Media Sehat Hidup Sempurna

Workshop hari pertama. Dari Sentani, kita memulai gerakan media sehat untuk hidup yang sempurna.

“Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Bruder Edi, direktur. Cuma direkturnya tidak ada di sini. Nanti dia ada punya roh, yang akan memberikan kata sambutan ,” begitulah kira-kira kata Bernard Koten, bercanda, dan disambut tawa oleh para hadirin.

Saat itu, Bernard, sebagai perwakilan dari komunitas lokal di Sentani, membuka kegiatan workshop (lokakarya atau pelatihan) Program Media Untuk Papua Sehat, yang diinisiasi oleh Forum Lenteng. Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKC), Sentani, Kabupaten Jayapura, menjadi tuan rumah sekaligus memfasilitasi tempat pelatihan bagi para peserta dan fasilitator.

Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_11

Kegiatan workshop, hari yang pertama, ini dilaksanakan pada Hari Rabu, 12 Februari, 2014. Agendanya, antara lain perkenalan masing-masing peserta dan fasilitator, berbagi pengalaman tentang isu-isu kesehatan yang dimiliki oleh setiap peserta, serta kuliah media dan tata cara menulis yang baik dan benar. Setelah Bernard membuka acara, giliran saya dan Gelar memperkenalkan Forum Lenteng dan Program Media Untuk Papua Sehat kepada para peserta.

Sebagai lembaga nirlaba egaliter yang bekerja di wilayah media, kami mengenalkan bahwa Forum Lenteng aktif melakukan pemberdayaan masyarakat, bekerja sama dengan komunitas-komunitas lokal di beberapa daerah, dalam rangka menggagas dan mengimplementasikan strategi-strategi kreatif berbasis literasi media dan produksi-distribusi karya audiovisual, untuk menanggulangi berbagai permasalahan lokal. Khusus untuk Papua, isu kesehatan dan fasilitas kesehatan, menjadi fokus dalam program ini. Saya sendiri menegaskan kepada teman-teman di SKPKC bahwa dalam pelatihan ini, yang diutamakan adalah keterlibatan aktif para peserta untuk memproduksi informasi mengenai kesehatan, berdasarkan pengalaman dan sudut pandang mereka sebagai warga lokal di Sentani. Sebab, yang benar-benar mengerti masalah di Papua, serta apa-apa saja yang dibutuhkan oleh orang Papua, tidak lain adalah warga yang tinggal di Papua itu sendiri. Mengedepankan aspirasi warga, yang diwakili oleh para peserta pelatihan, adalah salah satu cara untuk melihat masalah kesehatan dalam konteks yang lekat dengan masyarakat Papua.

Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_10

Setelah saya dan Gelar memberikan sedikit pengantar, barulah Bernard menampilkan rekaman video. Wajah Bruder Edi muncul di layar. Di dalam frame itu, beliau memberikan kata sambutan kepada para peserta, dan menyatakan bahwa beliau mendukung penuh kegiatan pelatihan ini. Menurutnya, cara-cara kreatif dan alternatif, seperti belajar bagaimana membuat karya video yang baik dan benar, merupakan salah satu kebutuhan yang mendesak bagi generasi muda di Papua. Langkah itu harus dikelola dengan baik dan diberdayakan untuk menanggulangi berbagai isu sektoral, seperti bagaimana mengkampanyekan hal-hal yang penting terkait masalah kesehatan.

Setelah penayangan kata sambutan Bruder Edi melalui teknologi video tersebut, saya kemudian melanjutkan sesi kuliah mengenai media dan sejarahnya. Penggunaan teknologi video untuk menampilkan rekaman Bruder Edi itu, yang baru saja disaksikan oleh peserta pelatihan, saya jadikan salah satu contoh konkret tentang pentingnya teknologi media, di mana komunikasi dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensinya untuk menyampaikan pesan, dan mereduksi kendala-kendala apa saja yang mungkin dapat terjadi.

Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_07

Secara ringkas, saya, dibantu oleh Gelar, memaparkan konsep dan teori komunikasi dan ide tentang pesebaran informasi. Selain itu, melalui diskusi yang bersifat dua arah—selama pemberian materi ini, saya cukup senang karena peserta terlibat aktif dalam diskusi—kami berusaha menjelaskan betapa pentingnya media. Ada banyak contoh yang kami coba berikan. Selain rekaman kata sambutan Bruder Edi, saya mencontohkan berita-berita di TV oleh stasiun swasta.

Saya berkata, “Jika kita nonton TV One, pasti isinya…”

“Infotainment!!!” seru salah satu peserta.

“Gosip!” yang lain menimpali.

“Ya, dan bahkan juga iklan-iklan partai politik,” saya melanjutkan. “Informasi dari TV tidak ada yang sehat. Yang disajikan adalah informasi terkait yang ada di pusat, mengikuti kepentingan si pemilik media yang bersangkutan. Lalu, bagaimana dengan peristiwa-peristiwa yang ada di Papua?”

Tak mendapat tanggapan dari para peserta, saya melanjutkan, “Itu lah mengapa penting bagi kita untuk mengerti media dan bagaimana mengelolanya. Jika kita bisa memproduksi informasi sendiri dan mendistribusikannya secara luas, isu-isu yang ada di Papua akan dapat dibaca oleh orang banyak, bahkan oleh orang-orang di luar Papua.”

Saya melanjutkan juga bahwa melalui medium teks (tulisan), foto (dan bahkan juga gambar atau ilustrasi), dan video, kita dapat berbagi pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kita, mengemasnya menjadi sebuah informasi yang mengandung nilai manfaat. Lalu saya mencontohkan tulisan Siba, berjudul “Cerita Pagi Ini, Koran dan Pendamping ODHA” (halamanpapua.org, 12 Februari, 2014), di mana tulisan itu berdasarkan pengalaman Siba berbincang dengan Steve (salah seorang peserta pelatihan) mengenai pecandu narkoba, HIV-Aids dan ODHA. Steve sudah lama berkecimpung dalam kegiatan aktivisme mendampingi ODHA. Ceritanya yang menarik itu ditulis oleh Siba menjadi informasi yang bermanfaat, lalu dimuat di dalam media online, sebagai langkah distribusi dari informasi tersebut, agar dapat diakses secara bebas oleh masyarakat.

“Mengapa media online? Karena media ini adalah perkembangan mutakhir yang paling demokratis, yang dapat digunakan oleh siapa saja, dengan cepat,” ujar saya.

“Bagaimana jika sudah menulis tentang cerita di pedalaman, apa yang terjadi setelah itu?” Steve kemudian bertanya, terkait pengalamannya di beberapa lokasi pedalaman, mendampingi ODHA. Pertanyaannya ini terkait penjelasan saya mengenai pentingnya media tulis.

Saya menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa karya tulis, jika dikemas dengan baik dan dikelola secara maksimal dalam proses pendistribusiannya, pasti akan memiliki dampak yang positif. Semua orang akan membaca narasi yang terdapat di dalam tulisan. Bahkan, di era dunia maya ini, sekelas Presiden SBY-pun memiliki kemungkinan untuk membaca tulisan yang disebarluaskan melalui internet, sebab SBY juga aktif menggunakan internet. Akan tetapi, tentu saja, aksi produksi informasi ini tidak dilakukan sekali.

“Harus dilakukan terus menerus, berulang-ulang dan berlanjut, dan kalau bisa semua kita yang ada di sini menulis,” kata saya.

“Bisa juga menggunakan gambar dan foto, tidak harus tulisan,” Gelar menambahkan.

Tambahan dari Gelar itu dibenarkan oleh Frater Paul, salah seorang dari SKPKC yang turut hadir dalam kegiatan pelatihan. Beliau menjelaskan bahwa pengalaman SKPKC ke beberapa daerah seringkali terkendala oleh masalah buta aksara yang dialami kebanyakan masyarakat di Papua. Kalau pun bisa membaca, niat untuk membaca informasi berbasis teks sangat minim. Maka, menurutnya, penggunaan ilustrasi berupa gambar, foto, dan video, akan sangat efektif.

“Makanya, sebenarnya kita beruntung mendapat pelatihan ini dari teman-teman Forum Lenteng,” begitulah kira-kira ujarnya.

Setelah pemberian materi tentang media dan tata cara menulis usai, kira-kira pukul setengah empat sore, kegiatan dijeda waktu istirahat selama lebih kurang satu setengah jam. Selama waktu istirahat itu, peserta pelatihan dihimbau untuk merancang lebih kurang satu paragraf berisikan ide atau pengalaman mereka sehubungan dengan masalah kesehatan. Pada waktu ini, peserta bebas memilih tempat yang nyaman. Ada yang bertahan di atas karpet tempat workshop dilaksanakan, ada yang menulis di meja sembari berdiskusi dengan sesama peserta, dan ada juga yang memilih ke luar ruangan, duduk di halaman rumput di bawah pohon, depan kantor SKPKC.

Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_04
(Dari kiri ke kanan) Thomas, Zet Nagapa, Stefanus, dan Salomina
Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_03
(Dari kiri ke kanan) Nyongki, Alfred, Ricky, Devota dan Grace
Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_05
(Dari kiri ke kanan) Gelar, Paul, Albert dan Aloysius
Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014_08
Ricky dan Nyongki

 

Sekitar pukul lima sore, para peserta berkumpul lagi. Saya dan Gelar, sebagai fasilitator, memandu diskusi. Kami membahas satu per satu tulisan satu paragraf yang dibuat oleh masing-masing peserta. Sebelumnya, kami juga membacakan sebuah tulisan yang telah dibuat oleh Albert Pu’u, salah seorang karyawan SKPKC yang juga turut menjadi peserta pelatihan, berjudul “Kami Ingin Lahir Sehat, Tapi…”. Di dalam tulisan itu, Albert menceritakan pengalaman seorang ibu yang mengalami kendala melahirkan karena pihak rumah sakit tidak mau menangani sebelum dibayar uang pendaftaran pasien.

“Apakah yang salah, menurut cerita Albert dalam tulisan ini?” saya melemparkan pertanyaan kepada peserta. Sebagian besar dari mereka menjawab bahwa rumah sakit lah yang salah.

Saya dan Gelar kemudian menjelaskan bahwa dalam konteks kasus yang demikian, sebenarnya tidak ada pihak yang perlu disalah-salahkan. “Bukan pemerintah, bukan rumah sakit, bukan siapa-siapa yang harus disalah-salahkan. Akan tetapi, sistemnya yang salah. Sistemnya tidak berjalan secara ideal. Nah, kekeliruan sistem ini lah yang perlu ditanggulangi secara bersama-sama. Salah satunya, dengan menyebarluaskan kepada masyarakat tentang tata cara ke rumah sakit atau puskesmas, menyebarkan informasi mengenai sistem pendaftaran atau berobat—pada kasus yang seperti apa yang bisa gratis dan yang tidak—menyebarkan informasi mengenai lembaga-lembaga yang bisa memberikan bantuan, dan juga mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak. Jika informasi ini dapat dipahami oleh berbagai pihak, dengan sendirinya sistem itu akan berjalan dengan baik. Dan jika sistem itu berjalan baik, saya percaya bahwa masalah kesehatan seperti yang diceritakan oleh Albert, dalam tulisannya, tidak akan terjadi,” saya menjelaskan.

(Dari kiri ke kanan) Grace, Veronika, Devota dan Alfred.
(Dari kiri ke kanan) Grace, Veronika, Devota dan Alfred.

Gelar juga menjelaskan—menanggapi komentar para peserta yang memuji tulisan Albert sebagai tulisan yang mudah dipahami—bahwa sudut pandang yang digunakan oleh Albert adalah sudut pandang warga biasa, penduduk lokal di Papua, yang menulis pengalaman sehari-hari yang dekat dengannya. Oleh sebab itu, cara mengutarakannya pun juga secara sehari-hari sehingga, oleh para peserta yang juga tinggal dan hidup di Papua, tulisan itu dengan mudah dipahami. Ini lah salah satu poin penting dari aksi menulis narasi-narasi lokal dari sudut pandang warga, di mana isu yang diangkat akan dikemas dengan bahasa yang ringan tanpa mengurangi esensi dan signifikansinya. Mendorong warga lokal Papua untuk memproduksi tulisan (atau foto dan video) adalah fokus dari kegiatan pelatihan Media Untuk Papua Sehat.

Workshop_H1_Sentani_12 Februari 2014

Kegiatan di hari pertama ini diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide tulisan yang ingin dibuat oleh masing-masing peserta. Saya dan Gelar pun merasa takjub, karena ide-ide yang disampaikan oleh peserta benar-benar menarik. Mulai dari penggunaan obat generik oleh rumah sakit, kualitas kerja dokter dan perawat, fasilitas rumah sakit yang tidak memadai, abainya masyarakat akan kebersihan sehingga menyebabkan penularan tuberculosis (TB), hingga pengalaman salah seorang peserta yang orang tuanya merupakan tenaga medis di salah satu puskesmas sehingga memperkaya perspektif dalam melihat persoalan kesehatan di Papua secara obyektif.

Setelah sesi diskusi ini, kegiatan pelatihan hari pertama ditutup. Kami berjanji akan berkumpul lagi esok hari, pada pukul satu siang, di mana para peserta akan sudah siap dengan rancangan tulisan mereka masing-masing.

Ini baru ‘tendangan’ pertama. Saya yakin, besok pasti akan muncul karya-karya tulis luar biasa dari teman-teman peserta pelatihan. Kita lihat saja. Dari Sentani, kita memulai gerakan media sehat untuk kehidupan yang sempurna.

Written By

Manshur Zikri, lahir di Pekanbaru, 23 Januari 1991. Lulusan S1 Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Saat ini, Zikri aktif di Forum Lenteng sebagai penulis dan peneliti di Program akumassa, serta sebagai fasilitator pelatihan literasi media dalam Program Media Untuk Papua Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *