Catatan Presentasi Publik Kota Jayapura

Pemutaran filem dokumenter hasil pelatihan Media Untuk Papua Sehat.
Semoga apa yang kami berikan untuk tanah Papua, meski hanya sedikit, tetap bernilai. Kami juga berharap suatu saat, akan lebih banyak orang mau mau membingkai masalah kesehatan dan masalah apapun di Papua, untuk bersama-sama menemukan solusi.
Pemutaran filem dokumenter hasil pelatihan Media Untuk Papua Sehat.
Pemutaran filem dokumenter hasil pelatihan Media Untuk Papua Sehat.

Minggu, 9 Maret 2014, Gedung Aula STPK ST. Yohanes Rasul, menjadi saksi bisu bagaimana proses yang sudah dilalui oleh Komunitas Riyana Waena selama satu bulan melaksanakan workshop Media Untuk Papua Sehat, wilayah Kota Jayapura. Lahirnya Komunitas Riyana Waena sebagai bentuk keprihatinan terhadap masalah kesehatan di Papua, di mana isu ini belum mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak.

DSCN1641

Di lantai empat kampus STPK, kami, Komunitas Riyana Waena mengadakan  pemutaran filem dan diskusi hasil proses workshop yang kami jalankan bersama para fasilitator dari Forum Lenteng Jakarta. Selain untuk memperkenalkan Komunitas Riyana Waena, dari kegiatan ini juga kami ingin membuka isu-isu kesehatan yang saat ini sedang terjadi kepada keluarga kami, pemerintah dan masyarakat di Kota Jayapura.  Dalam kegiatan itu, hadir tamu-tamu undangan dari berbagai kalangan, antara lain ketua UP2KP (Unit Percepatan Pelaksanaan Kesehatan di Papua) yang juga merupakan Ketua Dinas Kesehatan Kota Jayapura, beberapa anggota LSM di kota Jayapura, wartawan, teman-teman Kinerja, mahasiswa/i dan para narasumber.

Gapura menuju Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik.
Gapura menuju Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik, Taruna Bakti, Waena, Kota Jayapura.
Poster publikasi pemutaran filem dokumenter Kota Jayapura yang mengangkat isu kesehatan.
Poster publikasi pemutaran filem dokumenter Kota Jayapura yang mengangkat isu kesehatan.

Kegiatan pemutaran filem dan diskusi ini dimulai kurang lebih pukul 18.00 Waktu Indonesia Timur (WIT). Diawali dengan sambutan pertama oleh manajer lokasi dari Forum Lenteng, saudara Yuki, yang menjelaskan sedikit-banyak tentang proses kerjasama yang terjalin antara berbagai pihak sehingga dapat terlaksananya workshop dan terbentuknya Komunitas Riyana Waena. Kedua, sambutan dari ketua Komunitas  Riyana Waena, saudara Nico Tunjanan. Nico sendiri menjelaskan apa itu Riyana Waena, visi-misi, dan sedikit menyinggung proses serta fokus perhatian selama workshop. Sedikit canggung juga ketika tiba-tiba Nico memanggil dan memperkenalkan para anggota komunitas dan para fasilitator di hadapan para hadirin.  Kegiatan lalu dilanjutkan dengan pemutaran filem.

DSCN1648
Nico Tunjanan, ketua Komunitas Riyana Waena, memberikan kata sambutan.

DSCN1650

Ada enam filem yang ditontonkan kepada para tamu undangan. Filem-filem tersebut merupakan film yang diambil di wilayah Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom. Setiap filem mengangkat isu yang berbeda dari video yang lain:  satu atau dua isu kesehatan yang ada di masing-masing tempat, tetapi secara khusus dalam ruang lingkup persoalan tentang kesehatan Ibu dan anak serta HIV-AIDS. Pemutaran ini berlangsung hampir satu jam lamanya. Selama pemutaran, terlihat hampir semua tamu undangan menyimak dengan serius. Beberapa penonton, saya lihat, tersenyum-senym ketika mendengar penuturan dari para narasumber yang kami wawancara. Bahkan, ketika pemutaran filem Rumah Kasih, seluruh undangan terdiam ketika mendengar cerita Suster Yuli. Namun, sayang sekali, beberapa pengunjung harus pulang terlebih dahulu karena terbentur jadwal kegiatan lain. Akan tetapi secara keseluruhan, pemutaran berjalan dengan sangat baik dan lancar.

Filem dokumenter "Aman Itu Sehat"
Filem dokumenter “Aman Itu Sehat”

Adapun filem-filem yang kami putar adalah, Aman Itu Sehat yang mengisahkan bagaimana suster Maniagasi meninggalkan pelayanan di Pustu Buper karena masalah keamanan. Selanjutnya, filem Kalian Kemana?. Filem ini menceritakan bagaimana kondisi pekerja kesehatan di Rumah Sakit Arso yang kebanyakan adalah pendatang.

Filem dokumenter, "Kutunggu
Filem dokumenter, “Aku Menunggu Demi Kesehatan Anakku”.

Untuk masalah kesehatan Ibu dan Anak, kami memutar Aku Menunggu Demi Kesehatan Anakku. Filem ini berbicara tentang bagaimana kondisi ruang tunggu di Puskesmas Waena, dengan keadaan ruang tunggu yang sempit, ibu-ibu rela berdesak-desakan, menunggu panggilan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Selanjutnya filem Pesan Sehat Dari Suster, yang menceritakan bagaimana dua orang suster yang menyampaikan pesan kepada masyarakat Papua untuk peduli terhadap kesehatan diri dan keluarganya.

Filem kelima adalah cerita dari ODHA yang ingin menunjukan kepada masyarakat  bahwa, orang yang terkena HIV-AIDS pun mampu bekerja selayaknya orang yang tidak terkena HIV-AIDS. Karena merasa hal ini sangat penting, kami langsung mengundang narasumber dalam filem itu, untuk berbagi pengalamannya setelah pemutaran selesai. Filem terakhir, yaitu Rumah Kasih. Ini filem favorit saya. Sangat menyentuh dan dramatik.  Bahkan, ketika diputar semua penonton terdiam melihat gambar-gambar dari cerita filem itu.

Selama pemutaran, terdengar  diskusi kecil antara para tamu undangan yang duduk berdampingan. Selain itu, suara tawa juga mengiringi beberapa adegan lucu, dan diikuti oleh suasana terdiam ketika ada adegan-adegan yang menyentuh hati mereka.

Seperti itu kiranya gambaran suasana ketika pemutaran hasil workshop Media Untuk Papua Sehat, Kota Jayapura.

John Matiyus,
John Matius, tokoh di dalam filem “Masih Ada Hari Esok”, sekaligus menjadi pembiacara lokal dalam acara pemutaran.

Setelah semua filem diputar, kegiatan dilanjutkan dengan kesaksian hidup dari Pak John Matius, seorang narasumber kami yang sebagian kehidupannya telah kami filemkan. Ia adalah seorang OHDA yang berjuang menemukan kembali semangat hidup dari segala keterpurukan mental dan kesehatan yang pernah dialaminya akibat terserang HIV pada 2007 silam. Setelah kesaksian dari Pak John, kami lanjutkan dengan diskusi bersama antara Komunitas Riyana Waena, para fasilitator dan para tamu undangan.

Ketua Dinas
dr. Aloysius Giayai, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua), turut hadir dalam acara pemutaran.

Yang menarik dalam diskusi ini adalah tanggapan dari Bapak dr. Aloysius Giayai (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua) terhadap kelompok ini. Menurutnya, apa yang telah dilakukan oleh Komunitas Riyana Waena merupakan sebuah tindakan yang sangat baik karena kepedulian tehadap kesehatan masyarakat Papua. Apalagi, hal ini dilakukan oleh kelompok awam seperti kami. Ia sangat mengaspresiasi apa yang kami lakukan. Ia menilai bahwa apa yang telah dilakukan oleh Komunitas Riayan Waena sebenarnya baru langkah awal dalam penanganan masalah kesehatan di Papua. Semua ini belum merupakan solusi, tetapi merupakan langkah awal untuk menemukan solusi itu. Oleh sebab itu, ia juga berjanji untuk membangun kemitraan kerjasama dengan Komunitas Riyana Waena dalam rangka membangun kesehatan di tanah Papua.

Selain dr. Alo, ada beberapa pertanyaan dari para tamu undangan yang menghangatkan sesi diskusi malam itu.  Misalnya, tentang motivasi kelompok untuk terjun dalam masalah kesehatan di Papua, perasaan puaskah terhadap hasil yang telah dicapai, dan bagaimana rencana kami ke depannya. Tidak ketinggalan juga, Pak John, nara sumber kami ikut mendapat pertanyaan seputar kehidupan dan obat-obat yang dikonsumsinya.

Anggota Komunitas Riyana Waena.
Anggota Komunitas Riyana Waena.

Acara diskusi terus berjalan. Tak terasa, waktu telah menunjukan hampir pukul 09.00 WIT, dan kegiatan harus berakhir. Tak mau mengambil resiko molornya waktu kegiatan ini, sang manejer lokasi pun berdiri dan dengan sopan mengakhir kegiatan ini dengan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan, sambil mempersilahkan para tamu undangan untuk menyantap berbagai kue yang telah disediakan di meja belakang. Spontan, para tamu undangan pun berdiri dari tempat duduk masing-masing, ada yang langsung pulang dan ada yang masih menyempatkan diri menyantap hidangan sambil berbincang-bincang satu dengan yang lainnya.

Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya dan Komunitas Riyana Waena. Memutar karya dan diapresiasi oleh orang lain. Semoga apa yang kami berikan untuk tanah Papua, meski hanya sedikit, tetap bernilai. Kami juga berharap suatu saat, akan lebih banyak orang mau mau membingkai masalah kesehatan dan masalah apapun di Papua, untuk bersama-sama menemukan solusi.

Written By

ALLOYSIUS RAHAWADAN, lahir di Sorong, 17 Agsutus 1986. Menyelesaikan pendidikan TK-SMA di Sorong. Tahun2006  melanjutkankuliah di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Theology), Jayapura. Gemar menulis dan membaca. Sekarang, aktif menulis lewat Media Untuk Papua Sehat.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *