Minggu Sore di Pasar Lama

header

Setiap hari Minggu, saya pergi ke Pasar Lama di Sentani. Pasar baru (Phrara) sudah dibangun di bagian lain kota, bahkan sudah dikunjungi oleh Presiden Jokowi, namun Pasar Lama masih saja populer. Setiap sore, mulai dari sekitar jam tiga, laki-laki dan perempuan Bugis, Makassar dan Bone mulai membuka kios-kiosnya, sementara mama-mama dari Papua juga mulai membuka lapak-lapaknya di tepi jalan. Mama-mama (sebutan untuk perempuan-perempuan Papua) banyak berasal dari pegunungan, maksudnya Pegunungan Tengah Papua (daerah Jayawijaya, Tiom, Tolikara, Puncak, atau Paniai). Tetapi di Pasar Lama, juga ada mama-mama penduduk asli daerah Sentani. Mama-mama dari Sentani biasanya menjual ikan-ikan segar dari danau dan sagu, sementara mama-mama dari Pegunungan Tengah biasa menjual sayur-sayuran. Orang-orang Bugis, Makassar dan Bone banyak menjual barang-barang kelontong, meski mereka kadang-kadang berjualan sayuran juga.

Di antara penjual sayuran, ada juga mama-mama Papua dan kaum pendatang (orang-orang yang berasal dari luar Papua) yang menjual pinang, kapur dan sirih. Banyak orang Papua, terutama dari pantai mengkonsumsi pinang. Mungkin salah satu penanda khas kota-kota di Provinsi Papua adalah keberadaan lapak-lapak penjual pinang. Pinang-pinang ini banyak berasal dari Sentani sendiri, Jayapura, atau daerah Keerom di dekat perbatasan dengan Papua New Guinea.

11752614_10153066468286243_1877538238385482265_n10955329_10153066468571243_240111393619633864_n

Saya suka berbelanja ke mama-mama Papua untuk sayuran dan buah-buahan karena sayuran-sayuran seperti kangkung, bayam, wortel, tomat, dan terung serta buah-buahan seperti pepaya, pisang dan alpukat dihasilkan oleh mama-mama ini sendiri dan biasanya sangat segar. Banyak perempuan dan laki-laki dari Pegunungan Tengah memang mulai berdatangan ke kota-kota besar sejak tahun 1980-an. Segera setelah mereka datang, orang-orang ini segera membuka kebun dan menanam tanaman-tanaman yang biasa mereka tanam di Pegunungan. Sayur-sayuran dan buah-buahan ini ditanam tanpa pupuk buatan apalagi obat-obatan. Dengan tradisi pertanian yang melebihi 3000 tahun, orang-orang Papua dari Pegunungan adalah petani-petani yang sangat trampil dan brilian. Mungkin mereka ini pembela pertanian dan produk organik serta lokal yang radikal, jauh melebihi gerakan-gerakan organik di Amerika seperti Brooklyn Coop atau semacam itu.

Sayangnya, mama-mama Papua ini masih termarjinalkan bahkan di tanah mereka sendiri. Menurut amatan saya penyebabnya antara lain, dominasi suku-suku pendatang di pasar, dan karena mama-mama Papua belum terbiasa dengan karakter sistem “pasar”yang karakternya banyak saya temui di luar papua khusunya di Pulau Jawa. Tidak semua konsumen mau membeli sayur-sayuran dan buah-buahan mama-mama ini karena harga-harga sayuran atau buah-buahan itu dianggap terlalu mahal. Mungkin yang tidak dipahami adalah mama-mama Papua ini banyak menggunakan satuan “tradisional” untuk menjual barang-barangnya. Misalnya, satu ikat besar kangkung dihargai sepuluh ribu.

Di tukang-tukang sayur keliling (kebanyakan orang Jawa), harga satu ikat kangkung bisa setengahnya. Namun tentu saja, satu ikat kangkung di mama-mama Papua ini jauh lebih besar dan lebih banyak isinya daripada satu ikat kangkung mas-mas Jawa. Makan, bagi kebanyakan orang Papua adalah persoalan kolektif (bersama-sama) jadi kalau membeli sayuran pun dianggap harus banyak karena anggota keluarga yang akan ikut makan juga banyak. Contoh lain, alpukat. Saya sangat suka alpukat. Alpukat di Wamena merupakan salah satu alpukat paling enak di dunia. Di kota Jayapura, satu alpukat berharga antara 10 ribu hingga 20 ribu per biji. Sementara di Wamena, setumpuk alpukat (berisi antara 10-15 alpukat) berharga 20 ribu. Kesannya mahal tapi sebenarnya kalau dihitung, harga ini relatif murah (apalagi ini alpukat organik).

12033429_10153179168531243_1181088983_n12033539_10153179167051243_988614262_n

Hal lain lagi adalah nilai. Bagi kebanyakan mama-mama Papua yang saya kenal, berjualan itu bukan hanya untuk mencari uang dan memenuhi kebutuhan keluarga. Memang kehadiran nilai-nilai baru akibat sistem pasar telah mengubah banyak sendi kehidupan orang Papua, namun kalau dilihat lebih dekat, ada nilai lain yang dilekatkan pada kegiatan ini yang masih mereka jaga, yakni hubungan sosial. Banyak orang yang datang dan membeli barang ke mama-mama ini kemudian pergi. Atau dalam banyak kasus, ketika orang-orang (pendatang) mengetahui harga barang, mencoba menawarnya tapi tak berhasil, mereka segera berbelanja di tempat para pendatang. Mungkin ini sebuah tips.

Saya sering mencoba untuk berbincang-bincang dengan mama-mama ini (bukan hanya karena saya seorang antropologis walau pun ini alasan yang masuk akal juga). Saya mencoba belajar satu-dua kata salam dari bahasa suku-suku di Pegunungan (contoh, Lauk untuk mama-mama dari Wamena, Kaonak/kinaonak untuk mama-mama dari Wamena Barat, koyao untuk mama-mama Paniai, atau wawawa untuk terimakasih) dan berbicara tentang barang jualan mereka atau kehidupan mereka secara umum. Bukan hanya saya mendapatkan tambahan pepaya, sayur atau alpukat, saya merasa mendapat saudara baru dan belajar hal-hal baru.

bawah

Satu hal yang mungkin bisa kita pikirkan, memberdayakan dan membeli barang dari mama-mama Papua adalah salah satu cara membalas hutang kita pada tanah Papua. Banyak orang Indonesia yang sangat peduli dengan kekayaan alam Papua tetapi sedikit sekali yang peduli dengan manusia-manusianya. Dengan memberdayakan mama-mama pejuang ini, kita tidak hanya menunjukkan kepedulian pada mereka, perempuan-perempuan tangguh ini, tetapi juga ke seluruh anggota keluarganya, orang Papua.

****

Teks dan Foto oleh:

Veronika Kusumaryati, (kandidat PhD di Harvard University, sedang melakukan penelitian lapangan di Provinsi Papua).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *