Ini, Bukan Kutukan!

Layanan kesehatan mengenai penanganan dan penanggulangan masalah HIV-AIDS di Jayapura sebenarnya sudah marak di sosialisasikan sejak awal tahun 2000-an

Satu hari petugas kesehatan dari pusat datang ke satu kampung. Kemudian petugas kesehatan tersebut meminta kepada masyarakat kampung untuk berkumpul di satu tempat kerena akan diadakan penyuluhan informasi HIV& AIDS.  Ketika petugas kesehatan sedang memberikan sosialisasi, apa itu HIV &AIDS, ada salah satu warga yang memberikan usulan kepada petugas kesehatan.  

Bapak itu berkata dengan suara yang keras dan lantang:

“Hei, Bapak pembawa sosialisasi di depan! Tolong, Bapak, kalau bisa HIV AIDS  itu langsung saja dibagi ke masyarakat kampung ini. Jangan ditunda-tunda lagi! Karena kalau dikasih ke kota, bisa-bisa nanti di kampung ini cuma dapat yang sisa-sias saja!’’ Tolonglah eehhh, Bapak…!!!

                                                                                                                                        ***

ILUSTRASI 1
Ilustrasi: Muhammad Sibawaihi

Layanan kesehatan mengenai penanganan dan penanggulangan masalah  HIV-AIDS di Jayapura sebenarnya sudah marak di sosialisasikan sejak awal tahun 2000-an. Informasi tentang bagaimana cara menangani bukan saja masuk melalui media cetak, tetapi juga melalui televisi dan radio. Begitupun sosialisasi dari  instansi kesehatan. Setiap puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kota Jayapura, gencar melakukan sosialisasi mengenai HIV-AIDS. Sekarang layanan pemeriksaan HIV&AIDS bagi yang ingin memeriksa tidak dikenakan biaya.

ILUSTRASI 2
Ilustrasi: Gerson

Saya sendiri adalah seorang petugas lapangan (sukarelawan) yang sering memberikan sosialisasi mengenai masalah HIV& AIDS. Empat tahun menjadi sukarelawan  di LSM kesehatan, tentunya banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika turun ke lapangan saat melakukan sosialisasi. Salah satu yang saya ingat, saat kegiatan dari LSM  di kota Jayapura, tepatnya di Komplek Polimak. Seorang anak muda  yang saya temui berkata bahwa HIV-AIDS itu merupakan penyakit kutukan, atau penyakit yang disebabkan seseorang tidak patuh pada agamanya. Saya sangat kaget mendengar  pernyataan tersebut. Pada waktu itu, saya sedang menyampaikan  sosialisasi dengan cara berdiskusi dengan anak muda. Beberapa anak muda yang ada disana juga setuju dengan peryatan itu. Kemudian saya mencoba untuk meluruskan persepsi mereka, bahwa sebetulnya HIV-AIDS itu bukanlah penyakit kutukan. Tetapi,  HIV-AIDS itu ada di dalam tubuh seseorang yang terinfeksi kerena perilaku hidupnya tidak karuan. Seperti suka mabuk kemudian berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, serta tidak mengunakan pengaman/ kondom.

Sayangnya,  mereka masih tidak menerima informasi yang sudah saya berikan.  Mengapa mereka tidak menerimanya?  Selama ini  yang mereka tahu bahwa orang yang terinfeksi HIV-AIDS itu orang-orang yang jauh dari tuhan. Asumsi ini sudah sangat akrab  dalam kehidupan masyarakat, apalagi mereka yang jauh dari perkotaan.  Terinfeksi HIV-AIDS seperti balasan atas ketidaktaatan mereka kepada tuhan. Sehingga mereka  layak  mendapatkan penyakit  tersebut. Saya pun terkesan dengan jawabannya. Saya pun berfikir, apakah benar HIV-AIDS itu balasan atas perilaku yang tidak baik selama hidup?

Ilustrasi: Muhammad Sibawaihi
Ilustrasi: Muhammad Sibawaihi

Meski ada keraguan dalam diri, saya tetap  mencoba untuk meluruskan persepsi itu. Saya terus mensosialisasikan bagaimana penularan HIV-AIDS. HIV-AIDS menular bukan hanya melalui hubungan seks yang tidak aman (berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan pengaman atau kondom). Tetapi,  HIV&AIDS itu juga bisa menular melalui transfusi darah yang tidak steril.

Karena keterbatasan waktu,  mengingat juga anak-anak muda itu  punya aktifitas masing-masing, saya pun memberikan pesan kepada mereka “mari kita priksakan diri kalau rasa diri kita pernah melakukan seks yang beresiko HIV-AIDS !”.

Written By

M. Iqbal Akbar, lahir di Jayapura, 2 Februari 1990. Hobi bermain sepakbola dan memperkuat tim Azzuri Batu Putih, Jayapura. Sekarang aktif berkegiatan di LSM Noken Papua sebagai pendamping ODHA. Dia juga terlibat dalam Media Untuk Papua Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *