Jangan Bunyikan Lonceng Kematianku Lebih Awal, Ibu…

Kondisi ruang Pustu dengan obat-obatan seadanya
Minimnya kesadaran orang tua tentang hidup sehat, berdampak pada kesehatan anak atau keturunan mereka.

Oktober, 2013, lalu, saya dan beberapa teman dilibatkan oleh salah satu LSM untuk mengambil data Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Publik, khususnya bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur (jalan dan air bersih) di Kabupaten Keerom. Jarak tempuh dari kota Jayapura ke Kabupaten Keerom sekitar 50 Km atau 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Berdasarkan hasil pembagian wilayah penelitian, saya ditempatkan di Kampung Amgotro, Distrik Web, Kabupaten Keerom. Dengan kendaraan pribadi (motor), jarak tempuh yang dibutuhkan sektiar 5 jam dari ibu kota Kabupaten Keerom, Arso.

Warga menunggu pelayanan di Pustu AMgatro
Warga menunggu pelayanan di Pustu AMgatro

Kampung Amgotro dihuni oleh penduduk asli, dengan mata pencaharian berburu dan meramu hasil hutan. Sebagai masyarakat bercorak tradisional, orang Amgotro masih percaya akan dunia magis. Konsep sakit dan penyakit pun diasosiasikan dengan kekuatan supranatural yang menurut istilah setempat di sebut sinas. Jika seorang menderita sakit, maka pertanyaan utama yang muncul,  yakni siapa penyebabnya? Konsep ini berbanding terbalik dengan istilah medis modern. Menurut WHO, sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan.

Di wilayah ini, terdapat sebuah pusat kesehatan masyarakat pembantu, atau Puskesmas Pembantu (biasa disingkat Pustu) yang dilayani oleh seorang mantri. Sementara itu, puskemas terletak di ibukota distrik, yakni Kampung Ubrub, yang jarak tempuhnya sekitar 3 jam perjalanan kaki. Menurut pengalaman masyarakat Amgotro, pelayanan di Pustu tidak berjalan efektif, karena petugas jarang berada di tempat. Saat melayani pasien, petugas tidak menyebutkan jenis penyakit yang diderita, apa penyebab dan pantangan yang harus dilakukan agar segera sembuh dari penyakit. Petugas hanya memberi obat untuk diminum oleh pasien. Obat yang diminum kadang manjur, kadang tidak manjur (tidak sembuh). Bila pasien tidak mengalami kesembuhan atau meninggal maka anggapan masyarakat bahwa penyebabnya adalah sinas. Sehingga, muncullah sikap saling curiga antar warga dan menyebabkan disharmoni relasi dalam masyarakat.

Kondisi ruang Pustu dengan obat-obatan seadanya
Kondisi ruang Pustu dengan obat-obatan seadanya

Dari pengalaman terhadap pelayanan kesehatan tersebut, masyarakat Amgotro mengharapkan bahwa tenaga medis yang ditempatkan di kampung seharusnya tidak berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Alasannya, seorang PNS, baik yang melaksanakan tugas maupun tidak, tetap mendapat gaji setiap bulan. Faktanya, banyak PNS, baik yang tenaga kesehatan maupun guru, tidak berada di tempat tugas.

Di samping pelayanan kesehatan yang kurang optimal, kesadaran masyarakat Amgotro tentang hidup sehat juga masih minim. Beberapa hal yang saya amati, sebagian besar masyarakat Amgotro adalah  perokok aktif. Rokok yang sering dihisap adalah rokok daun (sejenis daun yang digulung seukuran cerutu, lalu dihisap). Ada juga ibu-ibu hamil yang sering menghisap rokok daun.

Selain itu, tradisi masyarakt Papua yang suka mengkonsumsi sirih pinang, juga saya temukan di kampung ini. Dalam kepercayaan orang Papua, mengkomsumsi sirih pinang  merupakan suatu simbol keakraban dalam relasi antar warga. Tidak heran, bila sejak kanak-kanak, orang Amgotro sudah dibiasakan makan siri pinang. Di samping itu, generasi muda Amgotro selalu mengkonsumsi minuman keras (miras) yang mereka beli dari Kota Jayapura maupun Arso (ibukota Kabupaten Keerom). Menurut pemahaman medis, mengkonsumsi rokok, sirih pinang dan minuman keras secara berlebihan, bisa berdampak tidak baik untuk kesehatan.

Sayangnya, gaya hidup masyarakat di Amgatro yang kurang sehat tidak diimbangi dengan asupan gizi yang baik dan pola makan teratur. Padahal, sayur-sayuran lokal sebenarnya banyak tersedia untuk dikonsumsi, namun seringkali diabaikan dan diganti dengan makanan instan dari  pabrik, seperti, mie dan sarden. Mie instan dan sarden dimasak lalu dimakan dengan nasi atau papeda, yakni makanan yang diolah dari pohon sagu. Dalam satu hari, mereka hanya makan satu hingga dua kali, yakni siang dan malam. Hal ini bukan hanya berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak dan ibu hamil. Fenomena ini menunjukan bahwa asupan gizi yang masuk tidak seimbang dengan besarnya energi yang dikeluarkan sehingga daya tahan tubuh tidak efektif. Apalagi kalau kita menimbang pekerjaan mereka yang keluar masuk hutan.

Minimnya kesadaran orang tua tentang hidup sehat, berdampak pada kesehatan anak atau keturunan mereka. Anak-anak sekolah tidak berkonsentrasi saat menerima pelajaran di sekolah. Anak-anak balita mengalami gizi buruk, bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, kehadiran tenaga medis di kampung diharapkan bukan sekedar memberi obat bagi pasien, tetapi harus memberi sosialisasi tentang cara hidup sehat dan pola makan teratur dengan gizi yang seimbang. Dengan demikian, masyarakat sadar pentingnya kesehatan dan dapat mempraktekkannya dalam hidup harian mereka.

Kematian memang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa saja membunyikan lonceng kematian lebih awal bila kita mengabaikan kesehatan.

Written By

Yosep Levi lahir 23 Juni 1984 di Wodon, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Ia aktif di berbagai kegiatan sosial dan sering membantu rekan-rekannya di berbagai LSM. Kini ia aktif di program Media Untuk Papua Sehat, Kota Jayapura.

2 Comments

  • hanya membutuhkan waktu 1,5 jam untuk menempuh kabupaten keerom dari Kota Jayapura propinsi Papua dan di Arso Keerom merupakan daerah transmigrasi segingga dari sana kaya akan hasil pertanian seperti sayur-mayur, buah2 han dan bumbu2
    dan boleh di katakan justru Keeromlah yang menjadi pemasok halis pertanian bagi ibu kota propunsi Papua kesehatan dan kemakmuran di keerom sudah memuaskan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *