Matahari di Kampung Besum

Matahari, di dalam susunan tata surya, merupakan pusat bagi semua planet yang berputar mengitarinya. Semua planet menerima, menyimpan dan memberikan cahayanya ketika planet tersebut mengitari matahari. Matahari juga diibaratkan sebagai sumber kehidupan. Di dalam kepercayaan agama tradisional, matahari diyakini sebagai sesuatu yang tertinggi, yang memberikan sebuah kehidupan. Kadang kala, orang mengibaratkan seseorang seperti matahari, sang pemberi kehidupan. Mama adalah contoh sosok yang selalu diibaratkan sebagai matahari: pemberi kehidupan.

suasana pasar

Sekilas Merajut “Matahari di Kampung Besum”

Pada Bulan Juli, 2014, UN Woman menawarkan proyek pembuatan dua film dokumenter bertemakan “Perempuan dan Perdamaian” kepada Sekretarian Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan-Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKC FP). Proyek ini, oleh Br. Edy Rosariyanto, OFM, dilimpahkan ke Komunitas Hiloi Sentani dan Riyana Waena, dua komunitas dampingan SKPKC FP. Tawaran tersebut disambut baik oleh Bernard Koten, Stefanus Abraw, Aloy Rahawadan dan Niko Tunjanan. Pada tanggal 23 Juli, 2014, di Kantor SKPKC FP, kedua komunitas ini melakukan pertemuan dengan UN Woman, difasilitasi oleh Direktur SKPKC FP, Yuliana Langowuyo. Pada kesempatan itu, kedua komunitas dan UN Woman saling berkenalan dan berbagi cerita tentang maksud proyek tersebut. Mulai dari tema film, agenda dan proses pengambilan gambar dan alur film serta target audiensnya. Penyusunan storyline untuk film dipercayakan kepada kedua komunitas. Kebebasan untuk melakukan eksplorasi bahasa visual diberikan kepada kedua komunitas, sejauh ‘tidak lari’ dari tema yang telah disepakati.

Pada Hari Senin, 5 Agustus, 2014, kedua komunitas mulai menyusun draft skenario film yang pertama. Draft ini kemudian dibagikan kepada UN Woman untuk dapat diberikan masukan. Pihak UN Woman pun menyetuji rancangan yang disusun oleh kedua komunitas.

Pada Hari Sabtu, 9 Agustus, 2014, saya (Bernard Koten) dan Stefanus Abraw melakukan riset awal. Kami berbagi cerita dengan para tokoh di Besum, Kabupaten Jayapura. Rencana dan maksud kami ini diterima baik oleh tokoh-tokoh yang kami temui. Karena beberapa kendala, rencana pembuatan film yang pertama itu baru terealisasi pada Bulan Oktober, 2014. Selama dua minggu, Stefanus Abraw dan Aloy Rahawadan melakukan pengambilan gambar berdasarkan skenari yang sudah disepakati.

Pada minggu ketiga, Bulan Oktober, gambar-gambar (footages) yang telah terkumpul selama proses pengambilan gambar mulai dirangkai menjadi sebuah karya film dokumenter, berjudul Matahari di Kampung Besum.

Mengapa Kampung Besum?

Kampung Besum merupakan daerah transmigrasi di Provinsi Papua. Daerah transmigrasi, biasanya, mengisahkan cerita yang unik dan menarik, baik itu dari sisi kemanusiaannya, pertemuan budaya asli (lokal) maupun situasi-kondisi alamnya.

Pada Bulan Juli, 1975, para transmigran sebanyak 100 kepala keluarga mulai masuk ke Kampung Besum. Para transmigran ini banyak yang berasal dari daerah Purwodadi, Kebumen dan Boyolali. Pada tahun 1977, transmigrasi kedua pun terjadi dan mendatangkan 50 kepala keluarga transmigran dari daerah Tangerang. Dengan masuknya para transmigran ini, pada tahun yang sama, Pemerintah Daerah setempat membangun pemukiman bagi masyarakat asli (lokal). Kampung Besum sendiri sekarang terpecah menjadi tiga kampong, yakni Kampung Karya Bumi, Besum dan Sumbe.

Daerah sasaran transmigrasi saat itu, awalnya, merupakan lahan berburu bagi masyarakat setempat. Hal yang menarik adalah program transmigrasi ini bukan merupakan program dari pemerintah semata, tetapi juga permintaan dari tetua suku setempat pada waktu itu. Dalam perkembangannya, masyarakat setempat meminta ganti rugi hak ulayat yang digunakan pemerintah untuk lahan transmigrasi. Walaupun demikian, program transmigrasi yang masuk ke daerah ini membawa cukup banyak perubahan bagi masyarakat setempat, seperti yang dialami oleh Mama Yustina Yaram dan Amina Aronggear. Berdasarkan cerita kedua mama ini tentang perjuangan mereka untuk bertahan hidup, kami membuat film berjudul Matahari di Kampung Besum.

Mama Yustina Yaran dan Amina Aronggear

Mama Yustina Yaram lahir di Kampung Besum, pada 21 Januari, 1970. Ia menyelesaikan pendidikannya dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah tingkat menengah pertama (SMP) di Kampung Kwansu. Mama Yustina tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). Ia menikah dengan pujaan hatinya, Gerson Hamokwarong. Keduanya dikarunia tujuh orang anak. Dalam mengarungi bahtera keluarganya, Bapak Gerson dan Mama Yustina terus berjuang dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya dan cita-cita anak-anak mereka. Masuknya transmigran, ternyata, memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan mereka. Bapak Gerson mulai belajar bagaimana mengelola sawah dari lahannya. Ia dengan sabar dan tekun belajar dari para transmigran.

Hasil belajarnya ini dibagikan ke istrinya, Mama Yustina.

“Dari mana bapak memperoleh keahlian membuat sawah?” tanya Aloy, ketika bercerita dengan Mama Yustina.

“Dari seorang bapak transmigran,” jawab Mama Yustina. “Dia orang Jawa. Dia mengajarkan Bapak Gerson bagaimana caranya membangun pematang sawah, cara menanam padi dan memberikan pupuk. Sekarang, Bapak sudah mahir dan mulai kasih ajar orang bagaimana cara menanam dan menyemprot obat dan pupuk di padi.”

mama amina

 

Kedua Pasutri (pasangan suami-istri) ini bersaing secara sehat dengan para transmigran yang lainnya. Berdasarkan penuturan Mama Yustina, usaha bercocok tanam dengan sawah memang harus menuntut kesabaran dan ketekunan. Usaha ini juga digeluti oleh warga asli lainnya. Namun, mereka merasa bahwa banyak biaya yang dikeluarkan dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dari cara bertani seperti itu.

“Mengapa warga yang lainnya tidak terus membuat sawah?” Aloy bertanya lagi kepada Mama Yustina.

“Mereka merasa bahwa banyak biaya yang dikeluarkan. Mama mau mereka juga ikut seperti mama,” kata Mama Yustina.

Walaupun Mama tidak berpendidikan tinggi, tetapi ia dan suaminya terus melanjutkan usaha tersebut. Pendidikan yang berharga bagi Mama Yustina adalah pengalaman hidupnya: berkenalan dengan pergumulan hidup dan orang lain yang ada di sekitarnya. Sekarang, mereka dapat menikmati hasil perjuangannya itu.

Mereka tidak membeda-bedakan orang di dalam pergaulannya. Hubungan dengan warga asli dan para transmigran terus dijaga dengan baik. Sikap ini diajarkan dan ditularkan kepada anak-anak mereka. “Kalau dua anak-anak berkelahi, maka bapa dan biasanya pukul keduanya, tidak pukul salah satunya, “ kata Mama Yustina. “Kalau mereka bermain dengan teman-teman yang lainnya anak-anak biasanya ajak teman-temannya makan bersama di rumah.”

“Menurut Mama, mereka itu orang-orang baik. Mereka sering sekali mengajak Bapak untuk pergi tangkap sapi dan kambing. Saya juga tidak mau berkelahi dengan tetangga-tetangga yang ada. Kadang kala, orang lain marah kepada Mama, tetapi Mama juga tidak mau pusing dengan hal itu. Kasih, biar saja hal itu!” ungkap Mama Yustina.

Hal menarik lainnya adalah Mama Yustina masih tetap menjaga aset kebudayaan setempat, yakni mempertahankan makanan lokal di daerah itu. Ya, sayur swamening (perpaduan antara sayur gedi, sayur lilin, kelapa, sagu, dengan sambal yang ditabur di atasnya. Sayur ini dibungkus menjadi satu, lalu direbus). Sayur swamening tersebut selalu disiapkan oleh Mama untuk dijual pada saat Hari Pasar di Karya Bumi.

Sementara itu, Mama Amina Aronggear lahir di Serui. Karena pernikahannya dengan Bapak Lambert Sem yang berasal dari Besum, akhirnya Mama Amina menetap dan menjadi warga Besum. Mereka dikaruniai 4 orang anak. Dari raut wajahnya, Mama Amina tampak memikul beban yang berat di dalam keluarganya. Walaupun demikian, Mama Amina dengan senang hati berjuang mengejar mimpi-mimpi anaknya. Salah satu dari anaknya, Lindah, sekarang ini sedang menempuh pendidikan keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jayapura di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Jika swamening oleh Mama Yustina maka sagu porna oleh Mama Amina. Ya! Setiap kali Hari Pasar, salah satu jenis jualan yang tidak bisa dilupakan oleh Mama Amina adalah sagu porna (kue sagu yang terdiri dari perpaduan sagu, kelapa dan gula merah. Sagu porna ini dibakar dalam mal atau pencetak kue).

mama yustina

 

“Bagaimana relasi mama dengan tetangga?” tanya Stef, panggilan akrab Stefanus Abraw.

“Mama tidak mau bertengkar dengan tetangga. Jika bertengkar dengan tetangga, Mama merasa malu dan berdosa. Kami hidup saling mengasihi. Kalau Mama punya makanan, Mama kasih mereka. Begitu pula mereka, jika mereka punya makanan, mereka juga kasih ke Mama. Kalau ada acara Tarian Yospan, biasanya mereka mengundang Mama. Jadi, dalam kelompok itu, hanya Mama sendiri yang orang Papua dan mereka yang lainnya adalah orang pendatang,” jawab Mama Amina.

Mama Yustina dan Amina adalah matahari yang terus bersinar di Kampung Besum dengan rutinitas kehidupan dan hubungan dengan sesamanya. Kedua matahari ini tidak sedikit pun redup dalam berbagi kasih. Kedua matahari ini terus menyinari nilai-nilai perdamaian dalam keseharian hidupnya. Kedua matahari ini terus menyinari keluarganya, suami dan anak-anaknya, dengan cahaya gemilang. Tidak ada kata putus asa dalam membangun harapan demi masa depan keluarganya yang cerah. Mama Yustina dan Amina adalah Matahari di Kampung Besum.

 

Written By

Bernard Koten, lahir di Larantuka, Flores Timur, 30 Mei 1983. Dia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Jayapura, Papua. Sekarang ini, Bernard, sapaannya, bekerja di SKPKC Fransiskan Papua, serta aktif berkegiatan di Komunitas Hiloi Sentani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *