SERIBU HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Banyak masyarakat Papua belum mengerti tentang seribu hari pertama kehidupan bagi orang Papua. Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak terjadi pembuahan sampai pada usia 2 tahun sehingga proses kehidupan harus di jaga. Cara menjaganya, yakni harus memberikan makanan atau asupan-asupan gizi untuk kehidupan itu. Gizi akan menentukan kualitas anak atau sumber daya manusia sehingga anak-anak Papua tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkualitas”.

(Pdt. Mien Fingkreuw)

Terucap kalimat dari bibir seorang kader Posyandu dan hamba Tuhan. Pendeta Mien Fingkreuw, sapaan akrab untuk perempuan asli Numbay ini. Seorang perempuan pecinta hidup dan kehidupan. Seorang ibu yang punya hasrat cinta untuk masa depan anak-anak Papua.

Suaranya lantang bergema bagaikan desiran ombak menyapa bibir pantai teluk Numbay. Dari dalam rumah Tuhan ia berkisah. Kisah tentang pengalamannya selama 23 tahun sebagai kader Posyandu di kampung Nafri. Pengalaman melahirkan pengetahuan baru. Pengetahuan tentang kehidupan. Pengetahuan akan asupan gizi bagi anak-anak berumur bawah lima tahun (Balita).

Kisah yang panjang—sepanjang jejak langkah kakinya sebagai kader—membuat saya tak mampu menguraikan setiap kata yang terucap, namun ada suatu hal yang paling berkesan bagi saya, yaitu seribu hari pertama kehidupan. Sejauh telinga mendengar dan mata melihat, kisah sang kader saya rangkum untuk dikisahkan kembali dengan tambahan informasi dari media dan juga penutur lain.

***

Tahun 2010 atau lima tahun silam, para pecinta kehidupan meletakkan benih hidup untuk kehidupan dikenal dengan gerakan scalling-up nutrition. Sebuah gerakan di tingkat global, gerakan memaknai pentingnya seribu hari pertama kehidupan. Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak terjadi pembuahan sampai pada usia dua tahun. Atau sejak saat konsepsi (pertemuan sperma dan sel telur), perkembangan janin di dalam kandungan, hingga ulang tahun kedua menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang. Makanan selama kehamilan dapat mempengaruhi fungsi memori, konsentrasi, pengambilan keputusan, intelektual, mood, dan emosi seorang anak di kemudian hari.

Ada sembilan pesan inti seribu hari pertama kehidupan, yaitu

  1. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam
  2. Memeriksa kehamilan 4 x selama kehamilan
  3. Minum tablet tambah darah
  4. Bayi yang baru lahir Inisiasi Menyususi Dini (IMD)
  5. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan
  6. Timbang berat badan bayi secara rutin setiap bulan
  7. Berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi
  8. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun
  9. Berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI.

Seribu hari pertama kehidupan mengingatkan saya akan kisah seorang dokter setahun silam. Tutur-nya (dokter),

Suami istri seharusnya merencanakan kelahiran anak mereka. Mengonsumsi makanan bergizi dan menghindari pola hidup tidak sehat, seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol/minuman keras (miras). Sehingga sperma yang membuahi sel telur adalah sperma unggul dan melahirkan anak berkualitas”.

Seperti halnya petuah sang kader.

“Gizi anak, bagus atau tidak bagus, kembali kepada orang tua. Tidak perlu mahal-mahal. Makanan bergizi bukan berarti ketong (kita) harus beli ayam. Masyarakat Numbay yang hidup di pesisir pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan seharusnya memanfaatkan ikan untuk dikonsumsi. Jangan ikan segar dijual di pasar kemudian membeli ikan sarden. Tahu dan tempe di pasar dijual dengan harga Rp. 2.000. Kacang-kacangan dan sayuran sangat penting untuk melengkapi gizi anak. Mengkonsumsi makanan bukan sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga harus memperhatikan gizi makanan demi pertumbuhan anak”.

***

IMG_2227

Pentingnya seribu hari pertama kehidupan ternyata belum dipahami oleh kebanyakan masyarakat Papua. Masih ada ibu hamil yang enggan memeriksakan usia kehamilan secara dini. Di saat usia kandungan mencapai enam bulan, baru si ibu memeriksakan diri. Demikian kisah dari bukit Numbay, ruang ibu hamil (BUMIL) Puskesmas Tanjung Ria.

Masih dari tempat yang sama, lensa kamera mengintip percakapan suster dan ibu hamil dengan polesan bibir merah siri-pinang. Sebuah petuah suster untuk ibu hamil,

Tidak boleh mengkonsumsi siri-pinang saat hamil demi kesehatan anak dalam kandungan, dan harus mengatur jarak kelahiran anak. Salah satu cara mengatur jarak kelahiran yakni dengan mengikuti program KB. Program KB bukan untuk membatasi angka kelahiran anak, tetapi mengatur jarak kelahiran anak”.

Petuah tersebut merupakan hal yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan ibu hamil dan juga masyarakat Papua, entah disengaja atau memang pengetahuan masyarakat tentang kesehatan masih minim. Seperti kata si ibu kepada suster, “kebobolan”. Kebobolan yang dimaksud bukan tentang Persipura di atas lapangan hijau. Tetapi kehadiran anak yang belum direncanakan karena si ibu baru beberapa bulan melahirkan.

Dari lembah Numbay, di kampung Nafri, sang kader punya kisah. Kisah tentang ibu-ibu enggan membawa anak-anak ke Posyandu dan kisah dua sobat kecil yang datang ke Posyandu tanpa orang tua.

“Ada ibu-ibu hanya menitipkan anak-anak mereka lewat nenek, tante, atau kerabat lain untuk dibawa ke posyandu. Padahal kehadiran seorang ibu di Posyandu sangat penting untuk mengetahui perkembangan gizi anaknya.”

Lain lagi cerita dari perbatasan Kota Jayapura dengan Kabupaten Keerom, “seorang anak datang bersama sahabatnya ke posyandu tanpa ditemani orang tua/kerabatnya. Kisah ini mengundang sedikit senyum bukan lantaran inisiatif si anak datang ke Posyandu melainkan gurauan kecil dua sobat kecil tersebut saat ditimbang, yang mereka anggap sebagai sebuah mainan pengukur berat badan demi masa depan mereka sendiri”.

Semua kisah punya alasan sama, kesibukan aktivitas hingga transportasi menjadi kendala kunjungan ibu hamil ke Puskesmas dan kunjungan ibu ke Posyandu. Alasan yang tak dapat di sanggah karena setiap pribadi punya pergumulan yang tak harus diintervensi. Seperti halnya kata sang kader, “kembali kepada kesadaran orang tua”. Mendengar itu, teman saya, Aloy, mempertegas kisah sang kader, “Kampanye kesehatan bukan hanya tentang pelayanan kesehatan, tetapi juga membangkitkan pemahaman masyarakat akan pentingnya kesehatan”.

***

DSCN1019

Seribu hari pertama kehidupan. Gerakan global yang mesti disuarakan hingga ke pelosok termasuk Papua. Sebuah kisah tentang kehidupan mestinya terus dikisahkan. Agar semua masyarakat mengerti dan beraksi menjaga kehidupan. Seperti pengalaman sang kader, dari ketidaktahuan ia belajar untuk mengetahui, mendengarkan kisah orang lain, belajar dari yang berpengalaman. Lewat pengetahuan yang diperoleh, ia beraksi demi masa depan anak-anak Papua. Semoga kisah seribu hari pertama kehidupan menjadi kisah hidup dan dihidupi demi masa depan anak-anak Papua.

referensi:

(Sumber www.tanyadok.com/kesehatan/ada-apa-…)

www.readersdigest.co.id

www.bidanku.com

 

 

Written By

Yosep Levi lahir 23 Juni 1984 di Wodon, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Ia aktif di berbagai kegiatan sosial dan sering membantu rekan-rekannya di berbagai LSM. Kini ia aktif di program Media Untuk Papua Sehat, Kota Jayapura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *