengan pasien dan masyarakat serta kepala puskesmas dan rekan kerjanya. Relasinya yang akrab dengan warga membuat ia bisa berbahasa daerah dengan warga setempat.

suster iriani

Suster Iriani Laelaim lahir di Waena, Kota Jayapura pada 19 Mei 1979. Ia menyelesaikan studi keperawatannya di Uncen Jayapura pada tahun 2000-2003. Dinas keperawatannya pertama kali di Pustu Skori Aimbe, Distrik Kemtuk Gresik Kabupaten Jayapura pada tahun 2006 – 2009. Awal melaksanakan misi pelayanannya, Suster Iriani merasa takut dan was-was. Tempatnya sangat jauh dan tidak ada orang yang ia kenal sesaat terpikir di benaknya. Untuk mengatasi kesendiriannya, ia meminta mamanya menemani dalam tugas awalnya. Walau demikian, ia sangat senang melakukan tugasnya sebagai suster, terlebih saat ia diterima dengan hangat oleh masyarakat Skori Aimbe.

Pengalaman yang paling berkesan sepanjang saya menjadi suster hingga saat ini yaitu, sewaktu tugas pertama ke wilayah masyarakat asli, sekitar tahun 2006, dan saya merasa sangat stress. Selain asing, lokasinya pun sangat jauh, dimana saya harus melewati jalan setapak namun semuanya terbayar dengan rapih dan hangatnya masyarakat desa ketika saya tiba.

Sekarang Suster Iriani melayani warga di wilayah pelayanan Puskesmas Kanda, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Di tempat yang baru ini, Suster Iriani harus beradaptasi dengan warga dan kebiasaannya serta rekan-rekan kerjanya. Kalau di Pustu Skori Aimbe, ia sendirian. Di tempat tugas pelayanan yang baru ini, ia harus berbaur dengan rekan-rekan yang lainnya. Pada tahun 2009 sampai saat sekarang ini, Suster Iriani terus berkarya dan melayani warga di Puskesmas Kanda. Walaupun demikian, dari penuturannya, warga di tempat tugas pertamanya menghendakinya untuk kembali lagi ke Skori Aimbe. Permintaan warga tersebut tak bisa dijawab karena semuanya tergantung pada pimpinannya.

“Sekarang seorang putera daerah yang bertugas di tempat itu (Skori Aimbe). Walaupun putera daerah, petugasnya jarang di tempat. Hal inilah yang membuat warga meminta saya ke sana lagi. Mereka pernah datang ke Kantor Bupati Jayapura untuk meminta kepada pemerintah agar saya dikembalikan lagi ke Skori Aimbe”, kata Suster Iriani.

Di daerah pelayanan Puskesmas Kanda, Suster Iriani dan rekan-rekannya melayani 7 kampung. Para petugas kesehatan di Puskesmas Kanda sebanyak 24 petugas, mereka terdiri 7 staf kontrakan, 5 orang magang, 12 tenaga tetap. Ketujuh kampung yang mereka layani adalah Doyo Mambar, Doyo Baru, Doyo Lama, Sosiri, Yakonde, Dondai dan Kuadeware. Di struktur Puskesmas Kanda, Suster Iriani dipercayakan untuk melaksanakan tugas sebagai Koordinator TB, HIV, Kusta dan Kunjungan Rumah. Ia sendiri merasa bahwa kepercayaan yang diberikan ini berat. Beratnya kepercayaan ini menjadi ringan ketika banyak rekan yang membantunya. Bukan saja rekan, warga yang dilayaninya juga turut memberikan simpati kepadanya.

suster dkk

Persoalan atau masalah pasti selalu ada di manapun kita berada. Walaupun kelihatan cerah dan terus tersenyum, Suster Iriani juga mengalami kendala di dalam tugas pelayanannya. Pasien yang marah akibat keterlambatan memberi obat, rekan-rekan yang kadang tidak tanggap terhadap situasi dan kebijakan kepala puskesmas yang kadang membuatnya tidak senang. Dalam menghadapi persoalan ini, membangun komunikasi bagi Suster Iriani adalah hal yang sangat penting.

“Dimana pun tempat ada masalah. Kadang-kadang pasien marah karena, pasien tidak sabar dan tidak mengerti, to. Ketika saya datang, saya bilang ke teman-teman, mungkin tadi kamu cerita dan tertawa, pasien mereka marah. Kita (boleh) cerita dan tertawa, tapi rem-rem sedikit, to. Posisi pasien lagi tunggu, mungkin mereka dengar kamu cerita dan tertawa, pasien (jadi) tersinggung dan marah. Terus kasih pengertian ke pasiennya adalah bahwa ini proses yang agak lama bahwa pemeriksaan darah itu kira-kira 15 menit untuk satu orang. Setelah kejadian tersebut, kami bertanya kepada pasien seperti itu,” cerita Suster Iriani.

Bagi Suster Iriani, daripada berharap kepada orang lain kalau pekerjaan itu dapat dilakukan, sebaiknya dilakukan sendiri saja. Karena baginya keselamatan pasien adalah hukum yang terutama dalam tugas pelayanannya. Ia berkisah bahwa pernah dalam sebuah peristiwa, teman-teman perawatnya membuat pasien kecewa. Seorang pasien ibu hamil yang hendak memeriksa keadaannya dibiarkan oleh teman-teman perawatnya. Bagi teman-teman perawatnya, ini merupakan tugas dari bidan. Kalau dilihat, sebenarnya tugas ini dapat dilakukan oleh seorang perawat.

“Dorang (mereka-red) berharap bahwa inilah tugas dari bidan, sehingga harus bidan yang melayani, yang menanggulangi. Maksud saya, bidan ini tidak ada di tempat dan pelayanan harus terus berjalan secara maksimal. Yang ada di situ adalah perawat, seharusnya perawat itu tolong atau bantu. Pernah kemarin, satu pasien ibu hamil ke Puskesmas untuk periksa, tetapi teman-teman perawat menjawab, tunggu saja dulu karena bidannya masih ke Posyandu. Dong (mereka-red) jawab seperti itu, akhirnya pasien ini pulang. Ketika pasien ini ketemu saya di jalan, mereka memanggil saya untuk memeriksa mereka. Periksa ibu hamil. Kasih obat persalinan. Perawat memang dong tra tau (tidak mengerti-red) tetapi minimal kasih obat atau vitamin. Itu kan cukup bagi pasien, karena pasien merasa mereka diperhatikan dan dilayani. Ada layanan yang baik.” tutur Suster Iriani.

suster suntik

Melayani orang lain yang sakit dan mereka yang membutuhkan bantuan merupakan perbuatan kasih. Walaupun demikian, ketika kita melayani orang, kita juga terlebih dahulu melayani diri sendiri dan keluarga. Karena dasar untuk berbagi kasih dengan orang lain berangkat dari pelayanan kita terhadap diri dan keluarga. Bagi Suster Iriani, sesibuk apapun dirinya, ia berusaha membagi waktu untuk melayani keluarga, melayani anak-anak dan suaminya. “Otomatis, sesibuk apapun pasti ada waktu untuk keluarga. Ketika di rumah, ada panggilan dari ibu pendeta untuk mengunjungi orang sakit, saya tetap jalankan, tidak jarang saya juga sering membawa anak saya bekerja. Sebagai orang tua saya berkewajiban untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak. Kalau bapaknya tidak ada, berarti mamanya merangkul semuanya,” kata Suster Iriani.

Dalam pelayanannya, Suster Iriani selalu menjaga dan membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang yang ia layani. Dengan komunikasi yang baik maka tugas pelayanannya berjalan dengan lancar. Hal inilah membawakan kedamaian tersendiri baginya. Damai ketika komunikasi itu lancar dan pasien yang dilayani sembuh dari sakitnya.

“Saya janji dengan pasien untuk berobat ke Rumah Sakit Yowari. Tidak mungkinkan pasien sakit ini bangun pagi-pagi sudah (bisa) makan. Dan tidak mungkin pasien sakit ini bisa cari uang. Sampai di Yowari, saya biasa buat alasan dan cerita-cerita dengan dia: Mama sudah makan? Pasien biasa jawab “sudah”, tetapi jawaban “sudah” itu kita dapat melihat dari wajah mereka. Dari rumah saya memang sudah sarapan, namun saya sengaja agar terlihat lapar oleh mama, dimaksudkan agar mama itu juga makan. Setelah makan dan minum barulah saya bawa mama ke poliklinik untuk diperiksa. Tak jarang saya juga sering memberikan ongkos pulang kepada pasien, meski demikian saya sangat senang karena dapat memberikan yang terbaik bagi semua orang dan sembuh. “

 

 

 

 

Written By

Bernard Koten, lahir di Larantuka, Flores Timur, 30 Mei 1983. Dia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Jayapura, Papua. Sekarang ini, Bernard, sapaannya, bekerja di SKPKC Fransiskan Papua, serta aktif berkegiatan di Komunitas Hiloi Sentani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *