Kami Ingin Lahir Sehat, Tapi…

Pelayanan kesehatan menjadi masalah utama di Papua. Amat jarang masalah kesehatan dipublikasikan oleh media massa.

Pelayanan kesehatan menjadi masalah utama di Papua. Amat jarang masalah kesehatan dipublikasikan oleh media massa. Yang sering ditampilkan hanyalah kisah sukses pelayanan di rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) tertentu. Bayangkan saja, daerah pedalaman yang amat sulit dijangku oleh petugas-petugas kesehatan, sudah pasti banyak juga orang sakit yang sama sekali tak tersentuh oleh tenaga pelayanan kesehatan. Sungguh ironis, hal-hal pokok yang sesungguhnya dihargai, ternyata, diabaikan.

Ilustrasi: Albert Pu'u
Ilustrasi: Albert Pu’u

Banyak kelompok masyarakat yang merasa tertipu oleh kehadiran para petugas  dan pembangunan klinik di kampung-kampung di daerah pedalaman. Sosialisasi awalnya sangat menyenangkan, yang katanya untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, semuanya berakhir tanpa ada harapan. Bagaimana tidak? Petugas kesehatan hadir ke kampung-kampung hanya sebulan sekali. Selebihnya, mereka berada di kota.

Ada beberapa media yang mempublikasikan peristiwa ini, seperti Bintang Papua, yang menulis tentang rumah balai pengobatan yang diterlantarkan, tidak hadirnya petugas kesehatan di klinik, dan kurangnya tenaga medis.

Permasalah-permasalahan kesehatan ini, bagi kebanyakan orang Papua yang berada di pedalaman, bukanlah hal baru. Masalah ini akrab dengan kehidupan mereka sehingga seolah-olah kelalaian ini telah menjadi hal biasa. Tidak jarang, banyak dari mereka yang tidak mengerti tentang klinik dan petugas kesehatan. Yang mereka tahu hanyalah pengobatan massal yang dilakukan oleh LSM tertentu. Oleh karenanya, tidak jarang pula dari mereka yang terpaksa berobat ke rumah sakit dan apotek yang ada di kota-kota. Untuk pengobatan saja, mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari dalam perjalanan dan terkadang pasien meninggal di perjalanan.

Ilustrasi: Albert Pu'u
Ilustrasi: Gelar Soemantri

Hal lain yang membuat mereka memilih untuk berobat ke kota adalah karena fasilitas kesehatan lebih terjamin, apalagi diberlakukannya pengobatan tanpa biaya di rumah sakit pemerintah. Bagi kebanyakan orang asli Papua, ini adalah kado dari Otsus (Otonomi Khusus) Papua. Namun, ada juga yang tidak menikmatinya. Pengalaman Ibu Tehira, misalnya, adalah salah satu contoh kisah kegagalan Otsus. Sebuah pengalaman nyata seorang ibu dari pedalaman Wamena yang hendak melahirkan datang ke salah satu rumah sakit di Jayapura untuk persalinan anaknya. Dia datang bersama saudaranya, sedang suaminya, kala itu, masih dalam perjalan.

Pada waktu pendaftaran, ia diterima dengan baik dan langsung menuju ruangan persalinan, dibawa oleh suster. Namun, proses persalinan selanjutnya tidak berjalan baik. Tak ada tindakan tahap lanjut oleh pihak rumah sakit. Alasannya, karena Ibu Tehira belum ada uang pendaftaran masuk. Karena tidak tahan dengan sakitnya, ibu ini keluar dari ranap persalinan sambil berteriak-teriak meminta bantuan suster, tetapi tidak ditanggapi. Melihat keadaan ibu yang demikian, ada yang merasa iba dan menolongnya dengan memberikan bantuan pembayaran, tidak tahu seberapa banyak uangnya. Yang pasti, setelah itu, barulah diambil tindakan oleh pihak rumah sakit.

Albert sedang bersantai di SKPKC (Foto: Manshur Zikri)
Albert (baju warna putih) sedang bersantai di SKPKC (Foto: Manshur Zikri)

Satu hal yang dicermati dari cerita ini adalah pengalaman di mana manusia mengabaikan manusia yang lain demi uang. Ini adalah sebuah kisah dari seribu kisah lain yang mungkin akan terulang lagi. Kita berharap ada perubahan persepsi manusia untuk terbuka, membangun jiwa kemanusiaan, demi menuju keberadaban manusia yang bermasyarakat, dan keberpihakan publik terhadap orang kecil dan terlantar.*

 

______

*Ilustrasi cover (featured image) oleh Aloysius Rahawadan

Written By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *