Pendeta Nelson: “ODHA harusnya tidak dirahasiakan!”

“Sebenarnya, semua penyakit yang ada adalah kita yang mendramatisasinya. Semua penyakit yang ada, sebenarnya, muncul karena kita melawan perintah Tuhan."

foto beko

“Ketika semuanya diyakinkan dan dikuatkan, dengan sendirinya ia akan terbuka dan menerima dirinya. Ia tidak akan minder dalam pergaulannya. Masyarakat juga akan tahu dan berusaha membantunya.”

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Multi Stakeholder Forum Pendeta Nelson Kapitarauw, di Depapre, Sabtu, 17 Januari, 2015.. Bagi Pendeta Nelson, partisipasi masyarakat sangat penting di dalam memajukan kesehatan di kampungnya. Keberhasilan pelayanan kesehatan tidak saja ditentukan oleh petugas medis (dokter dan perawat), Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dan pemerintah kampung. Akan tetapi, lebih dari itu, subyek yang harus berperan lebih banyak adalah masyarakatnya sendiri. Hingga kini, ada pelbagai upaya yang dilakukan oleh pemerhati kesehatan, baik itu dari Pemda setempat maupun dari lembaga atau yayasan yang peduli tentang kesehatan masyarakat, khususnya pelayanan dari pihak kesehatan (rumah sakit, Puskesmas, Posyandu, Pustu dan klinik kesehatan).

foto beko 1

Di Kabupaten Jayapura, ada sebuah program kerja sama yang dibangun oleh USAID, KINERJA dan Pemda Kabupaten Jayapura terkait peningkatan pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas. Pada tahun 2013-2015, ada tiga puskesmas yang dijadikan contoh atau sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana keterlibatan masyarakat dan peningkatan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas. Tiga Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Sentani, Puskesmas Dosay dan Puskesmas Depapre. Salah satu usaha yang sekarang ini dilakukan melibatkan partisipasi masyarakat dengan membentuk sebuah forum yang dikenal dengan nama multi forum stakeholder. Forum ini melibatkan tokoh masyarakat (kepala suku, pemuda), tokoh agama, pihak puskesmas setempat, kader-kader kesehatan puskesmas setempat dan kepala kampung.

“Kira-kira satu tahun lalu, Oktober 2013,” terang Pendeta Nelson. “Dari Yayasan Harapan Ibu, lalu USAID KINERJA membuat satu forum diskusi dan membentuk MSF ini. Namun, jauh sebelumnya ada pertemuan antara USAID KINERJA dan masyarakat terkait rencana pembentukan forum ini. Pertemuan kedua, semua berkumpul di Kantor Distrik Depapre dan membentuk MSF. Pada saat itu, mereka menunjuk saya sebagai ketua MSF. Mungkin mereka merasa bahwa saya ketua klasis GKI, jadi cocok sebagai ketua untuk forum ini. Setelah itu, kami membentuk badan pengurus yang lainnya.”

Lebih lanjut, ia mengatakan forum ini merupakan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah dan pihak puskesmas. Di dalam forum ini, ada tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerhati kesehatan, kader kesehatan dan pemerintah. Tugas forum ini memberikan informasi dan meneruskan pengaduan masyarakat kepada pihak puskesmas sejauh pelayanan kesehatan sehingga segala informasi terkait kesehatan dan pelayanan juga disampaikan di forum ini. Forum ini juga menjadi mitra dari Pemda, dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Puskesmas, untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.

Keterlibatan Pendeta Nelson Kapitarauw di dalam forum ini memberikan dampak yang positif bagi pribadinya dan bagi jemaat yang dilayaninya. Pendeta Nelson merasa bahwa keterlibatannya di forum ini, sebenarnya, merupakan salah satu bentuk pelayanan seorang pemimpin agama kepada jemaatnya. Seorang pendeta bukan hanya bertugas sebagai pendoa bagi mereka yang sakit, tetapi lebih dari itu hadir di tengah-tengah mereka dan menguatkan mereka. Dengan demikian, informasi tentang kesehatan dan bagaimana cara hidup yang sehat dapat disampaikan kepada jemaat yang dikunjungi. Informasi itu dapat disampaikan kalau si pendeta sendiri sudah tahu atau terlebih dahulu mengetahui informasi kesehatan yang akan disampaikan.

“Sebelum dan setelah pimpin ibadat, saya selalu berjumpa dengan jemaat. Pada kesempatan itu saya memberitahukan kepada jemaat bagaimana cara hidup sehat,” kata Pendeta Nelson.

Di dalam menyampaikan informasi kesehatan, kadang kala menghadapi tantangan dari masyarakat. Sebenarnya, yang menjadi dasarnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang pelayanan kesehatan di Puskesmas, jenis penyakit dan lain sebagainya.

“Masyarakat kan hanya tahu bahwa kalau sakit, kami ke Puskesmas dan berobat. Tidak ada petugas dan tidak ada obat bukan menjadi alasan bagi masyarakat. Yang penting bagi mereka adalah datang ke Puskesmas untuk berobat dan dapat obat. Hal-hal ini kita bicarakan ke pihak Puskesmas agar mereka bisa datang lebih awal. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Puskesmas juga kami sampaikan ke masyarakat, terkait transportasi ke Puskesmas. Kami juga menyampaikan kepada masyarakat kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh Puskesmas. Untuk sekarang, kami bersama Puskesmas menyiapkan kotak pengaduan dari masyarakat. Kotak ini biasa dibuka tiga bulan sekali. Apa yang diadukan oleh masyarakat dibicarakan untuk perubahannya,”  Pendeta Nelson menjelaskan.

foto beko2

Kondisi masyarakat yang sudah terkena penyakit harus segera ditolong dan dihentikan. Situasi seperti ini membutuhkan kerja keras dari semua pihak bukan hanya dari pihak kesehatan, Puskesmas atau rumah sakit. Kita sebagai masyarakat, pemimpin agama dan tokoh di masyarakat harus bersama-sama memberikan penjelasan dan menyebarkan informasi yang sedetail mungkin kepada masyarakat kita. Informasi yang diperoleh demi kebaikan bersama sebaiknya disampaikan kepada masyarakat. Kehidupan bermasyarakat di Papua yang sangat erat dan dekat dengan alam dan sesamanya, kadang menjadi pintu masuk yang tepat bagi penyebaran penyakit. Mungkin, alangkah baiknya penyakit yang diderita sebaiknya tidak didiamkan saja tetapi diberitahukan kepada masyarakat di kampung. Hal ini dapat dilakukan kalau si penderita sudah didampingi dan dikuatkan secara mental menerima penyakit yang dideritanya.

“Sebenarnya, semua penyakit yang ada adalah kita yang mendramatisasinya. Semua penyakit yang ada, sebenarnya, muncul karena kita melawan perintah Tuhan. Bukan saja penyakit HIV/AIDS, tetapi semua penyakit adalah dosa. Di hadapan Tuhan, semuanya sama. Tidak ada yang namanya penyakit HIV AIDS itu adalah nomor satu, pembunuhan nomor dua, dan lain sebagainya. Sebenarnya, penyakit HIV/AIDS di tengah masyarakat harus dibuka agar semua masyarakat tahu. Hal ini dapat terjadi kalau kita sudah mampu menguatkan pribadi dari mereka yang menderitanya. Kita sama-sama menjaganya dan memberikan dukungan. Andaikan saja di kampung orang mendiamkan saja penyakitnya, dengan sendirinya penyakit tersebut dapat menyebar ke masyarakat yang lainnya”, Pendeta Nelson menutup penjelasannya.

Written By

Bernard Koten, lahir di Larantuka, Flores Timur, 30 Mei 1983. Dia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Jayapura, Papua. Sekarang ini, Bernard, sapaannya, bekerja di SKPKC Fransiskan Papua, serta aktif berkegiatan di Komunitas Hiloi Sentani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *