Cerita Lain di Balik Penangkapan Massal Aksi Damai, 2 Mei di Papua

penghadangan massa oleh polisi di jalan Kampus Uncen Atas Jayapura/Jalan Alternatif,

“Ah…hat (kau) punya HP itu di mana ka? Dari tadi saya telepon baru,” suara Frater Fredy Pawika, OFM ketika komunikasi dengan saya melalui telepon genggam.

Sorry nayak (saudara), tadi HP sa (saya) kasih diam jadi. Bagaimana nayak?” tanyaku kepada Frater Fredy.

“Nanti ada satu bapak pendeta datang ke kantor situ untuk ceritakan kejadian penangkapan kemarin Senin, 2 Mei 2016 di Abe (Abepura) sini,” jelas Frater Fredy.

massa yang ditahan di Lapangan Mako Brimob Kotaraja Jayapura
massa yang ditahan di
Lapangan Mako Brimob Kotaraja Jayapura

“Oke nayak, saya tunggu di kantor saja karena Beny juga ada keluar ke Abepura untuk wawancara korban penangkapan juga,” jawabku kepada Frater Fredy.

Ternyata ada pesan singkat yang masuk ke HP saya. Setelah membuka dan membacanya, ternyata pesan singkat itu berasal dari Bibi Yuli (Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua/SKPKC FP). Pesannya: “No (Saudara), nanti ada bapak Pendeta Leo Mimin ke kantor untuk ceritakan kejadiannya yang dia alami dalam penangkapan kemarin Senin, 2 Mei 2016”.

“Ok bibi, tadi Frater Fredy juga sudah telepon,” balas pesanku ke Bibi Yuli.

Begitulah kesibukanku di awal hari kerja dan pelayananku di Unit Karya OFM Papua di SKPKC FP.

Selang dua puluh menit, pria yang belum terlalu tua dengan noken (tas) berwarna putih tiba di depan Kantor SKPKC FP.

“Selamat siang,” sapa bapak itu.

“Selamat siang, Bapak,” balasku, “mari masuk,” ajakku kepada bapak itu.

Singkat cerita, saya dan bapak itu mulai bercerita dan saling memperkenalkan diri. “Saya Bernard Koten,” kataku ketika berjabat tangan dengannya.

“Saya Pendeta Leo Mimin,” balasnya.

“Silakan duduk, Bapak,”

“Tadi saya sudah dapat telepon dari Frater Fredy dan Ibu Direktur bahwa nanti Bapak ke kantor untuk cerita-cerita dengan kami terkait penangkapan kemarin,” saya membuka percakapan selanjutnya.

“Benar, anak, saya Pendeta Leo Mimin, salah satu Gembala di Gereja GIDI Sentani sini,” Pendeta Leo mulai bercerita, “Saya sudah tahu bahwa nanti akan dihalangi di Sentani, jadi saya sendiri naik taxi ke untuk bergabung dengan massa aksi KNPB di Perumnas 3 Waena sana. Saya ini sudah dikenal oleh massa KNPB dan juga aparat keamanan. Karena seringkali saya juga pimpin ibadat dan bawa renungan di Batalyon 751 Sentani. Saya ini orang yang netral, bergaul dengan semua orang, baik itu orang asli Papua maupun orang pendatang. Saya juga bergaul dengan aparat keamanan. Saya tidak membeda-bedakan orang karena bagi saya semua manusia itu sama. Saya ikut bergabung dalam aksi damai kemarin itu bukan karena diminta atau diajak oleh KNPB, bukan juga desakan dari Gereja atau yayasan yang suruh saya, tetapi saya ikut aksi itu atas kemauan saya sendiri. Tidak ada yang paksa saya. Karena di dalam massa KNPB dan yang lainnya ada saya punya jemaat. Jadi sudah menjadi tugas dan pelayanan saya untuk bersama jemaat dan mendampingi mereka. Saya juga ikut karena ada nilai-nilai kebenaran, saya bergabung karena saya ikut perintah Allah, perintah Yesus, Tuhan.

“Bagaimana Bapak kemarin ditangkap?” tanyaku kepada Bapak Pendeta Leo.

“Kami semua diangkut ke dalam mobil truck yang sudah disiapkan di depan Kampus Uncen Jayapura, Perumnas 3 Waena. Saya harus naik ikut dengan mereka karena itu saya punya jemaat ada yang ditangkap. Sebagai gembala, saya tidak bisa tinggalkan mereka. Ketika sampai di Polresta Jayapura, kami semua diturunkan dan mereka tarik saya punya dasi kuat sekali sehingga saya susah bernafas”, jelas Bapak Pendeta Leo sambil memperagakan cara polisi menarik dasi yang dipakainya. “Dan waktu itu saya berteriak tetapi massa KNPB tidak dengar suara saya. Kami dibawa ke ruangan khusus tetapi polisi tidak siksa saya. Mereka hanya tanya-tanya saja mengapa saya ikut dengan aksi KNPB. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya ikut aksi ini atas kemauan sendiri, saya tidak ikut siapapun. Karena saya sebagai massa jadi saya harus tunduk pada koordinator aksi walaupun saya seorang gembala jemaat. Jadi saya juga dapat tahan dari Bapak mereka ini (polisi),” tutur Bapak Pendeta Leo.

***

Pada Senin, 2 Mei 2016, massa KNPB melakukan aksi damai untuk menolak peringatan integrasi Papua ke NKRI yang selalu dirayakan pada 1 Mei setiap tahun di Tanah Tabi (Jayapura Raya). Selain itu aksi damai ini juga mendukung usaha IPWP (International Parlement for West Papua) di London, 3 Mei 2016 yang memperjuangkan nasib Papua. Dalam sejarah Indonesia, 1 Mei dirayakan sebagai hari integrasi Papua ke NKRI. Akan tetapi bagi masyarakat Papua hari itu adalah hari aneksasi. Bagi masyarakat Papua yang mengalami langsung kekerasan dan pembunuhan waktu itu dengan tegas menolak hari integrasi tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun oleh SKPKC FP pada tanggal 2 Mei 2016, terjadi penangkapan massa KNPB sebanyak 1.700 orang. Ada tujuh orang dipukul dan disiksa oleh aparat keamanan yang bertugas waktu. Sedangkan data yang dihimpun oleh Tim Dokumentasi KNPB sebanyak 2.024 orang yang ditangkap di Papua. Aksi damai ini terjadi di tanah Papua (Mimika, Jayapura, Wamena, Merauke, Sorong dan Fakfak) dan di luar Papua (Makassar, Yogjakarta dan Semarang).

Massa yang ditahan akhirnya dibebaskan pada malam hari sekitar pukul 21.30 WIT setelah terjadi negosiasi dari semua pihak (pengacara, jaringan koalisi HAM Papua, DPR Papua dan Komnas HAM Perwakilan Papua) dengan pihak aparat keamanan.

Penangkapan massa aksi di depan Denzipur Waena Jayapura
Penangkapan massa aksi
di depan Denzipur Waena Jayapura

Hari itu media online baik itu melalui akun Facebook, Whatsapp, maupun media online mengabarkan peristiwa tersebut. Keesokan harinya, media cetak lokal Papua dan yang lainnya memberitakan kejadian tersebut. Hal yang perlu menjadi catatan adalah pelarangan terhadap media atau jurnalis untuk masuk ke lapangan Brimob Kotaraja, Jayapura untuk meliput penangkapan massal pertama di Papua itu. Dengan gaya dan sudut padangan masing-masing, berbagai media menceritakan segala peristiwa yang berhasil direkamnya.

Sementara itu, pada hari yang sama di Sentani ada sekelompok massa melakukan aksi mengampanyekan bahwa Papua sudah utuh masuk dalam NKRI. Massa ini bergerak dari Makam Theys Elluway menuju ke Kompleks Perkantoran Pemda Kabupaten Jayapura, Gunung Merah. Sepertinya ada aksi provokatif yakni pembakaran bendera Bintang Kejora dan KNPB. Pengamanan aksi ini akan berbeda dengan aksi damai di Kota Abepura yang dilakukan oleh massa KNPB. Terlihat aparat keamanan yang mendampingi massa tersebut tidak menggunakan atribut ‘perang’ seperti pengawalan aksi damai di Abepura. Jurnalis dan media diberikan akses untuk meliput aksi tersebut.

Dua aksi ini sepertinya membenarkan cara pandang seorang aktivis KNPB yang sempat terekam oleh SKPKC FP. Aktivis KNPB, WW menyampaikan pandangannya terhadap kehidupan di Tanah Papua saat ini.

“Kami, orang Papua, itu seperti ada di dalam sebuah aquarium. Di dalam aquarium itu ada ikan lele, mujair, mas, udang, kepiting, dan lain sebagainya. Ada pemilik aquarium itu adalah kolonial dan kapitalis. Pemilik aquarium ini mengambil sebuah lidi dan menusuk ikan mas. Ikan mas akan kaget dan lari tabrak ikan lele, ikan lele kaget dan lari tabrak mujai, mujair lari tabrak udang dan udang mundur tabrak kepiting, dan sebagainya. Kami orang Papua sekarang pada tingkatan itu sekarang ini. Kami diadudomba. Entah itu bicara Papua Merdeka atau tidak, sama saja. Kami orang Papua diperlakukan seperti itu. Kami berbicara karena ini kami punya tanah, kami bicara di tanah kami” ujar WW.

Bagiku, pandangan ini sangat diterima dengan pengalaman dan pergumulan yang dialami oleh kami di Papua. Saya sendiri adalah orang pendatang. Saya juga sering terlibat dalam aksi damai dengan teman-teman di Papua. Apa yang selama kami perjuangkan adalah agar kami punya kedudukan, martabat, hak, dan harga diri yang sama dengan orang lain. Beberapa kali mengikuti aksi, padahal aksi kami damai, bahkan aksi itu menuntut sebuah keadilan, kami selalu ditekan dan dibubarkan. Kami berbicara tentang lingkungan yang rusak, dusun sagu dan hutan yang rusak, aksi kami ditafsirkan sebagai sebuah perlawanan terhadap Negara dan pejabatnya. Aparat Negara menghadang kami dengan senjata lengkap seolah kami adalah penjahat dan seorang teroris. Kami hanya menuntut kebenaran dan keadilan dan kepunyaan kami. Seharusnya, Negara dan pejabatnya bersyukur dan berterima kasih kepada kami karena kami selalu mengingatkan mereka akan kesalahan dan keboborakan mereka, akan kesalahan mereka dalam menerapkan undang-undang atau peraturan yang sebenarnya mereka tetapkan. Papua itu sebenarnya tidak seram, tidak jahat, tidak ganas seperti yang mungkin dipikirkan orang luar.

penghadangan massa oleh polisi di jalan Kampus Uncen Atas Jayapura/Jalan Alternatif,
penghadangan massa oleh polisi di jalan Kampus
Uncen Atas Jayapura/Jalan Alternatif,

Kalau Negara dan pejabat Indonesia membiarkan masyarakat Papua menyuarakan kegetiran, kegelisahan dan penderitaannya pastilah tidak ada dendam, tidak ada saling menyerang dan saling menuduh. Saya sangat yakin dan percaya bahwa masyarakat Papua akan selalu menghargai Negara dan pejabat Indonesia yang ditugaskan di tanah Papua. Mungkinkah kekayaan Papua yang menjadi alasan terkuat untuk merusak tabiat orang luar, Negara dan kroninya?

Anda yang sudah hidup di Papua dan baca tentang Papua pasti memiliki pergumulan dan refleksi. Ini adalah sebagian pergumulan dan refleksiku.

 

Written By

Bernard Koten, lahir di Larantuka, Flores Timur, 30 Mei 1983. Dia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Jayapura, Papua. Sekarang ini, Bernard, sapaannya, bekerja di SKPKC Fransiskan Papua, serta aktif berkegiatan di Komunitas Hiloi Sentani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *