Rekaman Suara: Pahami HIV untuk Cegah Penularannya

dr. Daniel ketika melakukan penyuluhan ke Pustu Yepase.
dr. Daniel Siagian, Kepala Puskesmas Sentani, ketika memberikan penyuluhan kepada mama-mama masyarakat Yepase, menjelaskan empat hal yang dapat menularkan HIV dan keterkaitannya dengan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS).
dr. Daniel ketika melakukan penyuluhan ke Pustu Yepase.
dr. Daniel ketika melakukan penyuluhan ke Pustu Yepase.

Rekaman suara ini merupakan arsip riset yang didapatkan oleh tim Halaman Papua dan peserta pelatihan Program Media Untuk Papua Sehat ketika melakukan observasi di Pustu/Posyandu Yepase, Depapre. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 2 Maret, 2014, berbarengan dengan jadwal puskesmas keliling (pusling) Puskesmas Depapre.

Dalam potongan rekaman suara ini, dr. Daniel Siagian, Kepala Puskesmas Sentani, ketika memberikan penyuluhan kepada mama-mama masyarakat Yepase, menjelaskan empat hal yang dapat menularkan HIV dan keterkaitannya dengan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Sang dokter juga tak bosan-bosannya menghimbau masyarakat untuk peka terhadap tanda-tanda penyakit tersebut, dan cepat tanggap, jika ada merasakan tanda-tandanya atau kenalan yang mengeluh demikian, agar memeriksakannya ke puskesmas.

dr. Daniel: “Penularan HIV. Tadi saya bilang, pegangan tidak, toh? Penularannya itu hanya ini, satu, dua, tiga…, ada empat. Yang pertama, penularan itu melalui hubungan seksual. Dia berhubungan sembarangan di luar, suami tidak setia dengan isteri atau pun isteri tidak setia dengan suami. Yang kedua, dari jarum suntik. Kalau di puskesmas, kita pakai jarum suntik, setelah kita buka untuk dipakai ke satu orang, langsung kita buang. Kita tidak pernah pakai dari satu orang ke satu orang lagi. Di puskesmas kita sudah begitu, di mana pun sudah begitu. Kemudian, yang paling sering tertular dengan jarum suntik adalah orang-orang pengguna narkoba. Kalau orang narkobaan, dia pakai jarum suntik secara bersama-sama, sehingga semuanya bisa tertular hanya dengan satu jarum suntik. Kemudian, dari transfusi darah. Ini, sampai sekarang, kalau di rumah sakit, ada pemeriksaan-pemeriksaan khusus. Jadi, kalau transfusi darah, kita ada kriterianya. Tidak sembarangan. Pasien yang sudah punya riwayat HIV, kita tidak akan menggunakan darahnya. Kemudian ini, ibu yang hamil yang terinfeksi pada anak yang dikandungnya. Bagi seorang ibu yang sudah terinfeksi HIV, anaknya ini bisa tertular jikalau ibunya tidak kontrol kesehatannya dan tidak minum obat untuk pencegahan penularan ke bayinya. Jadi, kalau ada pasien HIV yang sedang mengandung, ibu-ibu bisa kasih saran agar dia rajin untuk melakukan pengobatan ke rumah sakit. Jadi, itu peranan masyarakat dan kita di sini, harus merangkul semuanya agar kehidupan masyarakat bisa baik. Habisnya, kalau saya bicara soal ini ke masyarakat, HIV itu masih dianggap tabu sekali. Padahal, ini penyakit yang kita harus tidak boleh jauhi orangnya. Kasian si pasien. Kita harus merangkul dia, kita ajak dia melakukan pengobatan, ubah pola hidupnya dia. Itu yang paling dokter paling galakkan di sini karena infeksi menular seksual itu merupakan pintu masuk terjadinya penyakit ini (HIV-Aids). Kalau kita curiga dia terkena infeksi menular seksual, seperti kencing nanah dan segala macam, kita akan sarankan dia untuk tes HIV. Karena itu pintu masuknya. Pintu masuk kuman ini, kan melalui hubungan seksual itu. Oleh karena itu, jika ada ciri-ciri begitu, siapa pun yang mama lihat, ada yang mengeluh begitu di masyarakat, langsung suruh ke puskesmas. Kita akan periksa. Kita sama-sama jaga mereka.”

Written By

Manshur Zikri, lahir di Pekanbaru, 23 Januari 1991. Lulusan S1 Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Saat ini, Zikri aktif di Forum Lenteng sebagai penulis dan peneliti di Program akumassa, serta sebagai fasilitator pelatihan literasi media dalam Program Media Untuk Papua Sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *