Catatan Presentasi Publik Kabupaten Jayapura

Br. Agus (dua dari kiri) dan para peserta pelatihan ketika berdiskusi setelah pemutaran video.
Kami percaya, komunitas lokal yang mendapatkan wawasan pengetahuan dalam kegiatan ini memiliki niat dan komitmen yang kuat untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

DSCN1791

Tanggal 11 Maret, 2014, giliran teman-teman peserta pelatihan Media Untuk Papua Sehat di Sentani yang unjuk gigi mempresentasikan hasil kerja mereka selama satu bulan. Antusiasme diskusi yang terjadi di aula STPK, Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik, Waena, dua hari sebelumnya, memicu kami yang berada di Sentani untuk menyajikan presentasi karya yang tidak kalah menarik.

IMG_20140310_181346IMG_20140310_185804

Mempersiapkan arsip-arsip untuk pameran.
Mempersiapkan arsip-arsip untuk pameran.

Yang menjadi tujuan utama dari presentasi ini ialah mensosialisasikan ide atau gagasan Program Media Untuk Papua Sehat itu sendiri, yakni manfaat pengetahuan media (atau biasa disebut literasi media) sebagai salah satu cara alternatif untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang terjadi di Papua. Oleh sebab itu, selain untuk menayangkan lima karya video dokumenter hasil kerja lokakarya, teman-teman di Sentani berinisiatif membuat semacam pameran sederhana yang menunjukkan proses kegiatan pelatihan.

IMG_20140311_155832 IMG_20140311_155736 IMG_20140311_154914 IMG_20140310_185822IMG_20140310_185815

Dua layar monitor, tiga papan tulis, menjadi media presentasi pameran. Dengan arahan dari Mahardika Yudha, agen pe-monitor kegiatan Program Media Untuk Papua Sehat dari Forum Lenteng yang turut hadir saat itu, para peserta pelatihan didorong untuk mencoba men-display arsip-arsip yang dikumpulkan selama kegiatan satu bulan. Antara lain kertas-kertas berisi coretan atau sketsa tentang bingkaian isu dan rencana konstruksi video dokumenter, ilustrasi-ilustrasi yang berkaitan dengan isu kesehatan dan pelayanan keseharan puskesmas, dan juga foto-foto dokumentasi selama kegiatan pelatihan, baik yang di dalam kelas maupun di lapangan ketika melakukan shooting.

DSCN1758 DSCN1760 IMG_20140311_164932

Sementara itu, ada juga empat video yang dipamerkan melalui layar monitor. Monitor yang pertama memamerkan video dokumentasi kegiatan pelatihan, sedangkan monitor kedua memamerkan tiga karya video hasil simulasi produksi, berjudul “Membuat Teh di Pagi Hari” (karya Devota Olinger), “Menuju SKPKC Fransiskan Papua” (karya Grace Yogi), dan “Seratus Lima Puluh Ribu Per Hari” (karya Veronika Huby).

DSCN1805

DSCN1782

Kegiatan menempel arsip-arsip tersebut sudah dilakukan sejak malam, tanggal 10 Maret, 2014, dan terus dilanjutkan hingga siang hari, tanggal 11 Maret 2014. Sedangkan display empat video yang dipamerkan melalui monitor dilakukan sekitar dua jam sebelum kegiatan acara dimulai. Ruangan pemutaran dibagi dua, di mana area belakang bangku penonton dijadikan ruang pameran, dengan dibatasi papan tulis. Selain pameran karya arsip, di meja tamu kami juga menyediakan buku katalog dan kumpulan tulisan para peserta beserta stiker berisi kuotasi-kuotasi tentang media dan kesehatan.

P. Paulus, perwakilan dari tuan rumah SKPKC Fransiskan Papua, membuka acara pemutaran.
P. Paulus, perwakilan dari tuan rumah SKPKC Fransiskan Papua, membuka acara pemutaran.

Acara presentasi karya oleh teman-teman di Sentani ini turut mengundang seorang pembicara lokal yang aktif di kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang fokus pada isu ODHA, yaitu Br. Agus Adil OFM dari House Peace. Beliau diminta sebagai penanggap karya yang dipamerkan dalam sesi diskusi setelah pemutaran. Kegiatan pemutaran itu sendiri dimulai sekitar pukul 06:00 WIT, dengan dibuka oleh P. Paulus Tumayang dari SKPKC Fransiskan Papua.

DSCN1804

Ada lima karya video dokumenter yang diputar hari itu. Video yang pertama berjudul “Menyuntik” Masa Depan, yang bercerita tentang kegiatan seorang suster di Puskesmas Depapre yang melakukan imunisasi ke sebuah wilayah bernama Wambena. Video kedua berjudul Puskesmas Manual, yang bercerita tentang pentingnya penggunaan kartu berobat bagi para pasien demi kelancaran proses pengobatan di Puskesmas. Video ketiga berjudul Sang Penyuluh, yang memperlihatkan dokumentasi seorang dokter di Puskesmas Depapre ketika memberikan penyuluhan tentang Infeksi  Menular Seksual dan HIV-Aids kepada mama-mama di daerah Yepase. Video keempat berjudul Si Pendamping, yang bercerita tentang perjuangan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai pendamping ODHA dalam membagi waktunya, baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan pribadi. Khusus untuk video yang keempat ini, tokoh yang di-video-kan adalah Stefanus Abraw, salah seorang peserta pelatihan. Terakhir, video berjudul Tanpamu Terasa Hama, Denganmu Aku Bahagia, yang bercerita tentang aktivitas penimbangan bayi di Pustu Yepase serta profil seorang suster di Puskesmas Depapre.

Ketika lima video dokumenter diputar, saya menangkap bahwa penonton merasa tertarik dengan dua video terakhir. Kisah si pendamping ODHA Stefanus Abraw, cukup menyentuh emosi penonton, terlihat dari tepuk tangan meriah setelah video itu berakhir. Untuk video kelima, tokoh suster, bernama Suster Dorsila, begitu lucu. Penonton tertawa riang ketika menyimak wawancara dengan si suster.

Br. Agus (dua dari kiri) dan para peserta pelatihan ketika berdiskusi setelah pemutaran video.
Br. Agus (dua dari kiri) dan para peserta pelatihan ketika berdiskusi setelah pemutaran video.

Ketertarikan penonton ini pun ditegaskan oleh pembicara lokal. Br. Agus memberikan tanggapan bahwa di antara lima video dokumenter yang diputar, dua video yang terakhir tersebut lebih mengena dan lebih kuat isunya. Menurut beliau, akses yang dimiliki masyarakat terhadap pengetahuan tentang HIV, terkhusus ODHA (Orang dengan HIV-Aids) masih begitu minim. Sosialisasi terkait hal itu masih harus digencarkan. Dan dia begitu mengapresiasi inisiatf dari teman-teman peserta pelatihan, dan khususnya kepada Forum Lenteng sebagai penyelenggara kegiatan, karena beliau juga berpendapat bahwa video memang merupakan medium yang ampuh untuk mengkampanyekan hal itu. Pendapat tersebut juga ditegaskan oleh Veronika Huby, salah seorang peserta pelatihan, yang mengaku bahwa ketertarikannya mengikuti kegiatan ini karena rasa penasarannya dengan medium video. Menurutnya, melalui video, komunikasi kepada masyarakat lebih efektif dan lebih mudah untuk dilakukan.

Selain Br. Agus dan Veronika, dari pihak hadirin, ada juga yang memberikan tanggapan positif. Salah satunya Alexander Techuari, yang menganggap bahwa isu-isu kesehatan memang akan lebih efektif dikampanyekan melalui medium visual. Namun, dia memberikan masukan bahwa aksi seperti ini akan lebih efektif jika video yang diproduksi mampu menghadirkan penggunaan bahasa lokal. Salah seorang hadirin dari Orang Muda Katolik (OMK), sekaligus mewakili pihak RSUD Yowari, dr. Christian, juga memberikan tanggapan positif. Menurutnya, pihak lembaga kesehatan membutuhkan inisiatif-inisiatif warga masyarakat dalam membantu mensosialisasikan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat. Kritik yang dibingkai oleh lima video dokumenter itu pun, oleh dr. Christian, diakui sebagai kekurangan pihak rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya yang memang hingga saat ini masih harus diperbaiki. Dan dia juga menyatakan bahwa jika teman-teman ingin mendapatkan akses informasi yang lebih mendalam, pihak RSUD Yowari siap membantu, agar pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat tepat sasaran.

Apresiasi dalam bentuk kritik juga disampaikan oleh seorang hadirin, bernama Dorkas. Menurutnya, lima video dokumenter yang dihasilkan oleh teman-teman di Sentani masih belum fokus atau terlalu bias jalan ceritanya. Dia memberikan masukan bahwa, mungkin, dengan menggunakan narasi yang disampaikan oleh narator akan memudahkan penonton untuk memahami jalan ceritanya. Kritik ini kemudian ditanggapi oleh Gelar, fasilitator pelatihan, bahwa karya dokumenter sesungguhnya memiliki banyak pilihan bahasa tutur. Apa yang diproduksi oleh teman-teman dalam kegiatan pelatihan ini merupakan salah satu bahasa tutur yang mencoba menawarkan gaya yang berbeda dengan karya dokumenter media massa arus utama (dokumenter TV).

“Kritik tidak perlu disampaikan dengan keras atau marah-marah,” begitulah kira-kira penjelasan Gelar. “Dengan menangkap ujaran spontan dari petugas kesehatan pun kita dapat menghadirkan kritik itu secara halus,” ucapnya dengan memberikan contoh pada video dokumenter berjudul Puskesmas Manual.

“Kita mencoba lebih obyektif dengan merekam perisitwa yang benar-benar nyata terjadi di lapangan, tanpa ada intervensi atau niat meng-adegan-kan peristiwa,” saya mencoba menambahkan.

Br. Edy, ketika memberikan tanggapan dalam sesi diskusi.
Br. Edy, ketika memberikan tanggapan dalam sesi diskusi.

Br. Edy Rosaryanto, direktur SKPKC Fransiskan Papua, juga turut memberikan tanggapan. Menurut beliau, terdapat dua hal penting yang harus diamini dari kegiatan semacam Program Media Untuk Papua Sehat. Pertama, membuka akses luas bagi masyarakat dengan memberdayakan komunitas berbasis media. Kedua, melakukan pendekatan yang sesuai dengan konteks lokal, seperti kode-kode kedaerahan yang bisa dimengerti oleh penduduk asli sehingga informasi yang disampaikan tidak bias.

Pada penghujung diskusi, Br. Agus memberikan tanggapan terakhirnya sebagai penutup. Beliau memaparkan bahwa aksi kampanye pengetahuan kesehatan dengan menggunakan media alternatif tidak boleh berhenti di kegiatan ini saja, tetapi harus terus dilanjutkan hingga menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Sesi diskusi ditutup sekitar pukul 07:30 WIT, dan dilanjutkan dengan acara menyantap kudapan yang sudah dihidangkan, sekaligus tata krama di antara para hadirin. Pada sesi terakhir ini, Yuki Aditya, Manajer Program Media Untuk Papua Sehat juga menyampaikan kepada para hadirin bahwa karya-karya peserta ini akan diperbanyak dan didistribusikan kepada masyarakat Papua secara gratis, terutama kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti puskesmas dan pemangku kebijakan.

Yuki, ketika diwawancarai oleh Bisnis Papua.
Yuki, ketika diwawancarai oleh Bisnis Papua.

Setelah acara selesai, Yuki sempat diwawancarai oleh media massa lokal di Papua, antara lain oleh Suluh Papua, Bisnis Papua dan Radio Elshinta Jayapura. Dalam kesematani tu, Yuki menyampaikan bahwa kegiatan yang telah diselenggarakan Forum Lenteng ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh komunitas peserta pelatihan. Untuk mendukung aksi keberlanjutan itu, Forum Lenteng menghibahkan seperangkat alat yang dapat dimanfaatkan oleh peserta untuk melanjutkan aksi-aksi produksi dan distribusi karya audivisual. Sasaran utamanya ialah mendorong dan meningkatkan keterampilan warga dalam memproduksi informasi dan pengetahuan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai warga lokal.

Meskipun kami, para panitia, sempat kecewa karena tidak semua undangan yang hadir, terutama pihak Puskesmas Sentani dan Depapre, kekecewaan itu seakan terobati dengan jalannya diskusi yang cukup ‘panas’. Baik kritik maupun pujian kami terima sebagai bahan evaluasi untuk melanjutkan kegiatan komunitas ini lebih baik. Selain itu, antusiasme hardirin terhadap karya-karya pameran juga membuat senyum kami semakin lebar.

Acara presentasi karya ini merupakan akhir dari kegiatan pelatihan. Namun, aksi memberdayakan masyarakat dalam mengelola media alternatif untuk membingkai isu-isu sosial masyarakat tidak berhenti di sini. Kami percaya, komunitas lokal yang mendapatkan wawasan pengetahuan dalam kegiatan ini memiliki niat dan komitmen yang kuat untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Written By

Manshur Zikri, lahir di Pekanbaru, 23 Januari 1991. Lulusan S1 Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Saat ini, Zikri aktif di Forum Lenteng sebagai penulis dan peneliti di Program akumassa, serta sebagai fasilitator pelatihan literasi media dalam Program Media Untuk Papua Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *