Obrolan Hangat Pak Firman Bersama Halaman Papua

Kita tidak berbicara tentang HIV-AIDS itu apa, penyebarannya bagaimana dan pencegahannya bagaimana… itu sudah banyak yang menyuarakan. Sekarang kalian lebih melihat bagaimana pelayanan kesehatan itu bisa merangkul semua masyarakat.

Bagasworo sedang memberikan materi tentang produksi video. Mengkerucutkan beberapa ide dan memecahnya kembali menjadi beberapa point. Baru berjalan beberapa saat, tiba-tiba bunyi klakson dari sebuah mobil hitam mengejutkan kami.

“Sepertinya ini orang yang sejak dari tadi sudah kami tunggu”, pikirku dalam hati.

Benar saja, Nico (peserta workshop dan ketua Komunitas Riyana Waena) langsung berdiri menuju pintu dan menyambut kedatangan beliau. Beliau adalah Bapak Firman dari Program Kinerja, USAID. Beliau datang dalam rangka meninjau kegiatan Media Untuk Papua Sehat yang sedang kami jalankan di Waena, Kota Jayapura. Sebuah workshop pemberdayaan media yang diikuti oleh beberapa orang dari berbagai LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) serta beberapa Mahasiswa.

DSCN0379
Kunjungan Pak Firman dari USAID
DSCN0377
Bagasworo sedang menceritakan salah satu film yang pernah diputar di Goethe Institut.

Pak Firman langsung duduk di tengah-tengah kami. Menyapa peserta dengan senyum dan mulai berkenalan. “Workshop-nya sudah sampai mana?” Beliau bertanya kepada kami.

Saya, Paul dan Komeng (sapaan Bagasworo) menjelaskan secara bergantian. Kami menunjukan beberapa catatan selama proses workshop yang tertempel di dinding. Kami memberikan informasi kepada beliau bagaimana proses workshop mulai dari bagaimana peserta bercerita prihal kesehatan, menuliskan cerita tersebut sampai melakukan riset untuk data tulisan.

Beliau mengangguk-angguk melihat catatan-catatn di dinding sambil mengatakan, “Mantap… Mantap!” Sesekali beliau membaca apa saja tulisan yang ada di dinding, tentang penjabaran pemetaan Puskemas di Waena, jadwal kunjungan ke Puskesmas, hasil riset di Puskesmas Perumnas I Waena, House Peace, Suster Yuli, Dokter 1.000 dan beberapa catatan penting lainnya.

DSCN0385
Siba menunjukan tulisan dari peserta workshop
DSCN0386
Pak Firman sedang melihat salah satu tulisan peserta workshop

“Berarti sudah mulai menulis, ya?” tanya Pak Firman. “Boleh saya lihat salah satu tulisan peserta, gak?”

Tentu pertanyaan dan permintaan itu saya sambut dengan senyum. “Silahkan, Pak…!” saya mengajak beliau membuka file tulisan yang sudah terfolder rapi.

Kebetulan, beberapa saat sebelum ia datang, saya sedang memperbaiki tulisan Agustina, salah seorang peserta perempuan dari Kotaraja, maka tulisan itulah yang saya perlihatkan kepada Pak Firman.

“Ini tulisan pertama Ance (panggilan Agustina), Pak!” kataku.

“Oh, ini tulisan pertamamu? Bagus sekali. Story-telling-nya bagus,” kata Pak Firman mengapresiasi tulisan Ance. “Jadi ,yang ditulis jangan yang buruk-buruk saja. Seperti tulisan ini, kalau memang pelayanan suatu Puskesmas baik, ya…bilang baik. Jika tidak baik, katakan tidak baik…” Pernyataan Pak Firman ditanggapi dengan anggukan dan senyum dari peserta yang lain.

“Kalau yang ini berdasarkan pengalaman, Pak!” saya menjelaskan. “Ada juga tulisan yang berdasarkan riset, seperti tulisan Alloycius, yang baru kami upload kemarin, Pak.”

Beliau mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu.

Selanjutnya, Paul memperlihatkan dokumentasi kegiatan selama workshop berlangsung, baik dokumentasi foto maupun video. Kemudian, Pak Firman mengarahkan pembicaraan ke ide video. Paul menjelaskan beberapa hasil diskusi dan riset, diantaranya tentang Kesadaran Ibu ODHA Hamil, Pelayanan Puskesmas Pembantu (Pustu) Terhadap Kesehatan Ibu dan Anak di Pelosok. Nico juga menambahkan tentang ide Dokter 1.000 dan House Peace.

DSCN0374

Nico melanjutkan cerita bahwa kelompok belajar Kota Jayapura sudah membentuk komunitas, bernama Riyana Waena.

“Itu artinya apa?” Pak Firman bertanya.

Kemudian Yosep menjelaskan bagaimana proses awal terbentuknya komunitas sampai akhirnya menemukan kata Riyana dan Waena sebagai nama komunitas mereka. Pak Firman sangat senang dengan terbentuknya komunitas ini. Sepertinya, dengan adanya komunitas ini, akan ada harapan untuk terus menyuarakan perubahan pelayanan kesehatan di Papua. Kemudian, Pak Firman memberikan saran terkait hal-hal teknis kepada peserta, terutama bagaimana mereka akan bergerak selanjutnya. Hal-hal yang penting dari apa yang beliau ucapkan tidak bisa saya rangkum semua, tetapi paling tidak ada beberapa hal yang saya catat.

Beliau menegaskan secara teknis bagaimana komunitas ini bergerak ke depan. Misalnya, mengkomparasikan komunitas ini dengan LSM lain yang sudah banyaknya di Papua.

“Kita tidak berbicara tentang HIV-AIDS itu apa, penyebarannya bagaimana dan pencegahannya bagaimana… Itu sudah banyak yang menyuarakan,” jelas Pak Firman. “Sekarang kalian lebih melihat bagaimana pelayanan kesehatan itu bisa merangkul semua masyarakat. Kan, bagus itu, kalau misalnya bisa bikin video atau film tentang bagaimana kesadaran masyarakat terhadap HIV-AIDS, Kesehatan Ibu dan Anak, Malaria dan lain-lain. Apalagi bisa melihat bagaimana masalah itu bisa muncul dan melihat solusinya seperti apa. Saya berharap tempat ini bisa dijadikan Media Centre untuk bicara masalah kesehatan di Papua…” begitulah kira-kira penjelasannya.

Kurang lebih itu yang bisa saya tangkap dari himbauan Pak Firman. Peserta mendengarkan dengan serius apa yang disampaikan Pak Firman. Sebab, setahu saya, motivasi dibentuknya komunitas ini adalah persis seperti apa yang disampaikan oleh Pak Firman.

Setelah cukup lama berada bersama kami, Pak Firman mohon pamit. Sebelum beranjak, beliau menyempatkan memeriksa beberapa perlengkapan yang akan dihibahkan ke peserta. Beliau menanyakan berapa banyak kamera, komputer dan perlengkapan lainnya. Beliau meyampaikan harapannya kepada peserta untuk bisa memanfaatkan peralatan-peralatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Bahkan, beliau menegaskan, setelah program ini selesai, apa yang sedang mereka kerjakan tidak berakhir begitu saja.

Beliau kembali melanjutkan mengobrol tentang penyewaan rumah yang sedang kami tempati. Sepertinya, semakin menarik perbincangan kami. Pak Firman juga menyinggung sebuah film tentang Papua yang pernah ia tonton di Goethe Institut. Kebetulan, Komeng adalah editor film itu, dan dia menceritakan film tersebut kepada kami semua.

“Bagus juga kalau nanti hasil workshop ini bisa diputar di Jakarta, kan…?!” seru Pak firman.

Pak Firman terlihat enggan untuk cepat beranjak. Namun, beliau harus segera ke TVRI Jayapura. Beliau berpamitan sambil memberikan motivasi kepada peserta. Beliau berharap agar bisa berjumpa lagi di lain waktu.

Written By

Muhammad Sibawaihi, lahir 20 Mei, 1988, di Pemenang, Lombok Utara. Siba, sapaannya, merupakan seorang aktivis literasi media yang aktif di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara. Selain sering melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat berbasis media, Siba juga merupakan seorang guru sekolah di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah. Siba juga aktif menjadi penulis di akumassa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *