Penghujung Jalan Di Rumah Kasih

House Peace
Bukan perkara mudah untuk mengembalikan semangat hidup seseorang yang telah runtuh. Bukankan hidup butuh pengakuan dari yang lain? Aku ada karena adanya yang lain, dan ketika aku dan yang lain saling mengakui keberadaan masing-masing melalui interaksi, di situlah aku menemukan keber-ada-anku.

Saya tidak perlu menjadi orang sombong, menghabiskan waktu di tempat ini, dan berpikir hanya saya yang bisa melakukan ini. Tentu nanti Tuhan akan mengirim orang lain, sebab saya yakin masih ada orang yang mau perduli….

Suster Yuli, 19 Februari 2014

***

House Peace
House Peace (Foto: Muhammad Sibawaihi)

Suster Yuli, nama yang tidak asing bagi penghuni House Peace, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura. House Peace merupakan sebutan untuk rumah bagi pasien yang sudah tidak mempunyai harapan hidup. Sesuai namanya, fokus pelayanan di tempat ini adalah pendampingan pasien untuk menerima keadaannya, menemukan kembali harapan hidup atau menerima takdir mereka untuk mati dalam keadaan damai.

Di tempat inilah, perempuan Jawa kelahiran Lampung, 32 tahun silam itu mendedikaskan dirinya dalam pelayanan terhadap pasien yang kehilangan harapan hidup, yakni pasien ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). Dedikasinya terhadap nilai kemanusiaan, menarik perhatian kami untuk mengenal sosok Suster Yuli lebih mendalam, termasuk aktivitasnya sehari-hari di tengah pasien ODHA.

Hari Rabu, saya dan Siba (salah satu tim pendamping dari Forum Lenteng) menemui suster Yuli di House Peace. Wajah ramah dan senyum manisnya menyambut kehadiran kami di House Peace, yang terletak di atas bukit sekitar 100 meter di belakang Rumah Sakit Dian Harapan, Waena. Di dalam ruang tamu berukuran 3×4 Meter, ia membagi pengalamannya selama tujuh tahun melayani pasien ODHA.

“Terjerat” Panggilan Suci

Sebelum menangani pasien ODHA, gadis ini bekerja di rumah bersalin dan UGD (Unit Gawat Darurat) Dian Harapan. Perjumpaannya dengan pengalaman baru, menyaksikan bayi-bayi mungil keluar dari rahim ibu mereka, menyadarkannya arti penting kehidupan. Tanpa disangka, kini ia “terjerat” oleh panggilan suci untuk mendendangkan kidung kehidupan di antara mereka yang kehilangan nada-nada kehidupan.

Suster Yuli ngobrol dengan salah satu pasien ODHA
Suster Yuli ngobrol dengan salah satu pasien ODHA (Foto: Muhammad Sibawaihi)
Menyiapkan makanan untuk para pasien
Menyiapkan makanan untuk para pasien (Foto: Nico Tunjanan)

Semenjak ia berada di House Peace, yang  ia jumpai bukan lagi tangisan awal kehidupan dari bayi yang menggemaskan, tetapi wajah-wajah lesuh sebelum ajal dari orang-orang merindukan nyanyian kehidupan.

23 Agustus, 2007, suster Yuli mengawali tugas pendampingan terhadap 4 pasien ODHA. Awalnya, ia sendiri belum paham tentang ODHA. Tugas yang diembannya pun hanya di tahap perekomendasi solusi untuk mengatasi ketidaknyamanan hidup seorang diri di kos. Tidak disangka, kertas putih kehidupannya nan polos tanpa coretan pena, kini dipenuhi sejuta syair kidung kehidupan dari mereka yang kehilangan harapan. Syair kidung nan indah bukan untuk disimpan, melainkan didendangkan agar setiap telinga yang mendengar dapat terhibur. Kini, kidung itu menyatu dengan sang pelantun, suara yang diperdengarkan semakin merdu karena hati pun ikut memainkan nada-nada.

Belajar Mencintai

Hidup adalah suatu proses yang tidak pernah selesai maka belajar merupakan suatu proses alamiah manusia yang ingin menghidupkan kehidupannya. Demikianlah, wanita lajang ini terus belajar dan mengenal setiap pasiennya. Itu bukan hal mudah. Karena pasien datang dari berbagai latar belakang keluarga, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang mudah patah semangat, manja, sok tahu, tetapi ada juga yang siap menerima kondisinya dan berusaha menemukan kembali semangat hidup.

Bukan perkara mudah untuk mengembalikan semangat hidup seseorang yang telah runtuh. Bukankan hidup butuh pengakuan dari yang lain? Aku ada karena adanya yang lain, dan ketika aku dan yang lain saling mengakui keberadaan masing-masing melalui interaksi, di situlah aku menemukan keber-ada-anku. Adakah pengakuan itu jika kontruksi budaya terlebih dahulu menstigma ODHA?

Memang sulit untuk dipikirkan, teapi saat sebagian masyarakat masih terbawa pada stigma terhadap ODHA, masih ada sosok yang bersedia meluangkan segenap waktu untuk mengakui keberadaan mereka. Itu dilakukan karena cinta.

Ya, cinta butuh pengorbanan! Cinta juga menuntut kesetiaan. Karena itulah Suster Yuli meluangkan segenap waktunya bagi mereka yang rindu akan cinta. Tangan halusnya ikut memainkan melodi cinta, menyuapi pasien ODHA yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang yang, mungkin, akan menjadi tempat terkahir mereka.

Bibir tipisnya terus berkisah membujuk mereka yang kehilangan harapan hidup. Kadang, kisahnya menjadi sumbang di telinga mereka yang sudah putus harapan. Namun, karena cinta telah membutakan matanya, ia pun terus berkisah, bahkan mendendangkan kidung cinta. Suaranya semakin lantang hingga ke pelosok-pelosok, bahkan ke luar negeri Cenderawasih.

Kisah yang menggairahkan dari sang pelantun kidung, membuat saya tersentak kagum.

“Apakah tidak ada rasa kuatir dalam diri suster saat melayani pasien ODHA?” saya bertanya.

“Rasa kuatir pasti ada, namun hanya berlaku bagi mereka yang belum memahami proses penularan dan pencegahan HIV,” jawabnya seraya tersenyum. “Penularan HIV-AIDS tidak segampang penularan TB dan Hepatitis. Penularan HIV terjadi melalui pertukaran cairan, seperti hubungan seks, penggunaan jarum suntik secara bersama, transfusi darah, dan kontak luka  dengan ODHA. Jika mengetahui penularan dan pencegahan, kita akan merasa aman.”

Setelah Tujuh Tahun.

Kidung nan merdu menggetarkan jiwa, mereka yang mendengar pun dibuat terbuai untuk melupakan sejenak bayang-bayang kematian. Kini, kidung itu didendangkan di atas bukit, bersamaan dengan kicauan burung dan hebusan angin di balik pepohonan nan hijau. Alam dan manusia menyatu melahirkan sebuah simfoni indah tentang kehidupan. Hidup adalah pilihan, dan setiap saat kita harus mengambil keputusan untuk memilih, bergantung pada nilai yang hendak dicapai.

Setelah tujuh tahun Suster Yuli mendedikasikan dirinya melayani pasien ODHA di House peace, kini ia pun harus pergi demi tujuan hidup yang telah ia rencanakan. Meskipun ia telah meninggalkan pelayananya, tapi kisahnya tetap hidup di hati setiap pasien yang dilayaninya. Terima kasih suster, atas karya dan pelayananmu.

Suster Yuli
Suster Yuli
Written By

Yosep Levi lahir 23 Juni 1984 di Wodon, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Ia aktif di berbagai kegiatan sosial dan sering membantu rekan-rekannya di berbagai LSM. Kini ia aktif di program Media Untuk Papua Sehat, Kota Jayapura.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *